OPINI & ANALISIS

Mengapa Calon Manajer KDMP Wajib Latihan Militer?

19
×

Mengapa Calon Manajer KDMP Wajib Latihan Militer?

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Cerita kali ini datang dari program Koperasi Desa Merah Putih Mengapa Calon Manajer KDMP Wajib Latihan Militer?KDMP), sebuah program yang belakangan membuat banyak orang mengernyitkan dahi sambil bertanya, “Ini mau jadi manajer koperasi atau komandan peleton?”

Sambil menyimak ceritanya, seruput dulu kopinya pelan-pelan, Bang. Jangan sampai kopinya habis sebelum logikanya selesai diproses.

Berdasarkan jadwal resmi, calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang lulus seleksi wajib mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan (Komcad) selama 30 hari, mulai 17 Juni sampai 16 Juli 2026. Setelah itu, mereka baru mengikuti Pelatihan Manajerial dan Kompetensi Bidang selama 15 hari, dari 17 sampai 31 Juli 2026.

Kalau dihitung-hitung, waktunya cukup menarik. Belajar disiplin, ketahanan fisik, dan kepemimpinan selama sebulan penuh. Belajar mengelola koperasi hanya setengahnya, 15 har. Dengan kata lain, sebelum belajar menghitung SHU, calon manajer lebih dulu belajar menghitung langkah. Satu-dua. Satu-dua. Kanan lurus. Hadap kanan. Maju jalan.

Baca Juga  Dana Desa Gempolsewu: Ketika Anggaran Menguap, Pengawasan Menghilang

Biasanya calon manajer identik dengan laporan keuangan, analisis usaha, strategi pemasaran, dan tabel yang penuh angka. Namun kali ini jalurnya sedikit berbeda. Sebelum bertemu neraca keuangan, mereka terlebih dahulu bertemu lapangan upacara.

Tentu pemerintah punya alasan. Mengelola koperasi desa ternyata tidak sesederhana menekan tombol kalkulator. Seorang manajer harus menghadapi berbagai karakter manusia, beragam kepentingan, tekanan pekerjaan, hingga konflik yang kadang muncul tanpa undangan.

Sebab tantangan terbesar koperasi sering kali bukan angka, melainkan anggota.

Ada anggota yang rajin hadir rapat, tetapi lupa membayar kewajiban. Ada yang menghilang sepanjang tahun, namun tiba-tiba muncul paling depan saat pembagian hasil usaha. Ada pula yang datang membawa kritik, saran, usulan, dan keluhan yang silsilahnya mungkin sudah dimulai sejak zaman nenek moyang.

Baca Juga  Kalau Mau, Laba-Laba Bisa Habisin Manusia—Tapi Mereka Pilih Jagain Kamu

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan membuat grafik yang indah belum tentu cukup. Kadang yang dibutuhkan adalah kesabaran setebal tembok benteng dan mental sekuat sinyal internet saat hujan deras.

Mungkin itulah sebabnya pelatihan kemiliteran dibuat lebih lama. Pemerintah tampaknya ingin membangun pondasi terlebih dahulu. Karakter dibentuk, disiplin ditanamkan, daya tahan diuji, dan kebiasaan bekerja secara teratur dilatih selama sebulan penuh. Setelah pondasinya dianggap kokoh, barulah ilmu manajerial diberikan sebagai pelengkap.

Ibarat membangun rumah, negara tampaknya percaya bahwa tembok terbaik sekalipun tidak akan bertahan lama jika pondasinya rapuh. Maka sebelum belajar mengelola buku kas, calon manajer diajarkan lebih dulu cara bangun tepat waktu, berdiri tegak, bekerja dalam komando, dan tetap tenang saat menghadapi tekanan.

Baca Juga  Pendidikan Gaya Bank dan Produksi Konflik : Kritik Freirean Atas Kegagalan Sistem Pendidikan Indonesia

Jadi jangan heran kalau nanti ada manajer koperasi yang langkahnya tegap, suaranya mantap, dan wajahnya tetap tenang saat melihat laporan keuangan yang membuat orang lain berkeringat dingin.

Sebab di negeri ini, perjalanan menuju buku kas ternyata harus melewati lapangan upacara terlebih dahulu.

Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, seseorang harus mahir baris-berbaris sebelum mengurus simpan-pinjam.

Selamat datang di Indonesia, Bang. Negeri yang selalu berhasil menemukan cara kreatif untuk membuat sebuah cerita ekonomi terasa seperti film latihan militer.

Penulis: Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.Editor: Emhape

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *