OPINI & ANALISIS

MAKAM PALSU: Diantara Politik, Bisnis, Kesesatan dan Distorsi Sejarah

106
×

MAKAM PALSU: Diantara Politik, Bisnis, Kesesatan dan Distorsi Sejarah

Sebarkan artikel ini

Muhamad Heru Priono

Di berbagai pelosok tanah air, bahkan di luar negeri, muncul fenomena yang mengagetkan: makam-makam palsu. Tanpa ada jasad yang terkubur di dalamnya, bangunan-bangunan yang menyerupai kuburan dengan batu nisan dan nama-nama yang kental dengan nuansa sejarah atau keramatian tiba-tiba berdiri. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan keresahan masyarakat, tetapi juga memunculkan pertanyaan: siapa yang membuatnya dan apa tujuannya?

 

Siapa yang Membuat Makam Palsu?

 

Membuat makam palsu bukanlah kerja satu orang semata, melainkan berbagai pihak dengan latar belakang yang berbeda. Di Indonesia, kasus-kasus yang terungkap menunjukkan bahwa pembuat makam palsu bisa berupa individu, kelompok kecil, bahkan orang yang mengaku memiliki hubungan dengan tokoh agama atau legenda.

 

Misalnya, di Mojokerto, 13 makam palsu dibangun pada 2018 atas inisiatif seorang pria bernama Habib Soleh asal Bogor. Di Ngawi, lima makam palsu dibuat oleh seorang warga bernama KH Khosim berdasarkan firasat yang diterimanya melalui mimpi. Di Tangerang, seorang wanita bernama Nurheni membuat “makam Nyi Roro Kidul” palsu di dalam rumahnya. Selain itu, ada juga kasus di mana makam palsu dibuat oleh kelompok jemaah dari luar desa, seperti yang terjadi di Brebes, di mana delapan makam palsu dibangun oleh sekelompok jemaah berdasarkan wangsit anggota mereka.

Baca Juga  Parate Eksekusi dan Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Ketimpangan Perlindungan Hukum bagi Debitur

 

Di luar negeri, seperti di Al-Quds, makam palsu dibuat oleh otoritas dan organisasi pemukim Israel sebagai bagian dari kebijakan sistematis untuk merampas tanah dan mendistorsi sejarah.

 

Tujuan Pembuatan Makam Palsu

 

Tujuan pembuatan makam palsu bervariasi, mulai dari kepentingan pribadi hingga kepentingan politik. Berikut adalah beberapa tujuan utama yang sering ditemukan:

Baca Juga  Logo Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo telah Launching

 

– Keuntungan Pribadi: Banyak makam palsu dibuat untuk menarik pengunjung yang mencari keberkahan, sehingga pembuat bisa mendapatkan keuntungan dari praktik perdukunan, jual beli barang keramat, atau sumbangan dari pengunjung. Misalnya, di Palabuhanratu, Sukabumi, 41 makam palsu dibuat untuk digunakan sebagai tempat praktik perdukunan seperti mencari penglaris usaha atau pelet.

– Kesesatan Agama: Beberapa makam palsu dibuat untuk menyebarkan ajaran yang menyimpang dari agama, sehingga memancing orang untuk melakukan praktik yang bertentangan dengan ajaran agama yang sebenarnya.

– Pemilikan Tanah: Di beberapa kasus, makam palsu dibuat untuk menguasai tanah yang menjadi sengketa atau tanah milik negara atau masyarakat lainnya. Di Al-Quds, makam palsu dibuat oleh penjajah Israel untuk merampas tanah wakaf umat Islam dan mengendalikan wilayah sekitar Masjid Al-Aqsa.

Baca Juga  TOMBAK OPINI MENANTI

– Distorsi Sejarah: Makam palsu juga bisa dibuat untuk mendistorsi sejarah dan menghapus identitas budaya suatu daerah. Di Al-Quds, penjajah Israel membuat makam palsu dengan nama-nama yahudi yang diklaim telah lama wafat untuk menciptakan kesan bahwa daerah itu dulunya adalah tanah yahudi.

 

Fenomena makam palsu adalah masalah yang kompleks yang membutuhkan perhatian dari semua pihak. Penting bagi masyarakat untuk lebih cermat dan tidak mudah tergiur oleh klaim keramatian yang tidak memiliki dasar yang kuat. Pemerintah juga harus mengambil tindakan tegas untuk mencegah pembuatan makam palsu dan menindaklanjuti pihak yang bertanggung jawab. Dengan begitu, kita bisa melindungi sejarah, budaya, dan agama kita dari kesesatan dan penipuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *