BERITANASIONAL

GENERASI MUDA MARAH : NEGARA TAK BISA ATASI MASALAH LINGKUNGAN.

479
×

GENERASI MUDA MARAH : NEGARA TAK BISA ATASI MASALAH LINGKUNGAN.

Sebarkan artikel ini
Foto Virdian Aurellio Haryanto, aktivis muda mantan Ketua BEM Universitas Padjadjaran, dengan latar belakang ribuan kubik Kayu Gelondong yang Terseret Banjir Bandang dan Longsor di Pulau Sumatera. .
Foto Virdian Aurellio Haryanto, aktivis muda mantan Ketua BEM Universitas Padjadjaran, dengan latar belakang ribuan kubik Kayu Gelondong yang Terseret Banjir Bandang dan Longsor di Pulau Sumatera.

JAKARTA, TOMBAKRAKYAT. Com. | Suara kekesalan mulai terasa nyaring di tengah kegelapan tragedi bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Di tengah deru tangisan korban dan kerusakan masif, Aktivis muda, mantan Ketua BEM Universitas Padjadjaran, Virdian Aurellio Hartono muncul dengan kritik tajam terhadap cara pemerintah menanggapi krisis yang terus berulang. Suaranya tidak hanya menjadi perhatian di media sosial, melainkan juga menggambarkan ketidakpuasan generasi muda yang merasa terbebani oleh konsekuensi kerusakan alam yang mereka tidak ciptakan.

 

Dalam cuplikan video yang beredar luas, Virdian tidak ragu menantang kebijakan pemerintah yang dianggapnya gagal memberikan perlindungan yang layak kepada warga. “Saya pribadi udah nggak percaya bahwa negara hari ini bisa mengatasi berbagai permasalahan lingkungan,” katanya dalam program Bola Liar- Kompas TV, Jumat (5/12/2025).

Baca Juga  Lestarikan Warisan Sunan Kalijaga, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pimpin Tradisi Sesaji Rewanda di Goa Kreo

 

Yang paling menusuk adalah pernyataan Virdian tentang ketidakadilan generasi. Ia menggambarkan dengan jelas jurang pemisah antara mereka yang menikmati keuntungan dari eksploitasi alam dan mereka yang akan mewarisi planet yang rusak. “Saya generasi muda harusnya marah. Marah semua sama negara dan seluruh generasi tua karena suatu hari mereka semuanya yang sekarang menikmati uang-uang tambang, sawit, deforestasi. 2050 Indonesia tenggelam. Kita yang tenggelam, mereka udah nggak ada,” tuturnya merujuk pada prediksi ilmiah mengenai potensi tenggelamnya sebagian wilayah Indonesia akibat kenaikan permukaan air laut pada tahun tersebut. Kata-kata ini mencerminkan kemarahan generasi muda yang merasa terjebak dalam konsekuensi keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak akan merasakan dampaknya secara langsung.

 

Ia juga mempertanyakan alasan pemerintah membuka donasi publik di tengah musibah besar, sementara masyarakat setiap hari membayar pajak yang seharusnya digunakan untuk melindungi dan menjamin keselamatan mereka. “Saya perlu mengatakan bahwa ini ada langkah yang membingungkan dari negara. Contoh negara ini fomo banget, ngapain ikut-ikutan bikin donasi? Hari-hari kita donasi ke negara lewat pajak.” tanyanya dengan nada heran, yang kemudian diikuti dengan seruan untuk menindak korupsi lingkungan bernilai triliun rupiah yang selama ini menjadi sorotan.

Baca Juga  Puluhan Jurnalis Tombak Rakyat Ikuti Pelatihan Jurnalistik dan Kopdarnas di Purworejo

Kritiknya juga diarahkan pada lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku yang diduga menjadi pemicu kerusakan hutan, sedimentasi sungai, dan rentetan bencana ekologis lainnya. Menurutnya, negara memiliki kewenangan penuh untuk bertindak, namun penanganannya belum menunjukkan hasil yang signifikan.

 

Di tengah kritikan ini, pemerintah telah melakukan beberapa langkah, seperti memberikan bantuan logistik dan dana siap pakai melalui BNPB serta mengkoordinasikan penanganan bencana lintas sektor. Namun, menurut Virdian, langkah-langkah itu belum cukup meyakinkan. Ia menilai tidak terlihat arahan presiden yang tegas mengenai alokasi anggaran besar untuk pemulihan, audit deforestasi, atau pembenahan tata ruang secara serius. Tanpa perubahan kebijakan yang mendasar, ia khawatir tragedi serupa akan terus berulang dan generasi muda akan terus menjadi korban akhir.

Baca Juga  Peran Aktif Babinsa Dalam Membantu Pendistibusian MBG di Sekolah

 

Suara Virdian Aurellio adalah cerminan dari kegelisahan yang meluas di kalangan anak muda terhadap masa depan planet. Kritiknya tidak hanya tentang penanganan bencana yang lambat atau tidak efektif, melainkan juga tentang pertanyaan akuntabilitas, keadilan sosial, dan tanggung jawab generasi terhadap yang akan datang. Di tengah kegelapan bencana, suaranya menjadi sorotan yang mengingatkan bahwa perubahan harus terjadi sekarang, sebelum terlambat

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *