OPINI & ANALISIS

“Londo Ireng” Dihidupkan Prabowo untuk Menyindir Wartawan, Jurnalis, Pengamat, dan LSM

63
×

“Londo Ireng” Dihidupkan Prabowo untuk Menyindir Wartawan, Jurnalis, Pengamat, dan LSM

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: Emhape

 

Sebelum cerita di mulai, seruput dulu secangkir kopi hangat, Bang. Kali ini bukan sekadar soal politik. Kali ini yang datang bertamu justru sejarah yang tiba-tiba keluar dari lemari tua. Bau kapurnya masih terasa, debunya masih menempel, tapi entah bagaimana mendadak jadi bahan obrolan paling ramai di negeri ini.

 

Dalam pidato Harlah ke-28 PKB pada 23 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto menghidupkan lagi istilah londo ireng. Sekali istilah itu meluncur untuk menyindir wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM, Indonesia langsung berubah seperti grup WhatsApp keluarga menjelang Lebaran. Semua membalas. AJI meminta Presiden meminta maaf. YLBHI mengingatkan bahaya stigmatisasi terhadap kebebasan sipil. PWI ikut mengecam dan menegaskan pers adalah mitra demokrasi, bukan musuh negara. Sementara media sosial bekerja lembur. Ada yang marah, ada yang membela, ada pula yang baru sadar kalau londo ireng ternyata bukan nama menu kopi kekinian.

Baca Juga  Mengapa Calon Manajer KDMP Wajib Latihan Militer?

 

Nah, sebelum sibuk saling memberi cap, ada baiknya kita buka lagi buku sejarah yang mungkin sudah lama tidak disentuh.

 

Dalam bahasa Jawa, londo ireng berarti “Belanda Hitam”. Kedengarannya memang membingungkan. Belanda kok hitam? Rupanya istilah itu lahir pada abad ke-19 ketika pemerintah kolonial Belanda kekurangan tentara setelah Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro menguras banyak pasukan. Jalan pintas pun ditempuh. Belanda merekrut lebih dari tiga ribu pria Afrika dari Elmina, wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Ghana, untuk dijadikan tentara KNIL. Banyak di antara mereka berasal dari kalangan budak yang nyaris tidak memiliki kebebasan menentukan nasibnya sendiri.

 

Bayangkan, Bang. Mereka mungkin berangkat dengan harapan hidup lebih baik. Tahu-tahu sudah mengenakan seragam Belanda, memanggul senapan, lalu disuruh bertugas ribuan kilometer dari rumah. Nasib mereka seperti penumpang bus yang ketiduran. Bangun-bangun bukan tiba di terminal, melainkan sudah masuk bab sejarah Indonesia.

Baca Juga  PESTA BABI: Yang Heboh Bukan Babinya, Melainkan Cerita di Balik Filmnya

 

Karena berseragam Belanda tetapi berkulit hitam, masyarakat Jawa menjuluki mereka londo ireng. Sebagian pulang ke Afrika. Sebagian menetap di Hindia Belanda, menikah dengan perempuan setempat, lalu meninggalkan jejak sejarah yang masih bisa ditemukan hingga sekarang.

 

Seiring waktu, istilah itu berubah menjadi sindiran bagi siapa saja yang dianggap membela kepentingan penjajah atau mengkhianati bangsanya sendiri. Nah, di sinilah masalahnya. Banyak orang lupa bahwa sejarah dan sindiran itu bukan saudara kembar. Yang satu adalah fakta, yang satu lagi adalah tafsir. Dicampur sembarangan hasilnya seperti kopi dicampur sambal. Sama-sama masuk mulut, tapi bikin semua orang terbatuk.

 

Lucunya, di zaman sekarang definisi londo ireng seolah makin elastis. Dulu identik dengan serdadu kolonial. Sekarang cukup membawa kamera, menulis berita, mengkritik kebijakan, atau bertanya dalam konferensi pers, tahu-tahu sudah naik pangkat menjadi agen VOC. Kalau logika ini diteruskan, jangan-jangan besok tukang parkir yang bertanya, “Karcisnya, Pak?” dituduh mata-mata Hindia Belanda. Petugas sensus dianggap utusan Daendels. Kurir paket dicurigai membawa surat rahasia dari Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Baca Juga  TombakOpini

 

Beginilah kalau sejarah dipakai seperti bumbu mi instan. Tinggal ditabur ke mana saja supaya argumen terasa lebih gurih. Padahal sejarah bukan penyedap rasa politik. Ia adalah guru yang tugasnya menjelaskan, bukan menjadi pentungan untuk memukul siapa pun yang berbeda pendapat.

 

Jadi, Bang, habiskan dulu kopinya. Sebab kopi yang terlalu panas masih bisa didinginkan. Tetapi ucapan yang telanjur keluar sering kali lebih sulit ditarik kembali daripada odol yang sudah dipencet. Dan ketika sejarah dijadikan peluru dalam perdebatan, yang tertembak bukan cuma lawan bicara, melainkan juga akal sehat yang selama ini kita banggakan.