OPINI & ANALISIS

Ketika Murid Melawan Guru: Cermin Retak Bernama Rumah dan Sekolah

62
×

Ketika Murid Melawan Guru: Cermin Retak Bernama Rumah dan Sekolah

Sebarkan artikel ini

Ketika Murid Melawan Guru: Cermin Retak Bernama Rumah dan Sekolah. (Dari Langsa ke Jawa Tengah, kita sedang memanen kegagalan yang sama)

 

TOMBAKOPINI: Kritikaputri

 

Dunia pendidikan di Kota Langsa, Aceh, menjadi sorotan publik setelah beredarnya sebuah video berdurasi 25 detik yang memperlihatkan tindakan tidak pantas seorang siswi terhadap gurunya. Video tersebut mendadak viral di berbagai platform media sosial sejak Jumat (24/4) dan memicu keprihatinan luas dari masyarakat.

 

Peristiwa di Langsa itu bukan sekadar video viral yang lewat di linimasa. Ia adalah alarm keras—potret retaknya dua institusi paling mendasar dalam kehidupan kita: rumah dan sekolah.

 

Selama ini, Aceh dikenal dengan identitas religius yang kuat. Adab, penghormatan kepada orang tua, dan takzim kepada guru bukan sekadar slogan—itu fondasi. Tapi ketika seorang murid berani mendorong gurunya di dalam kelas, kita tidak bisa lagi berlindung di balik identitas. Kita dipaksa jujur: ada yang tidak lagi utuh dalam proses pembentukan manusia itu sendiri.

Baca Juga  Transfer Ke Daerah Dipangkas: Rakyat Dibenturkan dengan Pemerintahnya Sendiri?

 

Dan masalahnya, ini bukan hanya tentang Aceh.

Di Jawa Tengah—dari kota seperti Semarang hingga wilayah penyangga seperti Kendal—gejala yang sama mulai terasa. Guru mengeluh kehilangan wibawa. Orang tua lebih cepat membela anak daripada mengevaluasi.

 

Sekolah berjalan seperti institusi administratif: sibuk dengan kurikulum, laporan, dan formalitas—tapi kosong dalam pembentukan karakter.

 

Kita sedang menyaksikan pola yang sama, hanya dengan latar yang berbeda.

 

Di banyak keluarga hari ini, fungsi rumah telah bergeser. Ia bukan lagi tempat pertama menanamkan batas, melainkan sekadar tempat singgah.

 

Anak tumbuh lebih dekat dengan layar daripada dengan teladan.

 

Orang tua hadir secara fisik, tapi absen dalam nilai.

 

Tidak ada konsistensi, tidak ada ketegasan, tidak ada contoh nyata tentang hormat dan tanggung jawab.

Baca Juga  Parate Eksekusi dan Penetapan Nilai Limit Lelang di Bawah Harga Pasar: Ketimpangan Perlindungan Hukum bagi Debitur

 

Ketika anak seperti ini masuk ke sekolah, benturan itu bukan kemungkinan—ia kepastian.

 

Lalu bagaimana dengan sekolah?

Jangan buru-buru merasa benar.

Guru hari ini tidak hanya dituntut mengajar, tapi juga dituntut berhitung dengan risiko. Sedikit keras bisa dilaporkan. Sedikit tegas bisa diviralkan. Ruang kelas bukan lagi ruang otoritas moral, tapi ruang yang diawasi oleh potensi konflik.

 

Akibatnya, yang tumbuh bukan pendidikan yang tegas dan membentuk, melainkan kehati-hatian yang berlebihan.

Guru memilih aman.

 

Murid membaca itu sebagai kelemahan.

Di banyak ruang kelas di Semarang, Kendal, dan daerah lain, cerita ini berulang dalam bentuk yang lebih sunyi: kelas yang tidak kondusif, murid yang tak lagi segan, dan guru yang lebih memilih diam daripada berhadapan dengan risiko.

 

Tidak viral.

Tapi nyata.

 

Yang berbahaya bukan hanya aksi murid melawan guru.

Yang lebih berbahaya adalah ketika peristiwa seperti itu mulai terasa biasa.

Baca Juga  Keberanian Tidak Pernah Bekerja dari Balik Bayangan

 

Kita terlalu sering berhenti di reaksi: marah, menyalahkan, lalu lupa.

 

Seolah setiap kasus berdiri sendiri, padahal ini adalah gejala dari kerusakan yang lebih dalam—runtuhnya sistem nilai.

 

Aceh dengan syariatnya, Jawa Tengah dengan kultur Jawanya—keduanya punya warisan adab yang kuat. Tapi warisan tidak akan hidup dengan sendirinya. Ia harus diajarkan, ditegakkan, dan—yang paling penting—dicontohkan.

 

Jika rumah gagal, sekolah akan kewalahan.

Jika sekolah melemah, anak kehilangan arah.

Dan ketika keduanya retak bersamaan, maka yang kita saksikan hari ini bukan lagi penyimpangan—melainkan konsekuensi.

 

Jadi, pertanyaannya bukan lagi: siapa yang salah?

 

Pertanyaan yang lebih jujur—dan lebih tidak nyaman—adalah: siapa yang bersedia memulai perbaikan?

 

Karena jika tidak, peristiwa di Langsa itu bukan yang terakhir.

 

Ia hanya yang pertama yang sempat kita tonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *