OPINI & ANALISIS

Petani Milenial: Regenerasi atau “Disfungsi Mesin” Pangan?

54
×

Petani Milenial: Regenerasi atau “Disfungsi Mesin” Pangan?

Sebarkan artikel ini

Oleh: M.Fathurahman

Indonesia sedang berada di persimpangan jalan krusial, antara romantisme swasembada pangan era Orde Baru (Orba) dan kebutuhan mendesak akan modernisasi pertanian.Data BPS menunjukkan fenomena “aging farmer”—petani tua—yang mendominasi, sementara regenerasi ke petani milenial berjalan lamban.

Narasi recovery petani Orba menuju milenial seringkali terdengar utopis jika tidak melihat akar masalah: SDM yang mengalami “disfungsi mesin” dalam ekosistem otonomi daerah yang belum sinkron.

Disfungsi Mesin: SDM dan Teknologi

Meskipun pemerintah berupaya gencar dengan program petani milenial untuk menggaet 6,18 juta petani muda (data per awal 2025), tantangan utamanya bukan sekadar jumlah, melainkan disfungsi.

Baca Juga  Ironi Pembangunan Desa: Ketika Uang Rakyat Terbuang Sia-Sia?

SDM yang ada sering kali terhambat akses teknologi dan permodalan. Petani muda sering kali dihadapkan pada model “kerja keras” konvensional, bukan “kerja cerdas” digital.

Krisis sesungguhnya adalah ketika lahan-lahan pertanian kehilangan “pewaris” yang inovatif.Petani usia di atas 50 tahun (mayoritas saat ini) memiliki keterbatasan dalam mengadopsi teknologi baru.

Ketika tenaga kerja muda enggan terjun, mesin produksi pangan tidak akan maksimal, menciptakan disfungsi—potensi tinggi tapi output rendah.

Otonomi Daerah dan Resistensi Kepemimpinan

Di era otonomi, kebijakan pertanian sering terfragmentasi. Kepala daerah memiliki fokus yang berbeda-beda, tidak selalu mengutamakan pelindungan lahan sawah.

Baca Juga  Menakar Harga Pembangunan; Ketika Industrialisasi Global Memperlebar Jurang Sosial

Resistensi kepemimpinan terjadi ketika kebijakan pusat (ketahanan pangan) berbenturan dengan kepentingan daerah (alih fungsi lahan ke industri/perumahan).

Tanpa kepemimpinan lokal yang “melek” kedaulatan pangan, regenerasi petani milenial akan sia-sia karena tidak ada lagi sawah yang bisa digarap.Otonomi tidak boleh menjadi alasan hilangnya lahan pangan produktif yang mencapai 554 ribu hektar (2019-2024).

Jalan Panjang Menuju Pemulihan (Recovery)

Recovery petani Orba ke milenial membutuhkan lebih dari sekadar bantuan alat. Diperlukan:

  • Transformasi Pola Pikir: Pertanian sebagai bisnis, bukan sekadar budaya.
  • Kepemimpinan Digital: Pemimpin daerah harus pro-aktif memfasilitasi smart farming.
  • Integrasi Kebijakan: Otonomi daerah harus diselaraskan dengan aturan ketat pelindungan lahan pangan.

Milenial bukan hanya buruh tani, mereka harus menjadi aggregator, offtaker, dan CEO korporasi petani di daerah mereka sendiri.Jika sektor pertanian tidak mampu memberikan prestige dan penghasilan yang menjanjikan, “disfungsi mesin” SDM akan terus berlanjut. Ketahanan pangan bukan hanya soal makan hari ini, tapi tentang siapa yang akan menanam besok.

Baca Juga  Politik Kekuasaan dan Krisis Integritas : Refleksi FNF dan Magnis Suseno

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *