OPINI & ANALISIS

Matematika yang Bisa Membunuh Koperasi Desa

86
×

Matematika yang Bisa Membunuh Koperasi Desa

Sebarkan artikel ini

“Bahkan sebelum koperasi desa ini dibuka, sebenarnya matematikanya sudah menunjukkan satu hal: program ini mungkin tidak akan bertahan lama”

TOMBAKOPINI: Emhape

 

Ada satu hal yang sering dilupakan dalam banyak program ekonomi pemerintah: matematika tidak bisa disuruh berbohong.

Di atas kertas, program koperasi desa sering terlihat indah. Angkanya besar, bangunannya megah, dan peresmiannya biasanya lengkap dengan gunting pita, baliho besar, dan foto pejabat tersenyum.

Namun begitu angka-angka itu dihitung secara jujur, muncul satu pertanyaan yang sangat tidak nyaman:

Apakah koperasi desa ini benar-benar bisa hidup, atau sejak awal sudah diprogram untuk mati pelan-pelan?

Mari kita pakai hitungan sederhana yang bahkan anak SMA pun bisa mengerti.

Jika satu koperasi mengambil modal Rp3 miliar dengan bunga 6% per tahun dan tenor sekitar 5 tahun, maka total bunga yang harus dibayar mencapai sekitar 30%.

Artinya:

Pinjaman pokok: Rp3 miliar

Total bunga: Rp900 juta

Total kewajiban: Rp3,9 miliar

Kalau kewajiban itu harus dibayar dalam lima tahun, maka setiap bulan koperasi harus mencicil sekitar Rp65 juta.

Baca Juga  Dua Momen Nasional Menguji Prioritas Pembangunan Presiden Prabowo

Sekarang kita masuk ke pertanyaan yang lebih brutal:

Apakah ekonomi satu desa bisa memberi laba bersih Rp65 juta setiap bulan kepada satu koperasi?

Supaya Bisa Nyicil, Omzet Harus Gila

Agar koperasi bisa mendapatkan laba Rp65 juta per bulan, kita harus melihat margin usaha.

Di dunia ritel, keuntungan 10% saja sudah termasuk bagus.

Banyak toko bahkan hanya hidup dari margin 5% – 7%.

Mari kita pakai angka yang optimistis: 10% margin.

Kalau koperasi ingin untung Rp65 juta, maka omzetnya harus sekitar Rp650 juta per bulan.

Jika margin realistisnya 5%, maka omzet yang dibutuhkan melonjak menjadi Rp1,3 miliar per bulan.

Sekarang kita bertanya dengan jujur:

Apakah satu desa mampu menciptakan transaksi ritel Rp1,3 miliar setiap bulan di satu koperasi?

Kalau jawabannya “iya”, berarti desa itu mungkin sudah lebih kaya dari banyak kecamatan.

 

Bangunan Besar, Modal Kerja Kecil

Masalahnya belum selesai.

Dari total modal Rp3 miliar, biasanya sekitar Rp2,5 miliar justru habis untuk:

Baca Juga  Agenda Besar Pimpinan Pusat Dan Kesiapan Pengurus Daerah dalam Kolaborasi dengan Pemerintah Pusat

bangunan gerai

sarana prasarana

peralatan

Sementara modal kerja hanya tersisa sekitar Rp500 juta.

Ini seperti membuka supermarket besar tapi barang di raknya setengah kosong.

Dalam dunia bisnis, yang menghasilkan uang bukan tembok bangunan, melainkan perputaran barang.

Namun dalam banyak proyek ekonomi desa, yang paling cepat dibangun justru bangunannya.

Kenapa?

Karena bangunan lebih mudah difoto saat peresmian.

 

Desa Bukan Minimarket Kota

Kesalahan paling klasik dari banyak program ekonomi adalah menganggap desa seperti pasar kota.

Di kota, omzet besar bisa terjadi karena:

penduduk padat

daya beli tinggi

konsumsi cepat

Di desa kondisinya berbeda:

penduduk lebih sedikit

daya beli terbatas

belanja tersebar di warung kecil

Ketika satu koperasi besar dipaksa masuk, yang terjadi bukan ledakan ekonomi.

Yang terjadi sering kali justru perebutan pasar kecil yang sama.

Warung kecil bisa mati.

Tapi koperasinya belum tentu hidup.

 

Dari Program Ekonomi ke Program Kredit Macet

Jika desain ekonominya dipaksakan seperti ini, maka masa depan programnya bisa diprediksi dengan sangat sederhana:

Baca Juga  Dana Desa Dipangkas, Harapan Hibah Ormas: Logika Terbalik Kebijakan Publik.

Tahun pertama: rame karena penasaran.

Tahun kedua: omzet mulai seret.

Tahun ketiga: cicilan mulai tersendat.

Dan pada akhirnya kita akan melihat pemandangan yang sangat familiar di banyak daerah:

Sebuah bangunan koperasi yang dulu diresmikan dengan meriah, sekarang berdiri sunyi dengan pintu terkunci.

Spanduknya sudah pudar.

Dan masyarakat desa hanya bisa berkata pelan:

“Dulu katanya ini mau memajukan ekonomi desa…”

 

Matematika Tidak Bisa Dibohongi

Masalah sebenarnya bukan pada koperasinya.

Bukan juga pada masyarakat desa.

Masalahnya ada pada cara berpikir yang terlalu percaya bahwa semua program pasti berhasil hanya karena angkanya besar.

Padahal ekonomi tidak bekerja dengan niat baik saja.

Ekonomi bekerja dengan perhitungan yang masuk akal.

Jika sejak awal koperasi dipaksa mengejar laba puluhan juta setiap bulan di desa dengan daya beli terbatas, maka program itu sebenarnya sudah membawa satu bom waktu:

Matematika yang pelan-pelan akan membunuh koperasi desa itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *