Mohammad Rifqi – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
YOGYAKARTA, TOMBAKRAKYAT.COM – Pemerintah Indonesia sangat memperhatikan pelaksanaan pendidikan, terlihat pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4), yang menekankan tanggung jawab pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan masih menghadapi beberapa tantangan yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan Indonesia (Fitri, 2021).
Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa Indonesia berada diposisi 74 dari 79 negara yang berpartisipasi dalam penilaian tersebut. Sementara itu, terjadi ketimpangan pendidikan antara daerah perkotaan dengan pedesaan yang sangat signifikan. Pada daerah pedesaan sekitar 5,11% penduduk desa tidak pernah mendapatkan pendidikan dan 12,39% tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Sebaliknya, di daerah perkotaan hanya 1,93% penduduk yang tidak pernah sekolah dan 6,62% tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Selain itu, data juga mengindikasikan bahwa diperkotaan sebanyak 49,16% penduduk telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA atau setara, sedangkan dipedesaan hanya 27,98% penduduk yang berhasil menyelesaikan jenjang tersebut (BPS, 2023).
Gambar 1. Tingkat ketimpangan pendidikan
antara perkotaan dengan pedesaan

Sumber: BPS
Secara keseluruhan data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas penduduk di daerah pedesaan hanya bisa menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar yaitu sekitar 31,13%. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerataan pendidikan belum mencapai kondisi yang ideal.
Ketidakmerataan pendidikan disebabkan karena tingkat pendidikan (yang mencakup akses, distribusi sekolah, dan perbandingan antara jumlah sekolah dengan populasi), sebagian daerah masih perlu perbaikan dalam Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitas, dan infrastruktur lainnya. Masalah lain muncul karena banyaknya daerah pedesaan yang terisolasi sehingga menghadapi kesulitan dalam memperoleh layanan pendidikan (Zulkarnaen & Dwi, 2019). Hal ini menimbulkan dambak yang sangat signifikan, yakni pada aspek literasi, kesulitan membaca.
Gambar 2. Tingkat kemampuan membaca di Indonesia

Sumber: Studi PISA
Berdasarkan hasil studi pada Gambar 2 diatas, kemampuan membaca pada tahun 2022 hanya mencapai 359 poin, lebih rendah dibandingkan pada tahun 2018 yang tercatat 371 poin. Jika ditelisik lebih mendalam, poin literasi membaca Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun 2000. Artinya poin literasi membaca Indonesia bukan semakin membaik melainkan semakin memburuk. Selain itu, Indonesia juga mengalami penurunan skor dibidang sains dan matematika. Skor dibidang matematika tercatat 366 poin, yang juga lebih rendah dibandingkan dengan 379 poin pada tahun 2018. Sedangkan skor sains juga mengalami penurunan dari 379 poin pada tahun 2018 ke 366 poin pada tahun 2022.
Kemerosotam ini berdampak nyata pada kompetensi dan kualitas SDM itu sendiri, yang sangat berpengaruh dalam dunia pekerjaan. Seperti yang dilakukan Populix dan KitaLulus, melakukan penelitian terhadap 1.330 individu yang sedang mencari pekerjaan, 530 orang yang merekrut, serta 100 perusahaan. Penelitian ini juga merujuk pada satu juta informasi yang diperoleh dari situs lowongan kerja KitaLulus.
Gambar 3. Tantangan yang dihadapi dalam mencari calon pekerja

Sumber: Populix
Berdasarkan Gambar 3 diatas menunjukkan bahwa 46% perusahaan menghadapi tantangan dalam mencari kandidat karyawan yang sesuai karena terdapat perbedaan antara apa yang dibutuhkan oleh pemberi kerja dan kemampuan tenaga kerja yang ada. Situasi ini semakin buruk oleh minimnya soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, kerja tim, dan manajemen waktu, yang diakui oleh 35% perusahaan sebagai halangan utama. Maka dari itu, perlu sebuah media sebagai strategi untuk mengatasi hal tersebut seperti iBOOKS.
iBOOKS merupakan platform digital yang dirancang untuk menyediakan layanan dan sumber daya pembelajaran secara terbuka, inklusif, serta berkeadilan untuk semua kelompok masyarakat tanpa memandang asal usul sosial, ekonomi, atau lokasi geografis. Berteknologi blockchain platform ini mengintegrasikan sistem penyimpanan data, verifikasi capaian belajar, dan distribusi materi secara terdensentralisasi, transparan, serta aman sehingga seluruh aktivitas dapat dipertanggungjawabkan. Melalui pemanfaatan teknologi digital seperti cloud computing, artificial intelligence, dan blockchain network diharapkan mampu mengatasi kesenjangan pendidikan, memperluas akses terhadap pembelajaran berkualitas serta mendukung terwujudnya pemerataan pendidikan di Indonesia.
Platform ini memiliki berbagai fitur, yaitu:
- SmartLearn: Pada fitur ini membuat pengalaman membaca di smartphone semakin nyaman. Terdapat beberapa pengaturan untuk mengedit font, ukuran, warna tulisan, dan masih banyak lagi. Terdapat juga kolom komentar dan vote sehingga bisa saling tukar pengalaman membaca. Bahkan bisa berpendapat (kritik/saran) terhadap buku Ragam fitur ini juga menyediakan fitur offline sehingga sangat membantu tanpa harus menggunakan kuota.
- SkillGrow: Pada fitur ini terdapat berbagai pelatihan untuk meningkatkan soft skill. Terdapat video dan modul latihan yang meliputi isi dari kompetensi dasar sampai tugas.
- EduConnect: Pada fitur ini menyediakan proses belajar mengajar dengan metode take and give, peserta didik dapat mengerjakan soal sesuai petunjuk. Selain itu fitur ini juga dilengkapi Closed Circuit Television (CCTV) sehingga pendidik dapat memonitor atau mengetahui secara langsung.
- AdaptiveLearning: Fitur ini menyediakan aksesibilitas, seperti Mode suara (text to speech) untuk tunanetra, subtitel dan video bahasa isyarat untuk tunarungu.
Gambar 4. Tampilan iBOOKS

Pendidikan inklusif di Indonesia bukan hanya cita-cita, melainkan tujuan realistis yang dapat dicapai. Melalui iBOOKS, cita-cita tersebut dapat diwujudkan dengan penyediaan pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh semua kalangan (inklusif). Lebih jauh, generasi muda memiliki peran penting sebagai penggerak inovasi ini. Pada akhirnya, iBOOKS menjadi simbol bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan siapapun dibelakang (no none left behind), iBOOKS dapat menjadi katalisator strategis dalam mempersempit kesenjangan akses antara kota dengan desa, antara yang mampu dan tidak mampu.
Referensi:
Badan Pusat Statistik. (2023). Presentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Menurut Klarifikasi Desa, Jenis Kelamin, dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2009-2023.
Schleiher, A. (2019). PISA 2018: Insights and interpretations. Oecd Publishing.
Fitri, S.F.N. (2021). Problematika Kualitas Pendidikan di Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 1617-1620.
Zulkarnaen, Z., & Dwi Handoyo, A. (1019). Faktor-faktor Penyebab Pendidikan Tidak Merata di Indonesia. Menjadi Mahasiswa yang Unggul di Era Industri, 4.












