TOMBAKOPINI: IAB
Padalarang pagi ini masih setengah bangun. Udara dinginnya belum benar-benar pergi. Jalanan mulai ramai pelan-pelan. Motor lewat satu-satu, Saya berjalan kaki santai di sekitar penginapan dengan gaya seolah sedang mencari makna kehidupan. Padahal kenyataannya cuma cari sarapan sambil mengusir kantuk yang masih nempel di mata.
Saya melangkah pelan sambil menikmati suasana sampai tiba-tiba mata ini berhenti di sebuah papan nama jalan.
“Jalan G.A. Manullang.”
Langkah saya langsung melambat.
Sebagai orang Batak, refleks. Dalam hati saya langsung bertanya, “Lho… ini benar Manullang? Di Padalarang? Jangan-jangan saya masih mimpi gara-gara kurang kopi.”
Karena penasaran, saya akhirnya berhenti di sebuah warung kecil dekat situ. Warung sederhana dengan bangku kayu. Saya duduk, lalu memesan seporsi kupat tahu Padalarang dan segelas kopi hitam.
Tak lama kemudian makanan datang.
Kuah kupat tahunya hangat dan aromanya langsung bikin perut merasa dihargai sebagai manusia. Kerupuknya renyah, tahunya lembut, dan sambalnya punya niat tulus membangunkan orang yang masih setengah sadar. Sementara kopi hitamnya pahit dengan cara yang elegan.
Sambil makan, saya membuka ponsel dan mulai bertanya kepada Mbah Google:
“Siapa G.A. Manullang?”
Awalnya saya kira beliau mungkin tokoh masyarakat biasa atau orang penting lokal Padalarang. Ternyata saya salah besar.
Nama itu milik Gustav Adolf Manullang, seorang perwira TNI Angkatan Darat dan komandan pertama Yonkav 7/Sersus. Beliau lahir di Matiti I, Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, pada 14 Mei 1929. Saya mulai membaca lebih serius. Kupat tahu mendadak terasa seperti makanan pembuka menuju pelajaran sejarah yang tidak pernah saya duga.
Ternyata perjalanan hidup beliau luar biasa jauh. Bukan cuma dari tanah Batak menuju Jawa Barat, tapi bahkan sampai ke Kongo, Afrika.
Beliau gugur saat menjalankan misi perdamaian dalam Kontingen Garuda III di bawah PBB di Kongo pada 24 April 1963. Usianya baru 33 tahun.
Tapi beliau sudah berada jauh di negeri orang demi menjalankan tugas kemanusiaan.
Saya mendadak diam.
Kupat tahu tinggal separuh. Kopi mulai dingin. Jalanan Padalarang tetap ramai seperti biasa, tapi kepala saya sibuk membayangkan bagaimana seorang anak dari tanah Batak bisa berakhir menjadi nama jalan di Jawa Barat karena pengabdiannya kepada negara.
Ternyata batalyon yang beliau pimpin dulu pernah bermarkas di Padalarang. Dari situlah hubungan itu berasal. Nama itu bukan sekadar tulisan di papan jalan yang lewat begitu saja. Ada sejarah panjang, ada pengabdian, ada keberanian yang diam-diam tetap hidup meski orang-orang mungkin sering melewatinya tanpa tahu cerita di baliknya.
Dan di situlah saya sadar, kadang perjalanan paling menarik memang datang tanpa rencana.
Pagi itu saya cuma berniat jalan kaki cari sarapan. Tidak ada niat belajar sejarah. Tidak ada niat merenung tentang keberanian dan pengabdian. Tapi Padalarang rupanya punya cara unik untuk bercerita.
Lewat semangkuk kupat tahu, segelas kopi hitam, dan sebuah nama jalan sederhana, kota kecil ini seperti mengingatkan bahwa Indonesia penuh dengan kisah besar yang tersembunyi di tempat-tempat kecil.
Kadang kita cuma perlu berhenti sebentar.
Duduk di warung pinggir jalan.
Memesan kopi.
Lalu mau sedikit penasaran.
Dan sejak pagi itu, setiap kali mendengar nama Manullang, saya bukan cuma teringat kampung halaman atau pesta adat Batak yang musiknya bisa mulai sore dan selesai saat ayam sudah bingung mau berkokok lagi. Saya juga akan teringat Padalarang. Kota kecil yang diam-diam menyimpan kisah besar tentang seorang perwira yang pengabdiannya bahkan menembus sampai benua Afrika.












