OPINI & ANALISISEdukasi

Iqro’ : Dari Membaca Menuju Kesadaran dan Perubahan Diri

148
×

Iqro’ : Dari Membaca Menuju Kesadaran dan Perubahan Diri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh : DZAKIYYAH NASYWA AZ-ZAHRA

TombakRakyat.com ___ Setiap perubahan besar dalam hidup manusia selalu bermula dari satu titik kesadaran. Dalam Islam, titik itu diawali oleh satu perintah yang sederhana namun revolusioner : Iqro’. Ia bukan sekadar ajakan untuk membaca huruf dan kata, tetapi panggilan untuk membangunkan akal, hati, dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk berpikir.

Iqro’ mengajarkan bahwa membaca harus dilakukan bismi rabbik— dengan kesadaran akan nilai, tujuan, dan kehadiran Tuhan. Artinya, yang dibaca bukan hanya teks, tetapi juga realitas kehidupan : alam semesta, perjalanan sejarah, dan diri manusia itu sendiri. Membaca, dalam makna ini, bukan aktivitas mekanis, melainkan usaha sungguh-sungguh untuk memahami makna, mencari kebenaran, dan menghadirkan kemaslahatan.

Baca Juga  Polsek Metro Penjaringan Tanamkan Semangat Nasionalisme Melalui Program “Police Go To School” di SMKN 56 Jakarta

Dari sinilah membaca menjadi proses kognitif yang menghidupkan akal. Ketika seseorang membaca, ia tidak sekadar mengenali simbol, tetapi sedang melatih dirinya untuk memahami, menalar, menafsirkan, dan merenung. Membaca menjembatani manusia dari sekadar menerima informasi menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju pemahaman, dan dari pemahaman menuju kebijaksanaan. Dengan demikian, membaca adalah bentuk nyata pelaksanaan perintah Iqro’ dalam kehidupan sehari-hari.

Namun membaca belumlah cukup jika tidak berbuah literasi. Literasi adalah kemampuan berpikir yang lahir dari kebiasaan membaca yang konsisten dan bermakna. Ia mencakup kemampuan memahami teks, mengolah angka, menyaring informasi digital, serta bersikap kritis terhadap budaya dan realitas sosial. Orang yang literat tidak mudah terombang-ambing oleh opini, tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan data, nalar, serta nilai.

Baca Juga  BPJS PBI Dinonaktifkan, Pahami Sistem Desil agar Tidak Salah Persepsi

Ketika Iqro’, membaca, dan literasi terhubung, terbentuklah satu alur kesadaran yang utuh : Iqro’ melahirkan dorongan spiritual, membaca menjadi aktivitas intelektual, literasi membangun daya nalar, dan daya nalar melahirkan peradaban. Masyarakat yang membaca dengan kesadaran akan tumbuh menjadi masyarakat yang berpikir, dan masyarakat yang berpikir akan mampu membangun masa depan yang beradab.

Sebaliknya, jika salah satu mata rantai ini terputus, maka yang lahir adalah kepincangan. Iqro’ tanpa membaca hanya akan menjadi slogan tanpa praktik. Membaca tanpa literasi menjelma hafalan tanpa pemahaman. Literasi tanpa nilai Iqro’ berisiko melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah dan kepekaan moral.

Baca Juga  Outing Class: antara Pembelajaran, Gaya Hidup dan Etika Pendidikan dan Empati Kebijakan Sekolah.

Karena itu, Iqro’, membaca, dan literasi sejatinya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Iqro’ adalah ruh dan orientasi, membaca adalah jalan dan proses, sedangkan literasi adalah hasil dan kemampuan berpikir yang membentuk akal, nalar, dan karakter manusia. Ketika ketiganya dihidupkan, membaca tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai jalan pembebasan diri dari kebodohan, ketergesaan, dan kesempitan berpikir.

Perubahan diri tidak selalu dimulai dari langkah besar. Ia sering berawal dari satu kesadaran sederhana : mau membaca dengan niat, memahami dengan akal, dan mengamalkan dengan tanggung jawab. Dari situlah cahaya Iqro’ bekerja— perlahan, namun pasti— mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *