OPINI & ANALISIS

Dari Tan Malaka ke Donald Trump: Ke Mana Arah Indonesia Emas 2045?

27
×

Dari Tan Malaka ke Donald Trump: Ke Mana Arah Indonesia Emas 2045?

Sebarkan artikel ini
ilustrasi:doc.trai
ilustrasi:doc.trai

TOMBAKOPINI : Emhape

 

Pada tahun 1920-an, seorang anak bangsa bernama Tan Malaka sudah berdiri di forum internasional, berdebat soal masa depan dunia dengan pemikir besar seperti Antonio Gramci

Itu bukan sekadar debat ideologi. Itu adalah simbol bahwa Indonesia—bahkan sebelum benar-benar merdeka—pernah memiliki manusia yang berpikir setara dengan tokoh dunia. Bangsa ini pernah melahirkan kader intelektual yang tidak minder di hadapan Barat.

Hari ini, hampir seabad kemudian, pertanyaannya justru terasa pahit:
mengapa sebagian elite kita terlihat begitu mudah tunduk pada tekanan global, terutama kepada kekuatan besar seperti Donald Trump dan kepentingan ekonomi-politik Amerika Serikat?

Lalu, bagaimana mungkin kita bicara tentang “Indonesia Emas 2045” jika arah bangsa sendiri sering tampak gamang?

Tan Malaka dan Tradisi Berpikir Merdeka

bukan sekadar aktivis. Ia adalah simbol keberanian intelektual bangsa terjajah. Dalam berbagai forum internasional, ia membawa gagasan bahwa bangsa-bangsa Asia harus mampu menentukan nasibnya sendiri, bukan menjadi pelayan kapitalisme global maupun alat kekuatan asing.

Sementara Antonio Gramci terkenal dengan teori hegemoni budaya—bahwa penguasaan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi lewat pengaruh budaya, media, pendidikan, dan cara berpikir.

Ironisnya, teori Gramsci justru sangat relevan melihat Indonesia hari ini.

Baca Juga  JNN: Dari Harapan Pengawasan Publik Menjadi Sekadar Balasan Chat? 

Kita memang sudah merdeka secara administratif sejak 1945. Tetapi dalam banyak aspek, pola pikir elite kita masih kolonial:

  • takut pada tekanan asing,
  • bergantung pada investasi luar,
  • bangga menjadi pasar,
  • namun gagal menjadi produsen kuat.

Akibatnya, bangsa besar ini sering kehilangan keberanian menentukan arah sendiri.

Indonesia Kaya, Tapi Mentalitasnya Sering Negara Pinggiran

Data menunjukkan Indonesia bukan negara kecil.

  • Penduduk Indonesia lebih dari 280 juta jiwa.
  • Indonesia termasuk anggota G20.
  • Cadangan nikel Indonesia terbesar di dunia.
  • Indonesia memiliki bonus demografi hingga sekitar 2035–2045.
  • Menurut berbagai proyeksi internasional, Indonesia diperkirakan masuk 5 besar ekonomi dunia pada 2045 jika pertumbuhan stabil.

Tetapi masalah utama bangsa ini bukan hanya sumber daya.
Masalah terbesarnya adalah keberanian politik dan kualitas kepemimpinan.

Kita sering melihat:

  • kebijakan berubah karena tekanan pasar global,
  • hilirisasi setengah hati,
  • ketergantungan pangan,
  • ketergantungan teknologi,
  • dan elite politik yang lebih sibuk menjaga kekuasaan dibanding membangun kemandirian nasional.

Indonesia akhirnya seperti raksasa yang tidak sadar dirinya besar.

Donald Trump dan Politik Global yang Kasar

Kebangkitan menunjukkan satu hal penting: dunia internasional tidak lagi bergerak dengan idealisme demokrasi semata, tetapi dengan kepentingan nasional yang brutal dan terang-terangan.

Baca Juga  Menenun Kemandirian Ekonomi dari Lereng Kendeng Hingga Pesisir Kangkung

Trump berkali-kali menekankan slogan “America First”.
Artinya jelas: kepentingan Amerika di atas segalanya.

Persoalannya, apakah elite Indonesia juga punya keberanian menerapkan “Indonesia First”?

Atau justru:

  • tunduk pada tekanan investasi asing,
  • takut kehilangan pujian Barat,
  • dan sibuk menjadi konsumen global?

Negara besar tidak dibangun dengan mental meminta belas kasihan dunia internasional. Negara besar dibangun dengan keberanian melindungi kepentingannya sendiri.

China melakukannya.
India melakukannya.
Vietnam mulai melakukannya.

Indonesia masih sering ragu-ragu.

Indonesia Emas 2045: Mimpi atau Strategi Nyata?

Pemerintah sering menggaungkan visi :

  • ekonomi maju,
  • SDM unggul,
  • teknologi berkembang,
  • kemiskinan turun,
  • Indonesia menjadi kekuatan dunia.

Namun pertanyaan mendasarnya sederhana:

Apakah Indonesia Emas bisa lahir dari budaya birokrasi yang korup, pendidikan yang tertinggal, dan elite yang minim keteladanan?

Data masih menunjukkan tantangan serius:

  • Korupsi masih tinggi.
  • Ketimpangan ekonomi besar.
  • Literasi membaca Indonesia masih rendah dibanding banyak negara maju.
  • Banyak lulusan pendidikan tidak sesuai kebutuhan industri.
  • Desa-desa masih menghadapi persoalan infrastruktur dasar dan kualitas layanan publik.

Kita terlalu sering sibuk membangun pencitraan kemajuan, tetapi lupa membangun karakter bangsa.

Baca Juga  Ketika Ambisi Mengalahkan Nilai Kehidupan: Refleksi dari Perjalanan SR

Padahal bangsa maju bukan hanya soal gedung tinggi dan jalan tol.
Bangsa maju adalah bangsa yang rakyatnya kritis, jujur, disiplin, dan percaya diri.

Masa Depan Bangsa Ditentukan oleh Mentalitas

Indonesia tidak kekurangan sumber daya.
Indonesia tidak kekurangan jumlah penduduk.
Indonesia juga tidak kekurangan slogan.

Yang sering kurang adalah:

  • keberanian berpikir merdeka,
  • konsistensi kebijakan,
  • dan pemimpin yang benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat jangka panjang.

Dulu, berani menantang arus dunia meski Indonesia belum merdeka.

Hari ini, setelah merdeka hampir 80 tahun, apakah elite kita masih punya keberanian intelektual seperti itu?

Atau kita justru semakin nyaman menjadi bangsa yang:

  • sibuk impor,
  • bangga jadi pasar,
  • dan mudah silau oleh kekuatan asing?

Penutup

Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya dengan baliho, seminar, atau slogan optimistis.

Ia hanya bisa lahir jika:

  • pendidikan diperkuat serius,
  • korupsi diberantas nyata,
  • industri nasional dibangun,
  • petani dan nelayan dilindungi,
  • dan negara memiliki keberanian politik untuk berdiri sejajar dengan dunia.

Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa sering kita memuji Indonesia.

Tetapi oleh seberapa berani kita mengoreksi arah bangsa sebelum terlambat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *