TOMBAKESSAY : Emhape
Banalitas artinya keadaan yang dangkal, klise, atau kehilangan makna karena terlalu biasa dan diulang-ulang, sehingga tidak lagi memicu pikiran kritis atau kedalaman nalar.
Dalam konteks media dan jurnalisme, banalitas biasanya merujuk pada :
– Konten yang sensasional tapi miskin analisis
– Berita copy-paste, tanpa verifikasi dan konteks
– Isu penting yang dipermudah secara dangkal, dan
– Informasi yang diproduksi sekadar untuk klik dan viral, bukan pencerahan publik
Di tengah banjir informasi hari ini, persoalan utama media bukan lagi kekurangan berita, melainkan kelebihan berita yang miskin makna. Publik disuguhi ribuan judul setiap hari, tetapi sedikit yang benar-benar memperkaya nalar. Di sinilah banalitas media bekerja : menjadikan informasi sebagai rutinitas kosong, sensasi instan, dan komoditas klik.
Banalitas media lahir ketika berita diproduksi tanpa keberanian berpikir. Peristiwa direduksi menjadi keributan, konflik dipersempit menjadi drama personal, dan persoalan struktural disamarkan oleh narasi remeh-temeh.
Media berhenti bertanya mengapa dan untuk siapa, lalu sibuk mengejar siapa paling cepat dan paling ramai.
Dalam kondisi seperti itu, media tidak lagi berfungsi sebagai ruang publik yang rasional, melainkan berubah menjadi mesin kebisingan.
Publik dibuat reaktif, emosional, dan lelah tanpa pernah diajak memahami akar masalah. Yang viral dianggap penting, yang penting sering diabaikan.
Lebih berbahaya lagi, banalitas media sering menyamar sebagai netralitas.
Atas nama “imbang”, media menempatkan fakta dan kebohongan di posisi yang sama.
Atas nama “objektivitas”, ketidakadilan diperlakukan seolah sekadar perbedaan pendapat. Padahal, netral terhadap ketimpangan adalah keberpihakan pada status quo.
Tombakrakyat berdiri untuk melawan banalitas itu.
Melawan banalitas berarti menolak jurnalisme malas. Menolak berita copy-paste, narasi setengah matang, dan opini tanpa dasar.
Melawan banalitas berarti mengembalikan kerja jurnalistik sebagai kerja nalar: memeriksa data, menguji klaim kekuasaan, dan menyajikan konteks yang utuh bagi publik.
Bagi TombakRakyat, sedikit berita tidak masalah asal tajam.
Tidak viral bukanlah kegagalan, asal jujur dan bertanggung jawab.
Media kritis memang tidak selalu nyaman dibaca, karena ia memaksa pembaca berpikir, bukan sekadar mengonsumsi.
Melawan banalitas juga berarti memberi ruang bagi suara warga. Gagasan, kegelisahan, dan pengalaman publik bukan pelengkap, melainkan inti dari ruang demokrasi. Ketika warga diberi ruang berpikir dan berbicara, media kembali menjalankan fungsinya sebagai penghubung nalar sosial.
Di era disinformasi dan manipulasi algoritma, media yang memilih berpikir adalah bentuk perlawanan. Media yang setia pada akal sehat adalah tindakan politis dalam arti paling mulia : berpihak pada kepentingan publik.
Tombakrakyat memilih jalan itu.
Bukan jalan paling mudah.
Bukan jalan paling ramai.
Tapi jalan yang perlu.
Karena tanpa media yang melawan banalitas, publik hanya akan diwarisi kebisingan, bukan pemahaman berfikir konstruktif.












