Oleh : Irwan Fathoni, S.Pd
TombakRakyat.com Di tengah kehidupan sosial dan organisasi keagamaan, sering kali seseorang tampak sejalan dengan kelompok tertentu. Cara bicara, penampilan, hingga aktivitasnya terlihat sama. Namun, keseragaman lahir belum tentu mencerminkan kesatuan batin.
Dalam tradisi ulama yang banyak berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama, kebersamaan tidak diukur dari simbol atau gaya, melainkan dari ketulusan hati, rasa saling menerima, serta doa dan dukungan yang tulus satu sama lain. Prinsip ini ditegaskan dalam mahfudzat hikmah:
لَيْسَ كُلُّ مَنْ جَالَسَ قَوْمًا كَانَ مِنْهُمْ،
فَقَدْ يَكُونُ مَعَهُمْ صُورَةً وَلَيْسَ مِنْهُمْ قَلْبًا.
“Tidak setiap orang yang duduk bersama suatu kaum benar-benar bagian dari mereka. Bisa jadi ia bersama mereka secara lahir, tetapi hatinya tidak bersama mereka.”

Pesan ini mengingatkan bahwa kebersamaan sejati menuntut keikhlasan, bukan sekadar penyesuaian demi diterima. Dalam adab yang diajarkan para kiai, berjamaah berarti menghadirkan hati, bukan sekadar hadir secara fisik.
Ironisnya, tidak sedikit yang pandai datang ketika ada kepentingan, fasih berbicara tentang loyalitas saat kebutuhannya ingin dipenuhi, namun tiba-tiba menghilang ketika harapannya tak dituruti. Kebersamaan dijadikan panggung transaksi, bukan ruang pengabdian. Seolah-olah nilai hanya diukur dari seberapa cepat keinginan pribadi diakomodasi. Sikap seperti ini bukan sekadar kekanak-kanakan, tetapi mencerminkan kemiskinan integritas—datang membawa topeng solidaritas, pulang membawa kekecewaan ego. Jika kebersamaan hanya dihidupi saat untung, maka yang tumbuh bukan persaudaraan, melainkan mentalitas pasar yang menawar komitmen dengan syarat.

Hikmah lain yang kerap disampaikan ulama berbunyi:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ،
فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ.
“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun; yang saling mengenal akan menyatu, dan yang tidak saling cocok akan berpisah.”
Maknanya, kebersamaan yang dibangun atas “peran” atau “topeng” biasanya rapuh dan tidak bertahan lama. Sebaliknya, jika didasari ketulusan, akan lahir rasa memiliki, loyalitas, serta semangat perjuangan bersama. Di sinilah perbedaan mendasar antara menyesuaikan diri dengan tulus dan memaksakan diri demi citra.












