TOMBAKRAKYAT.COM – Opini – Di tengah maraknya lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengklaim diri sebagai garda terdepan perjuangan rakyat, publik justru disuguhi potret buram: LSM yang hidup dari omon-omon, dipimpin dengan mental pengemis, dan dikelola secara amburadul.
LSM yang seharusnya menjadi ruang pengabdian dan pengorbanan kini berubah menjadi panggung retorika murahan. Ketua umumnya gemar berpidato, lantang berbicara moral dan perjuangan, namun menghilang saat kerja nyata dan pengorbanan benar-benar dibutuhkan.
Ironisnya, struktur DPP justru menjelma menjadi barisan penagih. Datang saat butuh dukungan dan bantuan, namun menghilang ketika diminta kontribusi. Organisasi tidak dibangun dengan kemandirian, melainkan dengan ketergantungan yang dipelihara secara sadar. Inilah wajah LSM yang kehilangan marwah dan harga diri.
Lebih parah lagi, kepemimpinan tertinggi di LSM tersebut gagap administrasi. Tata kelola organisasi kacau, dokumen tidak tertib, keputusan tidak berbasis data, dan administrasi diperlakukan sebagai urusan sepele. Ketua umum yang seharusnya menjadi penanggung jawab justru terlihat kebingungan mengurus hal paling mendasar dalam organisasi.
Akibatnya, akuntabilitas hilang. Tidak jelas siapa bekerja apa, ke mana arah organisasi dibawa, dan bagaimana pengorbanan kader dicatat serta dihargai. Yang tersisa hanyalah klaim sepihak dan pencitraan, sementara kerja nyata di lapangan dipinggirkan.
Lebih memuakkan lagi, tidak ada rasa tahu diri sama sekali. Bantuan dianggap sebagai hak, dukungan dianggap kewajiban pihak lain, dan pengorbanan orang-orang yang bekerja justru diperlakukan seperti tidak pernah ada. Etika berorganisasi runtuh, balas budi dilupakan, rasa malu pun sirna.
Dalam LSM semacam ini, yang dihitung bukanlah pengorbanan, melainkan :
- Jabatan,
- Kedekatan,
- Dan kepandaian menjilat.
Mereka yang mau berkorban justru kalah oleh tukang jilat. Yang bekerja dibungkam, yang setia disisihkan, sementara yang pandai memuja dan merunduk ke atas dielu-elukan. Sebuah ironi telanjang dari lembaga yang mengaku sebagai pejuang rakyat.
Mental pengemis bukan semata soal meminta materi, melainkan cara berpikir: selalu menunggu, selalu menuntut, selalu merasa pantas, tanpa pernah merasa wajib memberi. Ketika mental ini dipimpin oleh figur yang gagap administrasi dan miskin keteladanan, LSM tidak lagi menjadi gerakan sosial, melainkan sekumpulan orang yang hidup dari belas kasihan dan intrik.
LSM seperti ini tidak sedang membangun peradaban, melainkan sedang menggali kuburnya sendiri. Publik berhak tahu, tidak semua yang berteriak “perjuangan” benar-benar memahami arti berkorban.
Sebab LSM yang dipimpin tanpa keteladanan, dijalankan tanpa etika, dan dikelola tanpa kemampuan administrasi yang layak, cepat atau lambat akan runtuh oleh kebusukannya sendiri.
Penulis :
Zainul Arifin, S.Pd.I
Ketua Harian PADI












