OPINI & ANALISIS

24 T untuk Satu Bulan Makan, 21,2 Triliun untuk 40 Tahun Pendidikan: Di Mana Akal Sehat Anggaran Negara?

67
×

24 T untuk Satu Bulan Makan, 21,2 Triliun untuk 40 Tahun Pendidikan: Di Mana Akal Sehat Anggaran Negara?

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI : Emhape

 

Anggaran negara adalah cermin keberpihakan. Dari sanalah publik bisa membaca siapa yang benar-benar diprioritaskan dan masa depan seperti apa yang sedang dirancang. Namun ketika anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai Rp24 triliun hanya untuk satu bulan, sementara pendidikan gratis di ITB sebesar Rp21,2 triliun mampu melahirkan 212 ribu sarjana selama 40 tahun, maka pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal kebijakan—melainkan soal nalar dan keadilan antar-generasi.

 

Anggaran Konsumtif vs Investasi Peradaban

MBG adalah program konsumsi harian. Sekali makan, selesai. Esok hari anggaran harus kembali dikeluarkan. Rp24 triliun dalam satu bulan berarti ratusan triliun dalam satu tahun—habis tanpa jejak kecuali rasa kenyang sesaat.

Bandingkan dengan pendidikan tinggi. Rp21,2 triliun yang dialokasikan untuk pendidikan gratis di ITB telah menghasilkan 212 ribu sarjana selama empat dekade: insinyur, ilmuwan, ekonom, arsitek, teknokrat, dan pemikir bangsa. Mereka tidak hanya mengisi perut hari ini, tetapi menggerakkan ekonomi, membangun industri, dan menciptakan nilai tambah selama puluhan tahun. Jika MBG adalah belanja, maka pendidikan adalah investasi peradaban.

Baca Juga  Infokom yang ditumpulkan : Ironi Sebuah Organisasi?

 

Logika Anggaran yang Terbalik

Tidak ada yang menyangkal pentingnya gizi. Anak yang lapar sulit belajar. Namun menjadikan MBG sebagai program raksasa dengan anggaran fantastis, sementara pendidikan gratis—terutama pendidikan tinggi—tetap mahal dan terbatas, adalah logika terbalik dalam pembangunan manusia.

Bangsa ini seolah berkata:

Lebih penting anak makan hari ini, daripada mampu berpikir dan memimpin esok hari.

Padahal sejarah membuktikan, negara maju dibangun bukan oleh program konsumsi, melainkan oleh sistem pendidikan yang kuat dan terjangkau.

 

Populisme Anggaran

Baca Juga  Dari RT 05 Pagak, Integritas Pejabat Publik Dimulai

MBG mudah dijual secara politik. Angkanya besar, dampaknya instan, dan terlihat langsung di lapangan. Sebaliknya, pendidikan membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberanian menunda hasil.

Di sinilah bahaya terbesar muncul: anggaran negara tergelincir dari visi jangka panjang menuju kepentingan jangka pendek.

Ketika Rp24 triliun bisa habis dalam satu bulan makan, sementara dana yang hampir sama mampu membiayai puluhan tahun pendidikan tinggi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar efisiensi, tetapi arah masa depan bangsa.

 

Generasi Kenyang tapi Tidak Berdaya?

Gizi tanpa pendidikan hanya menghasilkan tubuh yang sehat, tetapi tidak berdaulat. Tanpa akses pendidikan gratis dan berkualitas, anak-anak dari keluarga miskin akan tetap terjebak dalam lingkaran keterbatasan—kenyang hari ini, tetapi miskin kesempatan sepanjang hidup.

Pendidikan gratis, terutama di perguruan tinggi unggulan, adalah mesin mobilitas sosial. Ia mengangkat anak tukang, petani, nelayan, dan buruh menjadi pemimpin, inovator, dan penggerak ekonomi.

Baca Juga  Makan Bergizi Gratis : Kegagalan Jokowi 10 Tahun Mengentaskan Kemiskinan?

 

Penutup: Saatnya Mengembalikan Akal Sehat Anggaran. 

Makan bergizi gratis dan pendidikan gratis tidak seharusnya dipertentangkan. Namun ketika skala anggaran timpang secara ekstrem, publik berhak bertanya: apakah negara sedang membangun manusia, atau sekadar mengelola konsumsi massal?

Bangsa besar tidak dihitung dari berapa banyak piring yang terisi hari ini, tetapi dari berapa banyak pikiran questioncerdas yang diciptakan untuk puluhan tahun ke depan. Jika Rp21,2 triliun mampu melahirkan ratusan ribu sarjana dalam 40 tahun, maka Rp24 triliun seharusnya lebih dari sekadar urusan makan satu bulan.

Karena masa depan bangsa tidak bisa dibangun dengan nasi saja—ia membutuhkan ilmu, nalar, dan keberanian berpikir jauh ke depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *