TombakRakyat.com – Indramayu – Keterlibatan tenaga HATTRA (Penyehat Tradisional) dalam pelayanan kesehatan arus mudik 2026 di Kabupaten Indramayu menuai sorotan. Pasalnya, meski diminta berpartisipasi menjaga pos pelayanan kesehatan bagi para pemudik, para terapis disebut tidak mendapatkan dukungan operasional dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu.
Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi yang digelar pada 3 Maret 2026 bersama sejumlah perwakilan HATTRA. Dalam pertemuan tersebut, bagian Yankestrad (Pelayanan Kesehatan Tradisional) melalui Kabag terkait membuka kesempatan bagi para terapis untuk ikut serta membantu pelayanan kesehatan selama arus mudik.
Para anggota HATTRA dan Paguyuban Penyehat Tradisional Indonesia (PHATRI) dipersilakan mendaftar dan bertugas di pos pelayanan kesehatan yang ditempatkan di UPPKB Jembatan Timbang Losarang, salah satu titik strategis jalur Pantura yang setiap tahun dilintasi ribuan pemudik.
Namun di balik ajakan partisipasi tersebut, muncul kritik tajam dari para terapis. Mereka mengaku tidak mendapatkan dukungan logistik maupun konsumsi selama bertugas di pos pelayanan tersebut. Bahkan untuk kebutuhan dasar seperti makan sahur dan berbuka puasa selama Ramadan, para terapis diminta menanggung sendiri.
Alasan yang disampaikan pihak dinas adalah tidak tersedianya anggaran untuk mendukung operasional petugas HATTRA selama arus mudik berlangsung.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen pemerintah daerah dalam melibatkan tenaga kesehatan tradisional. Di satu sisi, pemerintah mengajak mereka membantu pelayanan publik, namun di sisi lain tidak menyiapkan dukungan minimal bagi para petugas yang berjaga di lapangan.
Sejumlah terapis menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan kesan bahwa tenaga kesehatan tradisional hanya dijadikan pelengkap program tanpa adanya penghargaan yang layak terhadap kontribusi mereka.
“Kalau memang kami dilibatkan untuk membantu pelayanan kesehatan pemudik, seharusnya ada perhatian dari dinas, minimal dukungan konsumsi atau fasilitas dasar selama bertugas,” ujar salah satu perwakilan HATTRA.
Para terapis berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu dan Kabag Yankestrad dapat melakukan evaluasi serius terhadap pola kemitraan dengan tenaga kesehatan tradisional. Dukungan yang proporsional dinilai penting agar partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan tidak terkesan sekadar formalitas program.
Momentum arus mudik setiap tahun seharusnya menjadi ruang kolaborasi yang adil antara pemerintah dan komunitas kesehatan. Tanpa dukungan yang jelas, semangat pengabdian para terapis dikhawatirkan justru berubah menjadi bentuk pengorbanan sepihak.












