TOMBAKOPINI: IAB
Mari kita ngobrol santai tentang makhluk kecil yang setiap hari ada di sekitar kita, tetapi sering luput dari perhatian. Namanya burung gereja.
Nah, soal nama ini saja sebenarnya sudah cukup mengundang tanda tanya.
Di Indonesia, burung gereja sudah puluhan bahkan ratusan tahun bersarang di masjid. Nongkrongnya di kubah masjid. Tidurnya di plafon masjid. Mainnya di halaman masjid. Bangun pagi dengar azan. Sore hari juga masih di situ.
Tapi namanya tetap burung gereja.
Kalau dipikir-pikir, bukankah sudah sewajarnya dia ganti nama menjadi “burung masjid”? Atau mungkin dimuallafkan dulu secara resmi. Dibuatkan sertifikat, lalu diumumkan setelah salat Jumat.
Tentu saja ini cuma guyonan sambil ngopi.
Burung gereja atau sparrow merupakan salah satu burung kecil yang paling banyak hidup berdampingan dengan manusia. Penampilannya sederhana sekali. Badannya mungil, bulunya cokelat keabu-abuan, ekornya pendek, dan paruhnya cukup kuat.
Kalau dunia burung mengadakan kontes kecantikan, kemungkinan besar burung gereja kalah jauh dari merak. Kalau ada lomba suara, murai dan kenari pasti lebih dulu naik panggung. Bahkan kalau ada lomba gaya, burung gereja mungkin cuma duduk di pojokan sambil makan biji-bijian.
Namun jangan salah.
Di balik penampilannya yang biasa saja, burung ini termasuk salah satu spesies paling sukses di dunia.
Panjang tubuhnya rata-rata sekitar 16 sentimeter dengan berat hanya 24 hingga 39 gram. Kecepatan terbang normalnya bisa mencapai sekitar 46 kilometer per jam.
Dengan ukuran sekecil itu, mereka berhasil menjelajahi dunia jauh lebih luas daripada sebagian manusia yang paspornya masih kinclong tanpa cap imigrasi.
Awalnya burung gereja berasal dari Eropa, Afrika, dan sebagian Asia. Namun seiring perjalanan manusia ke berbagai penjuru dunia, mereka ikut menyebar hingga Australia dan Amerika.
Kalau manusia harus mengurus paspor, visa, tiket pesawat, bagasi, dan kadang masih ditanya petugas imigrasi tujuan kedatangannya, burung gereja cukup mengepakkan sayap lalu berkata dalam hati:
“Gas!”
Yang paling hebat dari burung gereja adalah kemampuan beradaptasinya.
Cuaca panas? Santai.
Musim hujan? Tetap santai.
Tinggal dekat manusia? Justru senang.
Hidup di tengah kebisingan kota? Tidak ada keluhan.
Burung gereja juga terkenal tidak terlalu takut kepada manusia. Mereka sering melompat-lompat mencari makanan hanya beberapa langkah dari kaki kita.
Kalau ada remah roti jatuh ke tanah, mereka datang lebih cepat daripada peserta rapat yang mendengar kabar makan siang gratis.
Hebatnya lagi, mereka hampir selalu bergerombol.
Jarang sekali terlihat sendirian. Begitu satu ekor menemukan makanan, dalam hitungan detik teman-temannya langsung berdatangan.
Makanan favorit mereka sebenarnya sederhana. Biji-bijian, rumput, dan serangga kecil. Tetapi karena hidup dekat manusia, mereka juga pintar memanfaatkan sisa makanan yang tersedia di sekitar lingkungan kita.
Mungkin itulah rahasia kesuksesan mereka.
Tidak gengsi.
Tidak pilih-pilih.
Tidak sibuk pencitraan.
Yang penting bisa bertahan hidup.
Dari burung kecil ini sebenarnya ada pelajaran menarik. Untuk sukses, tidak selalu harus menjadi yang paling cantik, paling kuat, atau paling terkenal.
Kadang yang dibutuhkan hanyalah kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan memanfaatkan peluang yang ada.
Burung gereja tidak punya bulu semewah merak.
Tidak punya suara semerdu murai.
Tidak punya kegagahan seperti elang.
Tetapi mereka berhasil menyebar ke hampir seluruh dunia dan hidup berdampingan dengan manusia selama ratusan tahun.
Jadi kalau suatu hari kalian melihat sekawanan burung gereja bertengger di kubah masjid sambil berceloteh ramai, jangan buru-buru mengusirnya.
Siapa tahu mereka sedang mengadakan musyawarah besar.
Agenda rapatnya mungkin sederhana:
“Usulan perubahan nama dari Burung Gereja menjadi Burung Masjid.”
Kalau usulan itu disetujui, mungkin yang pertama kali protes justru bukan burungnya, melainkan manusia yang sejak dulu memberi nama.
Sementara para burung hanya saling menatap dan berkata:
“Yang penting remah kuenya jangan hilang.”
Selamat ngopi, Bang.
Jangan lupa menyisakan sedikit remah biskuit di teras rumah. Siapa tahu ada burung gereja yang sedang patroli mencari sarapan sambil menunggu hasil sidang perubahan nama mereka.












