BERITAPOLITIK & PEMERINTAHAN

Dari Memilah Sampah ke Balai Desa: Kemenangan Surya Menarik Perhatian Dedi Mulyadi

349
×

Dari Memilah Sampah ke Balai Desa: Kemenangan Surya Menarik Perhatian Dedi Mulyadi

Sebarkan artikel ini
Surya bertemu Dedi Mulyadi (foto: istimewa)
Surya bertemu Dedi Mulyadi (foto: istimewa)

BEKASI, TOMBAKRAKYAT.com — Surya bin Samid, seorang pemilah barang bekas, berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Mekarsari, Kecamatan Cikarang, Kabupaten Bekasi, pada 20 September 2026. Ia mengalahkan calon petahana dalam kontestasi tersebut.

Kemenangan Surya menarik perhatian karena latar belakangnya jauh dari gambaran birokrat atau pejabat pemerintahan. Sehari-hari, ia bekerja memilah barang bekas dan sampah dari kawasan industri yang banyak berdiri di sekitar desanya.

Dari pekerjaan tersebut, Surya menghidupi keluarganya. Ia bahkan mempekerjakan dan menggaji tiga orang untuk membantunya memilah berbagai jenis barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.

Keputusannya maju dalam Pilkades juga bukan semata-mata ambisi pribadi. Surya mengaku mendapat dorongan dari teman-teman dan sejumlah warga yang menginginkannya ikut mencalonkan diri.

Menurut Surya, masih terdapat sejumlah persoalan di desa yang perlu dibenahi. Dorongan tersebut kemudian membuatnya berani masuk ke pemerintahan desa dan mencoba membawa perubahan dari dalam.

Salah satu gagasan yang ia bawa adalah mengembangkan pengelolaan sampah dari kawasan industri di sekitar desa. Baginya, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan dan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Aktivitas pemilahan yang selama ini dilakukan secara sederhana ingin dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih tertata dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

 

Kemenangan Surya Menarik Perhatian Dedi Mulyadi

Kemenangan Surya kemudian menarik perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Pada Rabu, 23 September 2026, tiga hari setelah pemilihan, Surya dipanggil ke Kantor Kecamatan Cikarang Barat. Dari sana, ia kemudian dijemput untuk memenuhi undangan Dedi Mulyadi di Depok.

Pertemuan tersebut tidak hanya membicarakan kemenangan Surya. Latar belakangnya sebagai pemilah barang bekas justru membuka pembahasan mengenai pengelolaan dan daur ulang sampah yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Saya tertarik mengundang Pak Surya, karena punya perhatian terhadap sampah, kebersihan dan lingkungan, serta gagasannya membangun ekonomi desa dengan kreatif dan inovatif ” ujar Dedi Mulyadi.

Pembicaraan kemudian berkembang dari persoalan kebersihan menuju kemungkinan menjadikan sampah sebagai bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat desa.

Baca Juga  Sungai Aji tertutup sampah, Wabup Kendal protes Gubernur Jateng

 

Dari Cibiran hingga Kepercayaan Warga

Di hadapan Dedi Mulyadi, Surya menceritakan keputusannya maju sebagai calon kepala desa yang sempat dipandang sebelah mata. Ia mengaku mendapat cibiran karena kondisi ekonominya. Bahkan Ratih Ratnasari, sang istri, awalnya merasa ragu karena keluarganya tidak punya modal besar, sementara rivalnya Subur Rustadi, calon kades petahana yang memiliki modal besar.

“Orang susah enggak punya duit ingin mencalonkan,” kata Surya, mengulang ucapan orang-orang yang sempat meragukan langkahnya.

Persaingannya dengan petahana bahkan sempat digambarkan seperti “semut melawan gajah”.

Namun, Surya tidak mengurungkan niat. Dukungan dari teman-temannya justru semakin menguatkan tekad untuk mengikuti kontestasi tersebut.

“Target saya menang. Prinsip saya bagaimana caranya saya bisa berguna untuk orang lain. Saya berani mencalonkan sebagai kepala desa, artinya saat saya jadi, saya harus ngabdi ke masyarakat,” ujar Surya.

Kepercayaan warga kemudian mengantarkannya memenangkan Pilkades dan membuka babak baru dalam kehidupannya.

 

Dari Sampah Menuju Ekonomi Desa

Latar belakang Surya sebagai pemilah barang bekas menjadi bagian dari gagasan pembangunan yang ingin dibawanya.

Ia ingin sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai potensi ekonomi. Sampah yang memiliki nilai jual dapat dipilah dan dikelola sehingga membuka peluang usaha sekaligus lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan rencananya membuka akses lapangan kerja bagi pemuda melalui lembaga pelatihan kerja.

Di bidang infrastruktur, Surya menyebut sejumlah persoalan yang ingin dibenahi, mulai dari jalan, drainase hingga titik-titik rawan banjir.

Program sosial juga masuk dalam gagasannya. Salah satunya membantu kebutuhan pemulasaraan jenazah, termasuk penyediaan kain kafan bagi warga yang sedang berduka.

Di bidang pemerintahan, Surya menyatakan ingin membangun tata kelola desa yang terbuka dan transparan.

Surya bersama Istri, Ratih Ratnasari, sang istri, awalnya merasa ragu karena keluarganya tidak punya modal besar. (foto: istimewa)
Surya bersama Istri, Ratih Ratnasari, sang istri, awalnya merasa ragu karena keluarganya tidak punya modal besar. (foto: istimewa)

 

“Bersih-Bersih” Bukan Hanya Soal Sampah

Bagi Surya, istilah “bersih-bersih” tampaknya tidak berhenti pada persoalan sampah.

Setelah terpilih, ia membawa gagasan untuk membenahi penyelenggaraan pemerintahan desa. Evaluasi terhadap aparatur desa hingga lingkungan RT dan RW menjadi bagian dari rencana tersebut.

Baca Juga  HUT 16 PASATA : Gelar Hiburan Rakyat dan Santunan Anak Yatim

Mereka yang dinilai tidak menjalankan tugas dengan baik akan menjadi bagian dari evaluasi, termasuk kemungkinan adanya pergantian sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Namun, pelaksanaan evaluasi maupun pergantian aparatur tetap harus ditempatkan dalam koridor kewenangan kepala desa dan aturan perundang-undangan. Evaluasi kinerja juga perlu dibedakan dari pergantian seseorang karena perbedaan pilihan politik atau kepentingan pribadi.

Dengan demikian, “bersih-bersih” yang dibawa Surya memiliki makna lebih luas: membersihkan lingkungan dari sampah sekaligus membenahi tata kelola pemerintahan.

Sebagai kepala desa terpilih, pekerjaan rumah Surya bukan hanya membangun jalan, memperbaiki drainase atau mengelola sampah. Ia juga harus memastikan pemerintahan desa berjalan dan aparatur bekerja untuk kepentingan masyarakat.

 

Ketika Dedi Mulyadi Bertanya Soal Anggaran

Ada satu momen dalam pertemuan Surya dengan Dedi Mulyadi yang memperlihatkan sisi lain kepala desa terpilih itu: kepolosannya.

Berbagai rencana pembangunan tentu membutuhkan dukungan anggaran. Mulai dari infrastruktur, pengelolaan sampah, lapangan kerja pemuda hingga program sosial.

Dedi Mulyadi kemudian menanyakan hal mendasar: apakah berbagai rencana tersebut sudah tersedia anggarannya?

Surya menjawab singkat dan apa adanya.

“Ya kurang paham sih, saya kan belum ada di dalam, belum bekerja,” jawab Surya.

Jawaban tersebut menggambarkan posisinya saat itu. Ia memang sudah memenangkan Pilkades, tetapi belum menjalankan kewenangan sebagai kepala desa. Gagasan sudah ada, sementara bagaimana menerjemahkannya ke dalam perencanaan dan penganggaran desa merupakan pekerjaan berikutnya.

Dedi Mulyadi kemudian menanggapinya dengan santai.

“Minta sama Bupati nanti, tak omongin sama Bupatinya. Nanti sama Pemprov juga dikasih kalau desa bapak juara,” kata Dedi Mulyadi.

Dalam percakapan tersebut, Dedi juga menjelaskan mengenai Anugerah Gapura Sri Baduga, sebuah ajang apresiasi dan evaluasi kinerja bagi desa dan kelurahan di Jawa Barat yang berkaitan dengan upaya membangun lingkungan yang bersih, indah, ramah, serta berbasis partisipasi warga dan gotong royong.

Percakapan singkat itu menjadi gambaran menarik tentang fase baru kehidupan Surya. Dari seseorang yang sehari-hari bergelut dengan barang bekas, ia kini harus memasuki dunia pemerintahan yang berhadapan dengan perencanaan, regulasi, birokrasi dan penganggaran.

Baca Juga  Komunitas Pasar Budaya Arahiwang Mengangkat Ndolalak Putra Mekar Wukir Sari Dusun Jeketro

Ia memiliki banyak gagasan. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam program yang memiliki dasar perencanaan, sumber anggaran, target dan mekanisme pelaksanaan yang jelas.

Menjadi kepala desa bukan hanya soal memiliki banyak rencana. Setiap gagasan harus dihitung kebutuhannya, ditetapkan prioritasnya, ditempatkan dalam mekanisme perencanaan dan penganggaran desa, serta dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai ketentuan.

 

Bukan Lagi Soal dari Mana Ia Berasal

Kisah Surya pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang pemilah barang bekas yang memenangkan Pilkades.

Ini adalah perubahan peran. Seseorang yang sebelumnya sehari-hari berhadapan dengan barang bekas dari kawasan industri kini mendapatkan mandat untuk mengelola pemerintahan dan pembangunan di tingkat desa.

Ia sendiri menyadari besarnya tanggung jawab tersebut.

“Saya berharap ke depan bisa lebih baik dan amanah sebagai pemimpin desa serta bisa membangun desa ini,” kata Surya.

Meski telah terpilih, Surya mengatakan usaha pemilahan barang bekas tetap akan berjalan dengan bantuan para pekerjanya. Pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya tidak serta-merta ditinggalkan.

Pertemuan dengan Dedi Mulyadi kemudian membuka pembicaraan yang lebih luas: tentang sampah, ekonomi masyarakat, pembangunan desa hingga kehidupan seorang kepala desa terpilih yang masih menjalani kehidupan sederhana.

Kini, istilah “bersih-bersih” yang melekat pada Surya memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar. Sampah harus dibersihkan dari lingkungan, sementara tata kelola pemerintahan harus dibenahi dari dalam.

Tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa seorang pemilah barang bekas bisa memenangkan Pilkades.

Tantangannya adalah menerjemahkan kepercayaan warga menjadi pemerintahan yang terbuka, program yang nyata, pengelolaan sampah yang produktif dan pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Dari memilah barang bekas, Surya kini harus memilah pula mana persoalan desa yang harus segera diselesaikan, mana program yang perlu diprioritaskan, dan mana janji yang harus dibuktikan.

Sebab setelah kemenangan selesai, pekerjaan sebagai kepala desa justru baru dimulai.

 

Sumber: Reel Kang Rali Darwin dan sejumlah pemberitaan media lainnya