Profile Tokoh

Tiga Tokoh di Balik Islah PBNU: Merawat Ukhuwah, Menjaga Marwah Jam’iyah

233
×

Tiga Tokoh di Balik Islah PBNU: Merawat Ukhuwah, Menjaga Marwah Jam’iyah

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

TombakRakyat.comLirboyo Kediri Proses islah antara Rois Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menjadi momentum penting dalam perjalanan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Islah ini tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui ikhtiar panjang, dialog mendalam, serta ketulusan para ulama yang mengedepankan persatuan dan kemaslahatan umat.

Di balik proses tersebut, terdapat tiga tokoh kiai muda yang berperan signifikan dalam menjembatani komunikasi, merawat suasana kebatinan, dan menguatkan semangat persaudaraan di tubuh PBNU.

1. KH. Atthoillah Sholahuddin Anwar

Putra dari KH. Moh. Anwar Manshur (Lirboyo) ini dikenal sebagai sosok yang paling konsisten dan gigih menyuarakan pentingnya islah. Sejak awal, KH. Atthoillah aktif mengawal berbagai pertemuan Mustasyar dan kiai sepuh di sejumlah pesantren besar, seperti Ploso, Tebuireng, dan Lirboyo.

Baca Juga  Jangan Diam! Korupsi di NTT Harus Dibongkar : Negara Menjamin Perlindungan, Rakyat Wajib Berani

Atas kepercayaan Dewan Mustasyar dan para kiai sepuh, beliau diamanahi sebagai penghubung utama islah antara Rois Aam dan Ketua Umum PBNU. Peran ini dijalankan dengan penuh kehati-hatian, adab, dan keteguhan niat demi menjaga kehormatan para ulama serta marwah organisasi.

2. KH. Muhibbul Aman Aly

Kiai yang dikenal luas melalui fatwa “sound horeg” ini merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Besuk, Kejayan, Pasuruan, serta aktif sebagai pengajar dan perumus Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Baca Juga  Angelia Puspita Bangun Resmi Pimpin PHIGMA : Awal Era Baru Advokat Indonesia!

Dalam proses islah, KH. Muhibbul Aman Aly ditunjuk langsung oleh Dewan Mustasyar untuk mendampingi KH. Atthoillah Sholahuddin Anwar dalam membangun komunikasi dengan Rois Aam PBNU. Perannya menegaskan pentingnya pendekatan keilmuan, ketenangan, dan keteladanan pesantren dalam menyelesaikan dinamika organisasi.

3. KH. Abdul Muid Shohib Lirboyo

Meski tidak secara formal ditunjuk sebagai tim penghubung, KH. Abdul Muid Shohib tampil konsisten sebagai konseptor dan juru bicara dalam setiap pertemuan Mustasyar dan kiai sepuh, baik di Ploso, Tebuireng, Lirboyo, hingga forum resmi Tabayun Rois Aam dan Mustasyar di Lirboyo.

Baca Juga  DPRD Klaten Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2023, Dorong UMKM Go -Legal Lewat Sistem OSS

Forum terakhir inilah yang kemudian menghasilkan kesepakatan islah, menjadi penanda kuat bahwa musyawarah, ketulusan, dan kebijaksanaan ulama tetap menjadi jalan utama penyelesaian persoalan di NU.

Merawat Persatuan, Menjaga Warisan Ulama

Islah PBNU ini menjadi pelajaran berharga bagi umat dan bangsa bahwa perbedaan dapat diselesaikan dengan tabayun, musyawarah, dan keikhlasan, tanpa kegaduhan dan tanpa saling meniadakan.

Sejarah kelak akan mencatat ikhtiar dan perjuangan ketiga tokoh ini sebagai bagian dari upaya menjaga ukhuwah, marwah ulama, dan keutuhan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi langkah mereka dan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *