OPINI & ANALISIS

Kecamatan Arse: View-nya Menenangkan, Jalannya Mengguncang Keimanan

54
×

Kecamatan Arse: View-nya Menenangkan, Jalannya Mengguncang Keimanan

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

Minum dulu kopinya, Bang. Karena cerita tentang Kecamatan Arse ini paling cocok dibaca sambil menyeruput kopi panas dan sesekali mengelus dada. Bukan karena kisah cintanya tragis, tapi karena jalannya kadang lebih bergelombang daripada hubungan tanpa kepastian. Sekali lewat, pinggang langsung paham arti perjuangan.

 

Kita jalan-jalan dulu ke Kecamatan Arse, salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan yang lahir berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 tanggal 26 Mei 1999. Dulu Arse masih bagian dari Kecamatan Sipirok sebelum akhirnya berdiri sendiri. Ibukotanya berada di Arse dan saat ini dipimpin Camat Partahian Ritonga, S.Ag. Nama yang terdengar tegas, cocok memimpin daerah yang warganya sudah kenyang menghadapi medan kehidupan.

 

Soal nama Arse sendiri ada dua versi cerita. Versi pertama berasal dari Bahasa Batak Angkola, yaitu nama pohon kayu keras bernama arse yang dulu tumbuh dominan di wilayah ini. Karena pohonnya banyak, masyarakat pun menamai kampung itu Arse. Orang dulu memang sederhana kalau memberi nama tempat. Belum ada rapat branding, seminar motivasi, atau konsultan logo berbayar mahal.

Baca Juga  Kekuasaan, Wacana, dan Bayang-Bayang Pemerintahan

 

Versi kedua lebih dramatis. Konon Arse berasal dari kata “Arsenal”, gudang peluru tentara Belanda. Katanya daerah ini dulu jadi pusat logistik persenjataan kolonial di Tapanuli. Jadi kalau sekarang shockbreaker motor menjerit setiap melewati jalan berlubang, mungkin itu bagian dari warisan sejarah juga. Bedanya dulu yang lewat tentara kolonial, sekarang yang lewat bapak-bapak bawa pupuk sambil menahan tulang belakang.

 

Padahal Arse bukan daerah miskin hasil bumi. Tanahnya subur kali. Di sini tumbuh padi, jagung, kopi, gula merah, ijuk, kolang-kaling, kemiri sampai kulit manis. Udara dingin, alam hijau, kopi mantap. Kalau soal kekayaan alam, Arse sebenarnya tidak kalah. Yang sering kalah cuma perhatian pembangunan. Alamnya cantik, tapi aksesnya kadang bikin orang bertanya, “Ini mau wisata atau mau latihan survival?”

 

Mayoritas masyarakatnya berasal dari suku Batak dengan marga Pane, Batubara, dan Siregar. Orang-orangnya tangguh seperti kayu arse itu sendiri. Pagi ke sawah, siang ke ladang, malam ngopi sambil membahas cuaca, harga pupuk, dan jalan rusak yang tak kunjung sembuh. Di sini, obrolan soal jalan rusak sudah seperti lagu wajib. Diputar terus dari tahun ke tahun, hanya penyanyinya saja yang berganti.

Baca Juga  Menentukan Arah Pergerakan : Antara Kemandirian dan Ketergantungan

 

Luas wilayahnya sekitar 265,90 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 8.677 jiwa yang tersebar di dua kelurahan dan delapan desa. Ada Kelurahan Lancat dan Arse Nauli. Lalu desa-desa seperti Sipogu, Desa Dalihan Natolu, Natambang Roncitan, Nanggar Jati, Nanggar Jati Hutapadang, Aek Haminjon, Pardomuan, dan Pinagar. Nama-nama yang kalau dibaca orang luar mungkin terdengar seperti judul lagu etnik, padahal di situlah ribuan orang menjalani hidup dengan segala kesederhanaannya.

 

Di bidang pendidikan ada 12 SD, 2 SMP, 1 SMA, dan 1 SMK. Tidak banyak memang, tapi semangat anak-anak sekolah di sini luar biasa. Mereka pergi belajar melewati jalan yang kadang lebih cocok jadi arena motocross.

 

Fasilitas kesehatannya juga sederhana. Hanya ada 1 Puskesmas, 2 Pustu, 1 Poskesdes, dan 27 Posyandu. Rumah sakit, klinik, bahkan apotek belum tersedia. Jadi masyarakat di sini kadang harus lebih sehat dulu sebelum pergi berobat

 

Nah, soal jalan ini memang bagian paling sensitif. Jalan provinsi yang melintasi Arse sekitar 20 kilometer. Namun sekitar 4 kilometer dari Desa Pinagar menuju kantor camat rusak parah. Sisanya rusak sedang menuju perbatasan Saipar Dolok Hole. Kalau naik motor di sana, rasanya bukan berkendara lagi, tapi ikut lomba bertahan hidup sambil menjaga pinggang tetap waras.

Baca Juga  Suara Guru di Ujung Senyap : Kritik Dibalas Mutasi

 

Yang paling sering dibicarakan belakangan ini adalah Desa Dalihan Natolu. Desa yang viral karena kondisi sarana dasarnya jauh dari kata layak. Jalan minim, penerangan terbatas, akses kesehatan sulit. Ironis rasanya ketika Indonesia sudah merdeka puluhan tahun, tetapi masih ada kampung yang terasa seperti menunggu disentuh negara.

 

Namun di balik semua itu, Arse tetap menyimpan keindahan dan cerita. Ada Batu Nanggar Jati di Hutapadang, batu tinggi yang diselimuti legenda cinta Datuk Tongku Malim Leman dan Mombang Suro dari khayangan. Dulu kisah cinta orang sampai melibatkan langit dan batu raksasa. Sekarang? Baru dibalas “wkwk” saja sudah disimpan di screenshot.

 

Arse memang tidak miskin keindahan. Ia hanya terlalu lama kaya kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *