TombakOpini: IAB
Sebelum lanjut membaca, seruput dulu kopi hitam tanpa gula, Bang. Sebab beberapa hari terakhir rakyat disuguhi tontonan yang membuat warung kopi, grup WhatsApp, hingga beranda media sosial lebih ramai daripada pembahasan harga beras.
Ada yang menyebutnya duel “cokelat muda versus cokelat tua”. Ada yang lebih pedas lagi dengan istilah, “jeruk makan jeruk”. Pokoknya publik sudah bersiap menyaksikan episode besar dari drama penegakan hukum negeri ini. Kopi sudah diseduh, gorengan sudah matang, kuota internet sudah dibeli. Semua menunggu satu hal: siapa membuka kartu lebih dulu.
Namun ketika tirai dibuka, yang muncul bukan baku hantam argumentasi atau perang data. Yang terlihat justru senyum lebar, jabat tangan hangat, dan kalimat-kalimat persaudaraan. Penonton yang berharap film laga mendadak disuguhi film keluarga bertema silaturahmi.
Senin, 13 Juli 2026, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berkunjung ke Kejaksaan Agung setelah sebelumnya menyambangi Mabes TNI. Kedatangannya disambut langsung Jaksa Agung ST Burhanuddin beserta jajaran.
Begitu konferensi pers dimulai, publik yang sudah duduk di kursi paling depan langsung dibuat mengernyit. Tidak ada nada tegang. Tidak ada sinyal konflik. Tidak ada kalimat yang mengarah pada pertarungan antarlembaga sebagaimana dibayangkan banyak orang.
Yang terdengar justru kata-kata sakti yang selalu muncul setiap kali keadaan mulai panas: sinergi, koordinasi, komunikasi, kolaborasi, soliditas, dan penguatan sistem peradilan pidana.
Kalau kata-kata itu dicetak menjadi baliho, mungkin cukup untuk menghiasi jalan nasional dari Sabang sampai Merauke.
Jaksa Agung menyebut rombongan Polri sebagai “sahabat-sahabat saya”. Kapolri membalas dengan menyebut Jaksa Agung sebagai “kakak asuh saya”. Publik yang sejak beberapa hari berubah profesi menjadi analis hukum dadakan pun mulai saling pandang.
“Lho, terus episode perang besarnya mana?”
Ternyata yang beredar justru foto bersama dan senyum bersama.
Padahal rakyat mengikuti cerita ini bukan karena hobi bergosip. Ada alasan yang membuat perhatian publik tersedot. Sebelumnya, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi, suap, pemerasan, hingga tindak pidana pencucian uang. Penyidik menyebut adanya aset berupa emas dan uang miliaran rupiah. Pencegahan ke luar negeri juga sudah diterbitkan.
Dengan perkembangan sebesar itu, wajar bila publik menduga badai besar sedang mendekat ke halaman institusi penegak hukum.
Namun politik dan hukum di Indonesia sering kali seperti sinetron yang penulis skenarionya gemar membuat plot twist. Saat penonton mengira akan ada ledakan, yang muncul justru adegan makan siang bersama.
Tentu tidak ada yang salah dengan silaturahmi. Negara memang tidak membutuhkan lembaga penegak hukum yang saling serang. Yang dibutuhkan adalah lembaga yang sama-sama berani menegakkan hukum.
Masalahnya, publik Indonesia sudah terlalu sering mendengar kata “sinergi”, tetapi terlalu jarang melihat hasil akhirnya benar-benar menyentuh rasa keadilan.
Karena itu muncul pertanyaan yang wajar.
Apakah sinergi ini akan melahirkan keberanian membongkar korupsi sampai ke akar-akarnya?
Ataukah hanya menjadi payung teduh yang membuat perkara-perkara besar berjalan pelan, lalu menghilang di tikungan waktu?
Publik tentu berharap yang pertama.
Sebab rakyat tidak membutuhkan foto kebersamaan. Rakyat membutuhkan kepastian bahwa hukum tidak berhenti di pagar institusi. Rakyat tidak membutuhkan narasi persaudaraan. Rakyat membutuhkan pembuktian bahwa tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk diperiksa dan tidak ada seragam yang terlalu sakral untuk disentuh hukum.
Jika Polri dan Kejaksaan benar-benar solid, maka yang seharusnya mulai gelisah bukan netizen, bukan wartawan, dan bukan rakyat yang sedang menyeruput kopi di warung.
Yang seharusnya tidak bisa tidur nyenyak adalah para koruptor.
Karena ukuran sinergi bukanlah seberapa erat jabat tangan di depan kamera, melainkan seberapa berani kedua institusi itu membawa keadilan sampai ke hadapan rakyat.
Dan rakyat, seperti biasa, akan tetap menonton.
Bukan untuk mencari drama.
Tetapi untuk memastikan bahwa hukum tidak berhenti sebagai pertunjukan.












