INTERNASIONALProfile TokohSOCIAL & BUDAYA

Birutė Mary Galdikas Telah Tiada, Orang Utan Kalimantan Kehilangan Ibu Rimbanya

78
×

Birutė Mary Galdikas Telah Tiada, Orang Utan Kalimantan Kehilangan Ibu Rimbanya

Sebarkan artikel ini
Birutė Mary Galdikas Telah Tiada, Orang Utan Kalimantan Kehilangan Ibu Rimbanya
Birutė Mary Galdikas Telah Tiada, Orang Utan Kalimantan Kehilangan Ibu Rimbanya

LOS ANGELES, TOMBAKRAKYAT.com  — Seruput dulu kopinya, Bang. Pelan saja. Karena kabar ini bukan untuk dikejar, tapi untuk diserap—pelan-pelan, seperti pahit yang diam-diam menghangatkan dada.

Pagi itu, ada yang berubah dari hutan-hutan jauh di Kalimantan. Angin berembus lebih lirih, seperti sedang menahan sesuatu yang tak ingin benar-benar dilepas. Dedaunan tak lagi riuh; mereka seperti tahu, ada satu nama yang baru saja hilang dari dunia manusia—tapi tidak dari ingatan rimba.

Birutė Mary Galdikas telah pergi. Dini hari, 24 Maret 2026, di Los Angeles, ia menghembuskan napas terakhirnya. Tenang, tanpa gegap gempita. Tapi kepergiannya bukan sunyi. Ia meninggalkan gema panjang—yang akan terus bergaung di antara batang-batang pohon tua dan jejak-jejak basah tanah hutan yang pernah ia jaga dengan hidupnya.

Ia bukan sekadar ilmuwan. Ia adalah anomali di dunia yang semakin bising. Ketika banyak orang mengejar kenyamanan, ia justru memilih jalan sunyi. Dari bangku University of California, Los Angeles, masa depannya seharusnya lurus: ruang kelas, jurnal ilmiah, konferensi internasional. Tapi hidupnya berbelok tajam—ke arah yang tak semua orang berani tempuh.
Ia memilih hutan.

Tahun 1971, ia menjejakkan kaki di Kalimantan. Bukan sebagai turis, bukan pula sebagai peneliti yang sekadar datang lalu pulang. Ia datang untuk tinggal. Untuk menjadi bagian dari denyut yang lebih tua dari peradaban manusia itu sendiri. Di sana, ia mendirikan Camp Leakey—sebuah tempat yang tak hanya menjadi pusat penelitian, tapi juga ruang perjumpaan antara ilmu dan kasih sayang.
Di tempat itu, teori kehilangan jarak dengan kenyataan. Ia tidak sekadar mengamati. Ia menggendong. Ia merawat. Ia menyembuhkan.

Baca Juga  ARIFA: 3 Km Jalan Kaki Siswa Berprestasi Klaten Mengejar Mimpi

Hari-harinya diisi oleh bayi-bayi orang utan yang kehilangan induk—korban dari kerakusan yang sering kita sebut “pembangunan.” Tangannya menjadi pengganti pelukan yang dirampas. Matanya menyaksikan luka-luka yang tak pernah tertulis dalam laporan resmi: hutan dibakar, habitat dihancurkan, dan kehidupan dipaksa menyerah pada mesin-mesin yang tak pernah merasa bersalah.

Di tengah semua itu, ia memilih untuk tetap tinggal.
Lebih dari dua ribu orang utan kembali ke rumahnya berkat kerja panjang yang nyaris tak pernah mendapat sorotan sebesar janji-janji pembangunan.

 

Di Taman Nasional Tanjung Puting, jejaknya tidak tertulis dalam prasasti, tapi dalam kehidupan yang terus berlanjut. Di setiap ayunan lengan orang utan yang kembali bebas, ada bagian dari dirinya yang hidup.

Ia bukan pahlawan yang mencari panggung. Ia bahkan sering bekerja dalam sunyi, melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri: keserakahan manusia.
Dan seperti banyak penjaga bumi lainnya, ia harus membayar mahal.

 

Asap dari kebakaran hutan—yang selama ini ia lawan—perlahan menjadi racun yang ia hirup sendiri. Tubuhnya yang dulu kuat mulai melemah. kanker paru-paru dan fibrosis paru menjadi lawan terakhir yang tak bisa ia hindari.

Baca Juga  Masjid Jami Nurul Hidayah Gelar Peringatan Isra Mi’raj, KH. Ulumuddin Sampaikan Tausiah Keutamaan Sholat

 

Ironis, bukan? Ia menghabiskan hidupnya menyelamatkan hutan dari api, tapi justru asap dari api itu yang akhirnya merenggut napasnya.
Namun bahkan dalam sakit, ia tidak benar-benar mundur.
Karena bagi orang seperti dia, perjuangan bukan pilihan sesaat. Ia adalah cara hidup.

 

Melalui Orangutan Foundation International, ia tidak hanya membangun lembaga. Ia membangun warisan. Sebuah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk menghitung keuntungan, masih ada manusia yang memilih untuk menjaga sesuatu yang tak bisa diuangkan: kehidupan itu sendiri.

 

Dan mungkin di situlah letak keanehan zaman ini.
Kita hidup di era di mana hutan dihitung dalam hektare yang bisa dikonversi, bukan kehidupan yang harus dilindungi. Orang utan dianggap angka dalam laporan, bukan makhluk yang memiliki ingatan, rasa, dan ikatan.

 

Sementara mereka yang berjuang seperti Galdikas, seringkali berdiri sendirian—melawan arus besar yang disebut “kemajuan.”
Tapi sejarah, Bang, seringkali tidak berpihak pada yang paling kuat. Ia berpihak pada mereka yang bertahan.

 

Kini, ia benar-benar beristirahat.
Tak ada lagi langkahnya di tanah basah Kalimantan. Tak ada lagi suaranya yang memanggil di antara pepohonan. Tak ada lagi tangannya yang menenangkan makhluk kecil yang kehilangan segalanya.

Baca Juga  NELAYAN BERDZIKIR : Harmoni Spiritual dan Tradisi Maritim di Gempolsewu.

 

Namun hutan tidak lupa.
Hutan selalu punya cara untuk mengingat. Ia menyimpan cerita dalam akar, dalam tanah, dalam suara-suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau diam sejenak.
Dan orang utan—makhluk yang pernah ia selamatkan—juga tidak lupa. Mungkin mereka tak mengenal nama. Tapi mereka mengenal rasa aman yang pernah diberikan. Mereka mengenal kehadiran yang tak menyakiti.
Dan mungkin, di suatu sudut rimba yang sunyi, seekor orang utan menatap langit lebih lama dari biasanya. Bukan karena ia mengerti kematian, tapi karena ia merasakan kehilangan yang tak bisa dijelaskan.

Kita, manusia, seringkali butuh kata-kata untuk mengerti duka. Tapi alam tidak.

Ia hanya diam. Tapi diamnya penuh makna.
Selamat jalan, ibu rimba.
Namamu tidak akan hilang. Ia tidak tertulis di baliho, tidak pula di spanduk proyek. Tapi ia tumbuh—di setiap daun yang masih hijau, di setiap napas hutan yang masih bertahan, di setiap kehidupan yang berhasil lolos dari kepunahan.

 

Dan di dunia yang semakin gaduh ini, mungkin kita perlu belajar lagi dari orang-orang seperti Galdikas: bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Kadang, mencintai berarti menjaga. Bahkan jika itu harus dibayar dengan seluruh hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *