BERITAPOLITIK & PEMERINTAHANProfile Tokoh

Visi Anak Kebun: Abdullah Vanath, Laut, Pala, dan Masa Depan Maluku

139
×

Visi Anak Kebun: Abdullah Vanath, Laut, Pala, dan Masa Depan Maluku

Sebarkan artikel ini
Istimewa

Maluku, TombakRakyat.com Ada kisah-kisah yang lahir bukan dari gemerlap ruang kekuasaan, melainkan dari tanah basah di kebun, dari tangan yang mengolah bumi dengan sabar. Kisah itu kini menjelma dalam sosok Abdullah Vanath, Wakil Gubernur Maluku, yang menapaki jalan panjang dari kebun pala menuju panggung pelayanan publik.

Ia tidak tumbuh di tengah hiruk-pikuk kota. Ia hidup sebagai petani—profesi yang kerap dipandang sebelah mata dalam hierarki sosial yang keliru. Namun dari situlah ia belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan konsistensi. Tanah mengajarkannya bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. Dan waktu membuktikan, latar belakang bukanlah batas bagi cita-cita.

Dalam perbincangan inspiratif di RRI Ambon, ia menegaskan bahwa petani bukan profesi kelas dua. Ada keberanian dalam kalimat itu—keberanian untuk meruntuhkan stigma, sekaligus membangun martabat. Sebab bagi Vanath, orang hebat tidak hanya lahir dari ruang-ruang berpendingin udara, tetapi juga dari ladang yang bersahaja.

Baca Juga  KONGRES LUAR BIASA PERHIMPUNAN MAHASISWA HUKUM INDONESIA (PERMAHI)

Pala, komoditas yang pernah menggetarkan peta perdagangan dunia, bukan sekadar hasil bumi. Ia adalah identitas, sejarah, dan kebanggaan Maluku. Dari rempah inilah dunia pernah menoleh ke timur. Maka ketika Vanath mengajak masyarakat kembali berkebun, itu bukan nostalgia romantik. Itu adalah ajakan strategis—menghidupkan kembali urat nadi ekonomi yang telah lama mengalir di tanah sendiri.

Realitas Maluku yang 93 persen wilayahnya adalah laut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Di sanalah paradoks itu berdiri: daerah dengan kekayaan alam melimpah, namun kemiskinan masih membelit petani dan nelayan. Vanath melihat ironi ini sebagai panggilan tanggung jawab. Ia mendorong agar kebijakan dan anggaran lebih berpihak pada sektor pertanian dan kelautan—dua fondasi yang selama ini menopang kehidupan rakyat kecil.

Baca Juga  Penolakan Keras Pedagang atas Pembongkaran Pasar Wanguk berakhir Ricuh

Namun ia juga sadar, pembangunan tidak cukup berhenti pada sumber daya alam. Masa depan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Generasi muda Maluku harus berpendidikan, tangguh, dan adaptif menghadapi era digital yang terus bergerak cepat. Teknologi akan menggeser banyak peran manusia; hanya mereka yang siap belajar dan berinovasi yang akan bertahan.

Langkahnya mendorong kehadiran RRI di Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, menjadi simbol lain dari keberpihakannya pada akses informasi. Di wilayah yang pernah terisolasi, radio menjadi jembatan—menghubungkan masyarakat dengan kebenaran, melindungi mereka dari kabar yang menyesatkan. Informasi, dalam konteks ini, adalah bagian dari pertahanan.

Editorial ini tidak sedang memuja individu. Ia hendak menegaskan sebuah pesan: bahwa perubahan bisa lahir dari siapa saja, dari latar belakang apa saja. Dari kebun pala yang sunyi, lahir gagasan tentang kedaulatan pangan. Dari tangan petani, tumbuh visi tentang keadilan anggaran. Dari desa yang jauh dari pusat kota, muncul tekad membangun daerah.

Baca Juga  Dapur Marhaen dan Cek Kesehatan Gratis Diserbu Warga Karanganyar

“Keberhasilan adalah milik orang yang konsisten dalam perjuangan,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung gema panjang. Ia seperti biji pala yang kecil, namun ketika ditanam dengan kesungguhan, mampu memberi aroma yang mengharumkan dunia.

Maluku hari ini membutuhkan lebih banyak kisah seperti ini—kisah tentang keberanian bermimpi, tentang kesetiaan pada akar, tentang keyakinan bahwa membangun daerah tidak harus meninggalkan identitasnya. Dari kebun pala ke pelayanan publik, perjalanan itu mengajarkan kita satu hal: kemajuan sejati tumbuh dari tanah sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *