Profile TokohEdukasi

Anak Tukang Becak yang Tak Menyerah: Dari Hidup Serba Kekurangan hingga Menjadi Advokat di Usia 25 Tahun

245
×

Anak Tukang Becak yang Tak Menyerah: Dari Hidup Serba Kekurangan hingga Menjadi Advokat di Usia 25 Tahun

Sebarkan artikel ini

Jakarta,TombakRakyat.com_Kisah Perjuangan Seorang Pemuda Menembus Keterbatasan Ekonomi dan Meraih Cita-Cita di Dunia Hukum

Di tengah gemerlap kehidupan perkotaan, tidak semua anak muda tumbuh dengan fasilitas pendidikan yang lengkap, kehidupan yang serba berkecukupan, ataupun dukungan ekonomi yang memadai. Namun, keterbatasan bukan selalu menjadi alasan untuk menyerah.

Kisah seorang pemuda asal Medan ini menjadi gambaran bahwa tekad, kerja keras, doa dan pendidikan dapat mengubah jalan kehidupan seseorang.

Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Sang ayah bekerja sebagai tukang becak mesin, sementara ibunya merupakan guru honorer sekolah dasar. Penghasilan yang terbatas harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak.

Istimewa

Kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan membuat orang tuanya terkadang harus berutang ke sana kemari agar kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari tetap terpenuhi.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, pemuda ini sudah memahami kondisi keluarganya. Ia mulai memiliki inisiatif untuk berjualan demi mendapatkan uang jajan sekaligus membantu orang tua.

Keinginan untuk menikmati fasilitas belajar seperti yang dimiliki teman-temannya tidak selalu dapat terwujud. Namun, keterbatasan tersebut justru perlahan membentuk karakter dan kemandiriannya.

Dorong Becak Ayah Saat Mogok di Jalan

Memasuki sekolah menengah pertama, perjuangannya semakin berat. Untuk sekadar mendapatkan ongkos angkutan umum menuju sekolah pun terkadang tidak mudah.

Sesekali sang ayah mengantar dan menjemputnya menggunakan becak mesin. Namun, tidak jarang becak tersebut mengalami kerusakan di tengah perjalanan.

Salah satu kenangan yang tidak pernah dilupakan adalah ketika becak milik ayahnya mogok dalam perjalanan menuju sekolah. Sang ayah dan anak kemudian harus bersama-sama mendorong becak yang mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut juga membuatnya beberapa kali terlambat masuk sekolah dan harus menerima hukuman dari guru.

Persoalan biaya pendidikan pun menjadi tantangan tersendiri. Tunggakan uang sekolah yang berlangsung berbulan-bulan bahkan membuatnya pernah tidak mendapatkan akses untuk mengikuti ujian semester.

Namun, ia tidak memilih untuk berhenti.

Di sekolah, ia kembali berjualan. Mulai dari sabun pencuci piring, mi goreng seharga Rp5.000, hingga berbagai makanan ringan. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk menambah uang saku sekaligus membantu ekonomi keluarganya.

Istimewa

Pernah Makan Nasi dengan Garam dan Cabe

Ada masa ketika kondisi ekonomi keluarganya berada pada titik yang sangat sulit.

Baca Juga  Menimbang Koalisi Struktural Quo Jateng – Antara Hajat Hidup Rakyat dan Target Makro Pembangunan

Makanan sederhana seperti nasi dengan garam atau nasi dengan cabai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan, listrik di rumah sempat menunggak selama berbulan-bulan hingga akhirnya diputus oleh PLN. Pada saat yang sama, persediaan beras di rumah habis.

Kondisi semakin sulit ketika rumah mereka yang berada di lokasi rendah mengalami banjir.

Dalam keadaan lapar dan tidak memiliki uang, pemuda tersebut mengambil keputusan sederhana namun penuh perjuangan. Sebuah telepon genggam Nokia jadul miliknya, yang baterainya bahkan sudah menggembung dan diikat menggunakan karet, digadaikan ke sebuah warung untuk mendapatkan uang membeli beras, telur dan kebutuhan makanan lainnya.

Malam itu, keluarga mereka harus makan dalam kondisi rumah tanpa listrik dan hanya diterangi cahaya lilin.

Bagi sebagian orang, keadaan seperti itu mungkin menjadi alasan untuk menyerah.

Namun bagi pemuda tersebut, pengalaman itu justru menjadi bahan bakar untuk terus berjuang.

Dari Tukang Las, Penjual Keliling hingga Pelatih Silat

Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, perjuangan berlanjut ke jenjang SMK.

Saat hendak mendaftar, sang ayah mengatakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup membiayai sekolah. Untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan, bantuan berupa utang kepada saudara pun harus dilakukan untuk membayar biaya pendaftaran dan membeli seragam.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap berusaha mencari jalan.

Ia memiliki kemampuan bela diri silat yang dipelajarinya sejak SMP. Kemampuan tersebut kemudian menjadi salah satu modal hidupnya. Ia mulai melatih silat di sejumlah sekolah di Kota Medan sebagai guru ekstrakurikuler.

Ia juga mengikuti berbagai perlombaan tingkat provinsi maupun kabupaten. Beberapa bidang yang pernah diikutinya antara lain pidato, puisi, azan hingga kompetisi pertarungan silat.

Perlahan, berbagai pengalaman tersebut membentuk keberanian dan kepercayaan dirinya.

Namun, setelah menyelesaikan pendidikan SMK, perjuangan belum selesai.

Ia bahkan tidak dapat langsung mengambil ijazah karena masih memiliki tunggakan biaya sekolah selama kurang lebih satu tahun.

Ia kemudian bekerja di bengkel las dan melakukan berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Anak Tukang Becak Tidak Mungkin Kuliah”

Selepas SMK, salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ada orang-orang yang meremehkan dirinya dan keluarganya.

Ucapan seperti, “Anak tukang becak tidak mungkin kuliah,” menjadi salah satu kalimat yang justru semakin membakar semangatnya.

Baca Juga  Hidupkan Lagi Legenda Restorasi Sungai: Forum Sekolah Sungai Klaten Resmi Bergerak Lewat SK Bupati

Selama sekitar satu tahun setelah tamat SMK, ia bekerja serabutan sambil mencari jalan agar bisa melanjutkan pendidikan.

Kesempatan akhirnya datang melalui program KIP Kuliah.

Ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan S1 Hukum.

Namun, kehidupan sebagai mahasiswa pun tidak mudah. Di luar jam kuliah, ia tetap bekerja dan berjualan untuk mendapatkan tambahan biaya hidup.

Berbagai pekerjaan pernah dijalaninya, mulai dari mengantar galon air isi ulang, mengantar gas LPG, menarik becak mesin, berjualan rokok keliling, menjual sabun pencuci piring, bekerja sebagai tukang las hingga menjadi satpam sekolah di Medan.

Tidak ada pekerjaan yang dianggap terlalu rendah selama pekerjaan tersebut halal dan dapat menjadi jalan untuk mencapai cita-cita.

Empat Tahun Berjuang, Akhirnya Menjadi Sarjana Hukum

Empat tahun menjalani pendidikan tinggi dilewati dengan berbagai ujian kehidupan.

Di tengah keterbatasan ekonomi, persoalan keluarga dan berbagai perkataan yang merendahkan, ia tetap bertahan hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan S1 Hukum tepat waktu dan meraih gelar Sarjana Hukum.

Namun, keberhasilan tersebut tidak membuatnya berhenti.

Justru muncul tekad baru: melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Hukum.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang tetap terbatas, ia kembali berusaha mencari biaya sendiri. Dengan doa dan dukungan moral dari kedua orang tuanya, ia memberanikan diri melanjutkan pendidikan S2 Magister Hukum di Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang.

Baginya, pendidikan bukan sekadar gelar.

Pendidikan merupakan jalan untuk mengubah kehidupan dan mengangkat derajat keluarganya.

Dari Anak Tukang Becak Menjadi Advokat di Usia 25 Tahun

Perjalanan di dunia hukum kemudian semakin serius.

Ia terus belajar, mengasah kemampuan dan mencari pengalaman dengan berguru kepada orang-orang yang lebih berpengalaman di bidang hukum.

Tekadnya semakin kuat untuk menjadi seorang advokat.

Ia mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), menjalani proses ujian profesi advokat, hingga akhirnya dilantik sebagai advokat pada usia 25 tahun.

Pencapaian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Ketika sebagian anak muda seusianya masih menikmati masa muda dengan berbagai aktivitas dan kesenangan, ia memilih jalan yang berbeda: belajar, bekerja, membangun karier dan terus mengejar pendidikan.

Bahkan, saat ini ia masih menjalani pendidikan di beberapa perguruan tinggi dengan mengambil sejumlah bidang studi, termasuk S1 Ekonomi, S1 Psikologi, S1 Pendidikan serta S2 Magister Hukum.

Baca Juga  MPLS PKBM Mutiara Hati, Polsek Metro Penjaringan Tanamkan Disiplin dan Tolak Tawuran

Bukan Harta yang Diwariskan, Melainkan Ilmu dan Nilai Kehidupan

Dari perjalanan panjang tersebut, ada satu hal yang menjadi pegangan penting bagi pemuda ini.

Orang tuanya memang tidak mampu mewariskan rumah mewah, kendaraan mahal ataupun aset berlimpah.

Namun, mereka memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: ilmu, pendidikan, agama, doa dan keteladanan untuk tidak menyerah terhadap keadaan.

Dari seorang ayah yang bekerja sebagai tukang becak dan seorang ibu yang bekerja sebagai guru honorer, lahirlah seorang anak yang kemudian berjuang menempuh pendidikan tinggi dan memasuki dunia profesi hukum.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa latar belakang keluarga tidak harus menentukan masa depan seseorang.

Keterbatasan ekonomi bukan berarti akhir dari sebuah cita-cita.

Hinaan bukan alasan untuk berhenti.

Kegagalan bukan tanda bahwa perjuangan harus berakhir.

Justru dari berbagai kesulitan itulah mental dan karakter seseorang ditempa.

Pesan untuk Generasi Muda

Kisah pemuda ini menyampaikan pesan sederhana namun kuat kepada generasi muda: jangan pernah malu dengan keadaan orang tua.

Jika hari ini hidup masih penuh keterbatasan, bukan berarti masa depan juga akan sama.

Tidak semua orang dilahirkan dengan fasilitas yang sama. Tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk berusaha, belajar dan memperbaiki kehidupannya.

Anak seorang tukang becak pun bisa menjadi sarjana.

Anak dari keluarga sederhana pun bisa menjadi profesional.

Istimewa

Dan seorang anak yang dahulu pernah makan nasi dengan garam, berjalan kaki ke sekolah karena tidak memiliki uang, bahkan pernah mendorong becak ayahnya yang mogok di jalan, pada akhirnya mampu berdiri dengan toga dan gelar di belakang namanya.

Semua orang bisa menjadi apa pun yang ia cita-citakan, selama mau berjuang, terus belajar, berdoa dan tidak menyerah.

Karena terkadang, perjalanan paling sulit justru melahirkan manusia dengan mental paling kuat.

Dulu diremehkan karena anak tukang becak. Kini berdiri sebagai seorang sarjana hukum dan advokat muda.

Perjalanan itu belum selesai.

Sebab bagi pemuda ini, kesuksesan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membanggakan keluarga dan memberikan manfaat bagi masyarakat.