TombakRakyat.com – Banyumas — Di saat banyak pedagang memilih jalan pintas demi mengejar volume dan keuntungan cepat, Pak Badri (51) justru berdiri di jalur yang lebih sunyi: konsistensi rasa dan kejujuran bahan. Pedagang Es Dawet Ireng asal Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen, Banyumas ini membuktikan bahwa usaha kecil tetap bisa bertahan tanpa mengorbankan kualitas ( 7/2/26 ).
Berjualan di depan kantor BumDes Kedungpring, Pak Badri bukan pelaku usaha yang lahir dari modal besar. Ia adalah mantan buruh harian yang sebelumnya menggarap sawah milik orang tua. Tekanan kebutuhan keluarga memaksanya banting setir. Bersama istrinya yang berprofesi sebagai guru tetap, Pak Badri kini menghidupi dua anak yang masih bersekolah, masing-masing.

Selama lima tahun terakhir, Es Dawet Ireng menjadi tumpuan hidup keluarga kecil ini. Setiap hari, sejak pukul 07.00 WIB Pak Badri sudah menyiapkan bahan, lalu mulai berjualan pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Pendapatan hariannya ia sebut “cukup”, setidaknya untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah tanpa kekurangan uang saku.
Tidak semua dagangan selalu habis. Namun alih-alih menurunkan standar atau memaksakan penjualan, Pak Badri memilih menyimpan sisa es dawet di lemari pendingin agar kualitas rasa tetap terjaga dan layak dijual kembali keesokan hari.
Puncak ujian justru datang saat musim Lebaran. Permintaan melonjak tajam, antrean memanjang, dan Pak Badri kerap kewalahan. Namun ia tetap menolak menambah produksi jika harus mengubah resep. “Kalau rasa berubah, pelanggan bisa hilang,” katanya.
Keistimewaan Es Dawet Ireng Pak Badri terletak pada ketegasannya menjaga bahan. Untuk cendol hitam, ia hanya menggunakan takaran baku: tepung putih satu cangkir dan tepung oman hitam setengah sendok teh, dimasak dengan air secukupnya. Ia menolak mencampur tepung sagu karena menghasilkan tekstur kasar dan merusak sensasi di lidah.
Sikap keras itu juga berlaku pada gula aren. Pak Badri memesan langsung dari penderes gula dengan syarat mutlak: tanpa pemanis buatan dan tanpa pewarna.

Menurutnya, gula aren yang dicampur bahan kimia akan meninggalkan rasa pahit dan mematikan karakter asli dawet ireng. Keputusan inilah yang membuat rasa Es Dawet Ireng Pak Badri dikenal berbeda dan konsisten.
Hingga kini, Es Dawet Ireng Pak Badri tidak memiliki cabang, meski permintaan kerja sama dari rekan-rekannya kerap muncul. Ia mengaku belum siap memperluas usaha jika pengawasan kualitas tidak bisa ia pegang sendiri.
Di tengah maraknya produk kuliner serba instan, kisah Pak Badri menjadi pengingat bahwa ketahanan usaha kecil tidak selalu lahir dari ekspansi dan modal besar, melainkan dari keberanian menolak kompromi pada rasa, etika, dan kerja keras yang jujur.













Kalau untuk usaha minuman atau makanan qualitas rasa adalah no 1 selain dari kebersihan, pelayanan dan disain kemarahan, maaf tapi kebanyakan dari pedagang kita kalau usahanya maju dan lalu keras maka qualitas nya dikurangi seharusnya dipertahankan qualitas yg ada kalau bisa lebih ditingkatka qualitas nya dan tambah dg farian baru agar banyak pilihan serta membentuk system agar bisa di friendcheeskan dg sop yg ketat, agar dagangan bisa bertahan dan menjadi hal familiar ditengah masyarakat serta bisa membantu membangkitkan UMKM untuk membantu ekonomi masyarat kecil dan mengurangi pengangguran dan kemiskinan, kalau usaha diolah dg system yg baik dia akan banyak dikenal orang bahkan bisa mendunia seperti usaha ayam fried chiken sabana dia udah skala nasional karna di olah pakai system