Warta Desa

Krisis Air Mulai Dirasakan Warga Dusun Jeketro

86
×

Krisis Air Mulai Dirasakan Warga Dusun Jeketro

Sebarkan artikel ini
Pembagian Air oleh petugas (Dok. Istimewa

PURWOREJO, TOMBAKRAKYAT.COM – Krisis air mulai dirasakan warga RW 03 Dusun Jeketro, Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kondisi tersebut mulai dirasakan warga sejak awal Oktober 2026, seiring debit sumber mata air yang terus menurun akibat kemarau panjang.

 

Untuk memenuhi kebutuhan warga, bantuan air mulai berdatangan sejak Jumat, 2 Oktober 2026, dan terus berlanjut hingga Selasa, 6 Oktober 2026.

 

Bantuan air tersebut datang secara bergantian dari sejumlah pihak. Pada Jumat (2/10/2026), bantuan air mulai disalurkan oleh Relawan Peduli menggunakan armada PDAM. Bantuan kemudian berlanjut dari Pemerintah Desa Kaligono melalui armada BPBD.

 

Selain bantuan dari lembaga dan relawan, kepedulian juga datang dari masyarakat secara perorangan. Bapak Dulsalam, warga Dusun Jetis, turut membantu menyediakan air karena di sekitar tempat tinggalnya masih terdapat sumber mata air yang mengalir. Bantuan juga datang dari Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Kaligesing.

Baca Juga  ACARA ADAT MAPAG SRI DESA KERTAMULYA: TRADISI SYUKUR PANEN YANG SARAT NILAI SOSIAL DAN BUDAYA

 

Bantuan tersebut terus dilakukan secara bergantian hingga Selasa (6/10/2026), untuk menjaga agar kebutuhan air warga Dusun Jeketro tetap dapat terpenuhi di tengah kondisi sumber mata air yang semakin menurun.

 

Mantan Kepala Dusun Jeketro yang saat ini menjabat sebagai Kaur Pembangunan Desa Kaligono, Dwi Wahyu Setiyono, saat mendampingi pendistribusian air mengatakan, bantuan tersebut sengaja didatangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang mulai terdampak kekeringan sejak awal Oktober 2026.

Antrian warga menerima pembagian Air (Dok.Istimewa/SM)

“Di saat musim kemarau panjang, ketika sumber mata air sudah mulai kering, tentunya warga masyarakat sangat membutuhkan air. Oleh sebab itu, kami selalu berkoordinasi dan saling bahu membahu, baik dengan pihak desa, relawan maupun perorangan, bagaimana agar kebutuhan air warga dapat selalu terpenuhi,” ujarnya.

 

Dwi Wahyu Setiyono juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu warga Dusun Jeketro.

Baca Juga  Jalan PISEW Sewuni–Krangkong Rusak: Warga Soroti Dump Truk Pengurugan Sawah Produktif

 

“Saya atas nama warga Dusun Jeketro mengucapkan banyak terima kasih kepada Relawan Peduli dan Bapak Dulsalam, warga Dusun Jetis, atas kepeduliannya turut membantu pengadaan air secara sukarela. Semoga menjadi ladang amal yang berkah bagi keluarga Bapak Dulsalam,” lanjutnya.

 

Sementara itu, petugas pengaturan aliran air di Dusun Jeketro, Sunarto, kepada TombakRakyat.com mengatakan, sumber mata air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga Dusun Jeketro debitnya sudah sangat kecil dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.

 

“Sumber mata air yang terletak di Hutan Siklotok untuk saat ini sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga. Debit airnya sudah sangat kecil,” tegas Sunarto.

 

Menurutnya, warga saat ini juga telah membuat bak penampungan air yang terbuat dari terpal di berbagai titik. Langkah tersebut dilakukan untuk mempermudah warga mendapatkan air ketika bantuan tiba.

Baca Juga  Gerak Cepat Kades Rowosari: Dana Pribadi dan Swadaya Warga Perbaiki Tanggul Jebol

 

“Warga membuat bak tampungan di berbagai titik guna mempermudah warga saat bantuan air tiba,” tambah Sunarto.

 

Distribusi air yang dilakukan sejak Jumat (2/10/2026) hingga Selasa (6/10/2026) menjadi langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang mulai kesulitan mendapatkan air untuk aktivitas sehari-hari.

 

Namun, distribusi air selama masa darurat tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kekeringan dalam jangka panjang. Ketika musim kemarau berkepanjangan terjadi, sumber mata air yang menjadi andalan warga kembali mengalami penurunan debit.

 

Pemerintah, mulai dari tingkat desa, perlu memastikan penanganan tidak berhenti pada respons darurat. Wilayah yang rawan kekeringan perlu dipetakan secara jelas, termasuk kebutuhan air, ketersediaan sumber air baku, serta kemampuan sarana penampungan dan distribusinya.

 

Langkah tersebut penting untuk memiliki data dan skema penanganan yang lebih baik ketika kekeringan kembali terjadi.