TOMBAKOPINI: IAB
Senin ini kita awali dengan dunia hewan dulu, Bang. Hewan yang wajahnya lucu, jalannya anggun, tapi sikapnya kadang seperti majikan kos-kosan yang lagi menilai penghuni kontrakan: kucing.
Tapi sebelum cerita dimulai, seruput dulu kopinya pelan-pelan. Karena pembahasan soal kucing ini ternyata panjang juga. Mulai dari sejarah ribuan tahun, sampai fakta bahwa manusia modern sekarang rela kerja lembur demi beli makanan si kucing dengan rasa tuna impor.
Secara ilmiah, kucing dikenal dengan nama Felis catus. Masih keluarga besar Felidae, alias kerabat jauhnya harimau, singa, macan tutul, sampai jaguar. Jadi kalau ada kucing rumahan berjalan sambil menatap tajam ke arah kita, mungkin dalam hatinya dia merasa dirinya harimau. Bedanya cuma ukuran badan dan cicilan hidup saja.
Para ahli bilang asal-usul kucing peliharaan berasal dari kawasan Timur Tengah, tepatnya daerah bulan sabit subur atau fertile crescent. Dulu, ketika manusia mulai belajar bercocok tanam, muncullah masalah klasik umat manusia: tikus. Nah, di situlah kucing mulai naik panggung. Mereka dipakai sebagai pemburu hama di lumbung-lumbung gandum.
Lucunya, hubungan manusia dan kucing sejak awal memang terasa unik. Manusia merasa memelihara kucing, padahal kadang yang terjadi sebaliknya. Kucing datang, tidur di rumah, makan gratis, lalu bertingkah seolah dia pemilik sertifikat tanah.
Menurut penelitian, proses domestikasi kucing sudah dimulai sekitar 12 ribu tahun lalu. Jadi sebelum manusia kenal media sosial, sebelum ada drama grup WhatsApp keluarga, kucing sudah lebih dulu sukses membuat manusia jatuh hati.
Dulu orang mengira Mesir adalah tempat awal domestikasi kucing. Wajar sih, karena bangsa Mesir kuno memang memuliakan hewan ini seperti selebritas papan atas. Mereka bahkan punya Dewi Bastet yang berwajah kucing. Belum lagi Sphinx dekat Piramida Giza yang bentuknya mirip proyek patung kucing versi APBN zaman kuno.
Tapi kemudian ditemukan kerangka kucing di Pulau Siprus berusia sekitar 9.500 tahun. Yang bikin menarik, kerangka itu dikubur bersama manusia. Artinya sejak dulu, hubungan manusia dan kucing memang sudah dekat. Bisa jadi dulu pun ada manusia yang ngomong begini: “Kalau aku meninggal, tolong kuburkan aku sama si oyen.”
Dan hebatnya lagi, Siprus sebenarnya bukan habitat asli kucing. Artinya hewan ini kemungkinan sudah ikut naik kapal bersama manusia sejak ribuan tahun lalu. Jadi jangan salah, sebelum manusia sibuk flexing foto liburan di kapal pesiar, nenek moyang kucing sudah duluan jadi penumpang.
Di Indonesia sendiri, pecinta kucing jumlahnya luar biasa banyak. Ada yang pelihara kucing ras dengan makanan premium dan tempat tidur empuk. Ada juga yang memelihara kucing kampung yang makannya ikan asin tapi gaya jalannya tetap seperti direktur perusahaan.
Kucing memang punya bakat alami membuat manusia luluh. Tingkahnya absurd tapi menghibur. Baru saja dimarahi karena menjatuhkan gelas kopi, lima menit kemudian dia datang manja sambil mengeong kecil. Dan anehnya, manusia langsung memaafkan. Kalau yang menjatuhkan gelas itu teman sendiri, mungkin sudah diblokir dari grup WhatsApp.
Yang lebih menarik, ternyata memelihara kucing juga punya banyak manfaat kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa membelai kucing bisa membantu menurunkan tekanan darah dan stres. Masuk akal juga. Saat mendengar suara dengkurannya yang “ngggrrr… ngggrrr…”, rasanya pikiran jadi lebih tenang. Walau kadang habis itu charger HP digigit putus.
Ada juga penelitian yang menyebut pemilik kucing lebih rendah risiko terkena penyakit jantung. Mungkin karena tiap hari mereka latihan sabar. Sofa dicakar, gorden dipanjat, lauk di meja dicuri, tapi tetap bilang: “Gapapa, dia cuma lapar.”
Bahkan bagi anak-anak, kucing bisa membantu kesehatan mental dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jadi selain lucu, hewan ini juga seperti paket lengkap: penghibur, teman curhat, pengurang stres, sekaligus alarm alami jam lima pagi karena minta makan.
Akhirnya kita sadar satu hal, Bang. Dalam sejarah panjang peradaban manusia, mungkin kucing adalah satu-satunya makhluk yang berhasil membuat manusia rela jadi babu dengan sukarela.
Dan lucunya, manusia bahagia-bahagia saja menjalaninya.












