DAERAH

Prof. Surip Mawardi, Sang Maestro Kopi Indonesia, Dorong Petani Hadapi Perubahan Iklim melalui Kebun Kopi Berkelanjutan

133
×

Prof. Surip Mawardi, Sang Maestro Kopi Indonesia, Dorong Petani Hadapi Perubahan Iklim melalui Kebun Kopi Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

SAMOSIR, TOMBAKRAKYAT.com — Aroma kopi yang baru diseduh menyambut setiap pengunjung yang memasuki kawasan Waterfront City Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (7/8/2026). Di tepian Danau Toba yang tenang, Festival Kopi Tanah Para Raja tidak hanya menyajikan beragam kopi unggulan Sumatera Utara, tetapi juga menjadi ruang berbagi ilmu dan pengalaman bagi para petani, pelaku UMKM, barista, hingga pecinta kopi.

 

Festival yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 tersebut menghadirkan diskusi edukatif mengenai masa depan kopi Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan persaingan pasar global.

 

Ratusan peserta memadati arena talk show untuk menyimak pemaparan dua tokoh yang telah lama berkecimpung dalam dunia kopi nasional, yakni Maestro Kopi Indonesia Prof. Dr. Ir. Surip Mawardi, S.U. dan Country Coordinator Cup of Excellence (COE) Indonesia, Andi Wijaya. Diskusi dipandu oleh Q Grader asal Sumatera Utara, Fahmul Hidayat Hasibuan.

 

Dalam paparannya, Prof. Surip Mawardi mengajak para petani melihat kopi dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, secangkir kopi berkualitas tidak lahir di meja barista, melainkan berawal dari bibit unggul, teknik budidaya yang tepat, serta pengelolaan kebun yang berkelanjutan.

Baca Juga  Antusiasme Membludak, Bupati Dyah Kartika Permanasari Ramaikan Fun Bike HUT Kendal Berdikari 2026

 

“Kopi berkualitas bukan hanya soal rasa di dalam cangkir. Semuanya dimulai dari kebun. Jika kebunnya sehat, alamnya terjaga, dan petaninya disiplin menerapkan budidaya yang baik, maka kualitas kopi akan mengikuti,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa kebun kopi berkelanjutan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan industri kopi Indonesia. Di tengah dampak perubahan iklim yang semakin terasa, petani dituntut mampu beradaptasi melalui praktik budidaya yang ramah lingkungan dan efisien.

 

Menurut Prof. Surip, tanaman kopi pada dasarnya tumbuh optimal sebagai tanaman bawah naungan. Karena itu, penerapan sistem agroforestri dengan memanfaatkan pohon pelindung menjadi salah satu solusi terbaik untuk menjaga kelembapan lahan, meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi risiko erosi, serta menciptakan ekosistem yang lebih seimbang.

 

Selain itu, penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat, disertai pengendalian hama dan penyakit secara berkelanjutan, menjadi faktor penting dalam menjaga mutu biji kopi yang dihasilkan.

Baca Juga  Ironi di Pinggir Kali Kutho -Tegalrejo: Ketika Negara Hadir Hanya untuk Memotret

 

“Keberlanjutan adalah investasi terbesar bagi masa depan kopi Indonesia. Tanpa alam yang terjaga, mustahil kita menghasilkan kopi terbaik,” tegasnya.

 

Menurutnya, praktik budidaya yang ramah lingkungan tidak hanya berkontribusi terhadap pelestarian hutan dan sumber daya alam, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas kebun, memperbaiki kualitas biji kopi, serta mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

 

Sementara itu, Andi Wijaya memperkenalkan Cup of Excellence (COE), kompetisi sekaligus lelang specialty coffee paling bergengsi di dunia. Ia menjelaskan bahwa COE menjadi salah satu pintu masuk bagi kopi-kopi terbaik Indonesia untuk memperoleh pengakuan internasional melalui proses seleksi yang ketat oleh panel juri nasional maupun internasional.

 

“Kopi yang berhasil lolos COE akan memperoleh pengakuan dunia. Nilai jualnya meningkat, kepercayaan pembeli bertambah, dan peluang ekspor terbuka semakin luas,” jelasnya.

 

Menurut Andi, predikat COE bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti bahwa kualitas yang dibangun secara konsisten sejak tahap budidaya, panen, hingga pascapanen mampu mengantarkan kopi petani Indonesia bersaing di pasar premium dunia.

 

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari strategi budidaya menghadapi perubahan iklim, teknik pengolahan pascapanen, sertifikasi kopi, peningkatan mutu produk, hingga peluang menembus pasar ekspor. Antusiasme peserta menunjukkan semakin tingginya kesadaran bahwa kualitas kopi tidak dibangun di akhir proses, melainkan dimulai sejak dari kebun.

Baca Juga  Diduga Spesifikasi Material Proyek Revitalisasi SMAN 1 Jepon Tak Sesuai, Media Belum Dapat Lakukan Verifikasi karena Permintaan Data Tak Ditanggapi

 

Talk show ini menjadi salah satu sesi paling inspiratif dalam Festival Kopi Tanah Para Raja. Dari tepian Danau Toba, tersampaikan pesan kuat bahwa masa depan kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh ilmu pengetahuan, inovasi, kolaborasi, serta komitmen menjaga keberlanjutan.

 

Bagi Sumatera Utara yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi terbaik di Indonesia, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa untuk bersaing di pasar global tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa. Keunggulan kopi harus dibangun sejak di kebun, diproses dengan standar yang tinggi, dan dikelola secara berkelanjutan agar setiap cangkir kopi yang tersaji tidak hanya menghadirkan kenikmatan, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi petani serta kelestarian bagi lingkungan.