BERITA

Di Balik Dinding Rusunawa, Kisah Pilu Simbah Sri dan Sugito Menanti Uluran Tangan: Diabetes, Stroke, dan Mimpi Hidup Layak di Usia Senja

85
×

Di Balik Dinding Rusunawa, Kisah Pilu Simbah Sri dan Sugito Menanti Uluran Tangan: Diabetes, Stroke, dan Mimpi Hidup Layak di Usia Senja

Sebarkan artikel ini

Tombak Rakyat.com – Klaten – Kisah pilu Simbah Sri dan Sugito di Rusunawa Klaten diabetes, stroke, dan harapan uluran tangan.Rabu (28/1/2026)

 

Pasangan lansia di Rusunawa Klaten terlilit diabetes, stroke, tunggakan. Butuh uluran tangan untuk kehidupan yang lebih layak.

 

Kehidupan Sri Endang Hartiningsih (65) dan Sugito (70) di Rusunawa Klaten penuh dengan cobaan. Sri Endang harus menjalani amputasi akibat diabetes, sementara Sugito menderita stroke yang mengganggu komunikasinya. Pasangan lansia ini hidup berdua di lantai 4 rusunawa dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

 

 

Selain bergulat dengan penyakit, mereka juga terlilit tunggakan rusunawa yang mencapai 4 juta rupiah selama 2 tahun. Keduanya tidak bekerja dan hanya mengandalkan belas kasihan tetangga untuk makan sehari-hari.

Baca Juga  Fransiskus, Pemulung Jadi Duta Anti Narkoba Indonesia: Kisah Inspiratif Pelajar Klaten Buktikan Latar Belakang Bukan Penghalang, Cita-Cita Jadi Konselor untuk Selamatkan Generasi Muda

 

“Simbah putrinya pasrah, wes nglokro dah nyerah,” ujar Anton Sanjaya, seorang relawan dan aktivis anti narkoba yang turut membantu.

Anton mengusulkan agar Sri Endang dan Sugito dipindahkan ke panti jompo atau panti sosial agar kehidupannya terjamin, terutama pasca operasi amputasi. Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan penanganan dan pengawasan luka bekas operasi, serta memberikan jaminan asupan gizi dan makanan yang penting bagi penderita diabetes.

 

Upaya pengajuan Program Keluarga Harapan (PKH) telah diproses. Dinas Sosial (Dinsos) juga telah memberikan bantuan jaminan hidup (jadup) sebelum operasi.

 

Namun, TKSK Klaten Utara menjelaskan bahwa aturan panti sosial mengharuskan penerima layanan dalam kondisi sehat dan tidak memiliki keluarga. Kondisi Sri Endang dan Sugito, serta fakta bahwa mereka memiliki anak, menjadi kendala.

Baca Juga  Petugas Panitia Desa Ponggok Rebut Kertas Absen Wartawan, Diduga Ganggu Kerja Jurnalistik

 

“Keluarganya sudah tidak peduli,” ungkap salah satu tetangga.

 

Sri Endang dan Sugito memiliki empat orang anak. Satu tinggal di Pedan, satu di Trucuk, satu lagi di rusunawa (namun kini menghilang karena tunggakan), dan satu di Jakarta.

 

Anton telah berkoordinasi dengan Kepala Dinsos Klaten, Puspo Enggar Hastuti,terkait assessment untuk mencari solusi terbaik. Ia juga telah menaikkan desil di kelurahan agar keluarga ini dapat segera menerima bantuan PKH,tapi memang perlu proses.

 

Beruntung, Sri Endang telah terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) sehingga dapat menjalani operasi amputasi.

Baca Juga  DISSOSP3APPKB Klaten Selamatkan Bayi Dari Lingkungan Tak Kondusif, Koordinasi Cepat Atasi Kasus Disabilitas Mental Dan Penelantaran

 

Assessment lanjutan dilakukan untuk membantu jaminan hidup, pengobatan harian pasca operasi, dan tunggakan rusunawa.

 

“Semoga saja cepat di tindak lanjuti,” ujar Anton.

 

“Kami Disperakim Klaten juga hati-hati dalam menyikapi ini,” lanjutnya.

 

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Klaten telah berkoordinasi dengan Bupati terkait permasalahan ini.

 

Meski menghadapi berbagai kendala, Anton dan relawan lainnya terus berupaya mencari solusi terbaik bagi Sri Endang dan Sugito. Uluran tangan dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk meringankan beban hidup pasangan lansia ini.

 

 

 

( Desi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *