OPINI & ANALISISSOCIAL & BUDAYA

NELAYAN BERDZIKIR : Harmoni Spiritual dan Tradisi Maritim di Gempolsewu.

408
×

NELAYAN BERDZIKIR : Harmoni Spiritual dan Tradisi Maritim di Gempolsewu.

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muhamad Heru Priono

TOMBAKRAKYAT.COM, OPINI : Desa Gempolsewu sebuah permata pesisir di pantai utara ujung barat kabupaten Kendal, Jawa Tengah, setiap tahunnya menjadi saksi sebuah tradisi unik yang menyatukan spiritualitas dan kehidupan maritim. “Nelayan Berdzikir,” sebuah acara tahunan yang sudah berjalan 7 tahun. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2018. Digagas oleh Syuriah NU dan dilaksanakan oleh generasi muda NU yang dimotori pengurus GP Anshor, bersama masyarakat nelayan desa setempat. Ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah perayaan syukur, harapan, dan persatuan yang mendalam.

 

Latar Belakang Historis dan Budaya

Dengan garis pantai yang memanjang dan kehidupan yang terikat erat dengan laut, desa Gempolsewu yang lebih populer dengan Tawang, memiliki sejarah panjang sebagai desa nelayan. Generasi demi generasi menggantungkan hidup pada hasil laut, mewarisi keterampilan, pengetahuan, dan juga kepercayaan yang telah diuji oleh waktu.

Kehidupan nelayan tidak selalu mudah; musim paceklik, atau musim hujan yang panjang dengan ombak besar yang menghalangi aktivitas melaut, adalah masa-masa sulit bagi para nelayan. Penghasilan berkurang drastis, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Di tengah ketidakpastian ini, dzikir menjadi oase spiritual, tempat mereka berharap, memperkuat komunitas, mencari kekuatan dan ketenangan batin. Menjadi jangkar yang menstabilkan.

Baca Juga  Ketika Pemuda Menjadi Bayang Kekuasaan: Membaca Risiko Nepotisme di Kendal

 

Tradisi Dzikir dan Kehidupan Masyarakat Nelayan

Tradisi dzikir, sebagai praktik mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan, telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat muslim di Indonesia, termasuk di Tawang.

GP Anshor, sebagai organisasi kepemudaan yang memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), melihat potensi besar dalam menggabungkan tradisi dzikir dengan kehidupan nelayan. Lahirlah “Nelayan Berdzikir,” sebuah acara yang dirancang untuk menghormati laut, memohon keselamatan, dan mempererat tali persaudaraan antar masyarakat nelayan.

Selain itu, acara ini juga menjadi momentum untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan alam. Para nelayan diingatkan untuk selalu menjaga kelestarian laut, tidak melakukan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, dan senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

 

Deskripsi Acara: Simfoni Ritual dan Warna

“Nelayan Berdzikir” bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah simfoni ritual yang melibatkan seluruh komunitas.

Pada hari pelaksanaan yang biasanya diselenggarakan di pelataran parkir Pelabuhan Perikanan Pantai atau Tempat Pelelangan Ikan tersebut, ribuan orang nelayan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga desa berbaur menjadi satu, menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, para nelayan dengan khusyuk mengikuti setiap bacaan, menghayati makna setiap kalimat, dan memohon ampunan atas segala dosa. Mereka berharap, dengan dzikir yang tulus, hati mereka menjadi lebih bersih, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih dekat dengan Allah SWT.

Baca Juga  Jangan Jadikan Kendal Rumah Aman Bagi Penyimpangan

Inti dari acara ini adalah dzikir bersama yang dipimpin oleh seorang Kyai atau Ulama kharismatik. Lantunan kalimat-kalimat thayyibah menggema menciptakan suasana khusyuk dan syahdu. Para peserta mengangkat tangan, memohon ampunan, keselamatan, dan keberkahan dari Alloh SWT.

Setelah dzikir, acara dilanjutkan dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti ceramah agama dan pertunjukan seni tradisional bernuansa islami.

 

Tujuan Mulia di Balik Tradisi

“Nelayan Berdzikir” memiliki tujuan yang mulia dan mendalam, antara lain:

1. Ungkapan Syukur: Sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, terutama hasil laut yang menjadi sumber kehidupan.

2. Memohon Keselamatan: Memohon keselamatan bagi para nelayan yang setiap hari berjuang di laut, serta perlindungan dari segala bencana dan marabahaya.

3. Mempererat Persaudaraan: Mempererat tali persaudaraan antar nelayan, antar warga desa, dan antara masyarakat dengan pemerintah.

4. Melestarikan Tradisi: Melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Baca Juga   Menguak Modus Korupsi Kreatif dalam Pengelolaan Dana Desa

5. Promosi Wisata: Mempromosikan potensi wisata desa Gempolsewu, khususnya wisata religi dan budaya.

 

Dampak Positif bagi Masyarakat

“Nelayan Berdzikir” telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Tawang Gempolsewu. Selain memperkuat dimensi spiritual, acara ini juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Para nelayan semakin termotivasi untuk menggunakan cara-cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta menjaga kebersihan pantai dan laut.

Selain itu, “Nelayan Berdzikir” juga memberikan dampak ekonomi yang positif. Acara ini menarik wisatawan dari berbagai daerah, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Para pedagang kecil, pengusaha kuliner, dan penyedia jasa lainnya merasakan manfaat langsung dari kehadiran wisatawan.

 

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tradisi, Dzikir sebagai Jangkar di tengah Badai

“Nelayan Berdzikir” lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia adalah manifestasi dari kearifan lokal masyarakat pesisir yang menjadikan spiritualitas sebagai jangkar di tengah badai kehidupan, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan berdamai dengan alam.

Semoga tradisi ini terus lestari dan memberikan manfaat bagi generasi-generasi mendatang, menjadi inspirasi bagi kita semua untuk senantiasa bersyukur, berdoa, dan berikhtiar dalam menghadapi setiap tantangan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *