Oleh : Muhamad Heru Priono
Desa Gempolsewu, kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal yang lebih populer dengan nama Tawang, dahulu dikenal luas sebagai pusat pengolahan ikan tradisional dengan sebutan desa Pindang, desa Panggang, atau desa Gereh (ikan asin). Saat ini mengalami perubahan signifikan dalam struktur ekonomi dan budaya masyarakatnya.
Tawang dikenal sebagai pusat utama pengolahan ikan yang mengandalkan proses pemindangan, pemanggangan, dan penggerehan (proses pembuatan ikan asin) sebagai kegiatan ekonomi utama. Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya desa yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, proses pengolahan ikan secara tradisional ini mengalami penurunan yang cukup drastis dan perlahan menghilang dari aktivitas sehari-hari masyarakat desa. Sudah tidak pernah nampak kesibukan proses memindang dan sudah tidak pernah dijumpai di gang gang dusun, ibu ibu memanggang ikan disamping rumahnya. Yang masih ada tinggal Penggerehan.
Sejarah dan Peran Penting Desa Tawang dalam Pengolahan Ikan Tradisional
Pada masa lalu, Desa Tawang dikenal sebagai pusat pengolahan ikan yang unggul dan memiliki reputasi baik di wilayah sekitarnya. Proses pemindangan, pemanggangan, dan penggerehan dilakukan secara tradisional dengan teknik yang diwariskan secara turun-temurun. Teknik ini menghasilkan produk ikan olahan yang berkualitas tinggi dan memiliki cita rasa khas, sehingga mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.
Selain sebagai kegiatan ekonomi utama, tradisi ini juga menjadi bagian dari budaya lokal yang memperkuat identitas desa dan menarik perhatian wisatawan yang ingin menikmati pengalaman kuliner dan budaya yang autentik.
Perubahan dan Penyusutan Aktivitas Pengolahan Ikan
Namun, yang terjadi saat ini adalah berkurangnya aktivitas pengolahan ikan tradisional tersebut. Proses pemindangan dan pemanggangan ikan secara tradisional hampir tidak lagi dilakukan oleh masyarakat desa. Yang tersisa hanyalah aktivitas penggerehan, yaitu pembuatan ikan asin, yang menjadi satu-satunya kegiatan pengolahan ikan yang masih berlangsung. Bahkan, proses penggerehan ini pun saat ini mengalami penurunan karena minimnya inovasi, kurangnya dukungan dari pemerintah desa maupun daerah, serta perubahan preferensi pasar dan gaya hidup masyarakat.
Ironisnya, proses pindang dan panggang ikan yang dulu menjadi ciri khas desa ini bergeser ke desa-desa tetangga seperti Tanjungsari dan Tambaksari yang tidak memiliki potensi hasil perikanan.
Desa tetangga tersebut, meskipun tidak memiliki sumber daya perikanan yang memadai, justru mendapatkan keuntungan dari pengolahan dan pemasaran produk pindang dan panggang ikan, sementara desa Tawang kehilangan identitas dan potensi ekonominya sendiri. Akibatnya, desa ini semakin bergantung pada hasil tangkapan ikan segar yang langsung disuplai keluar kota dalam kondisi mentah, tanpa melalui proses pengolahan tradisional yang selama ini menjadi keunggulan dan ciri khasnya.
Dampak Terhadap Ekonomi dan Produk UMKM
Selain kehilangan proses pengolahan ikan tradisional, desa ini juga mengalami stagnasi dalam pengembangan produk UMKM yang berbasis hasil perikanan. Produk olahan seperti kerupuk, rengginan terasi, nugget, dan berbagai olahan ikan lainnya tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah desa maupun pemerintah daerah. Kurangnya dukungan ini menyebabkan minimnya inovasi dan pengembangan produk yang mampu bersaing di pasar modern. Padahal, potensi desa ini sangat besar untuk mengembangkan produk-produk tersebut sebagai produk unggulan yang khas dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah menyebabkan pelaku usaha kecil sulit mengakses pelatihan, pemasaran, dan permodalan yang diperlukan untuk mengembangkan usaha mereka. Akibatnya, peluang untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil perikanan yang melimpah menjadi terabaikan, dan desa ini semakin terperangkap dalam kondisi stagnan tanpa inovasi yang berarti.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Dalam menghadapi kenyataan ini, tantangan utama adalah melakukan revitalisasi proses pengolahan ikan tradisional yang selama ini menjadi identitas desa. Pemerintah desa dan daerah perlu berperan aktif dalam memberikan pelatihan, fasilitasi pemasaran, serta akses permodalan kepada pelaku usaha pengolahan ikan dan UMKM. Inovasi dalam teknik pengolahan dan pemasaran harus menjadi prioritas, termasuk memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.
Selain itu, pelestarian budaya dan tradisi pengolahan ikan harus diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan desa. Melalui promosi dan pengembangan produk olahan ikan tradisional, desa Tawang dapat menarik wisatawan yang ingin menikmati pengalaman kuliner dan budaya yang autentik. Pengembangan destinasi wisata kuliner berbasis hasil perikanan juga dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan pendapatan desa secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Desa Tawang berada di persimpangan jalan antara mempertahankan identitas budaya dan mengikuti arus modernisasi ekonomi. Hilangnya proses pengolahan ikan tradisional, yang selama ini menjadi kekuatan utama desa, harus segera diatasi melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah daerah. Dengan dukungan yang tepat, inovasi, serta pelestarian budaya, desa ini memiliki peluang besar untuk bangkit kembali sebagai pusat pengolahan ikan yang inovatif dan berdaya saing tinggi. Jika langkah strategis tidak diambil, potensi besar desa ini akan terus terkubur dan digantikan oleh desa-desa lain yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, sehingga masa depan desa Tawang tetap cerah dan berkelanjutan.












