Oleh: Zainul Arifin, S.Pd.I
Direktur Redaksi TOMBAKRAKYAT.com
TombakRakyat.com, – Amerika Serikat akhirnya melakukan apa yang sejak lama gagal mereka wujudkan: menyeret Venezuela ke dalam skenario kekerasan terbuka. Jika klaim penangkapan Nicolas Maduro oleh operasi Amerika benar adanya, maka dunia tidak sedang menyaksikan penegakan hukum, melainkan pameran kekuasaan imperial yang telanjang dan tanpa malu.
Ini bukan sekadar soal Maduro. Ini adalah soal Venezuela yang menolak tunduk.
Hugo Chavez, Musuh yang Terlalu Besar untuk Disentuh
Hugo Chavez hidup sebagai mimpi buruk Washington. Ia tidak sekadar melawan Amerika Serikat, tetapi menginspirasi perlawanan kolektif Amerika Latin. Chavez membangun kedaulatan energi, menasionalisasi minyak, dan mematahkan dominasi korporasi asing.
AS tahu satu hal.
menyentuh Chavez berarti menyalakan api perang kawasan.
Maka Chavez dilawan dengan fitnah, embargo terselubung, dan kudeta gagal, bukan invasi. Ia dibiarkan hidup karena terlalu kuat untuk ditumbangkan tanpa harga mahal.
Nicolas Maduro, Target karena Bertahan.
Maduro bukan Chavez. Ia tidak karismatik, tidak lahir dari revolusi bersenjata, dan memimpin dalam krisis berat. Namun justru di sinilah letak dosa terbesarnya di mata Amerika.
Maduro bertahan.
Ia bertahan dari sanksi paling kejam abad ini. Ia bertahan dari perang ekonomi yang melumpuhkan rakyatnya. Ia bertahan dari presiden Amerika paling agresif, Donald Trump.
Dan yang paling menyakitkan Washington.
Venezuela tidak runtuh.
Donald Trump dan Doktrin Kekerasan Terbuka
Di era Donald Trump, Amerika Serikat kehilangan kesabaran. Diplomasi diganti ancaman. Hukum internasional diganti ultimatum. Trump gagal menjatuhkan Maduro secara politik, maka Venezuela ditempatkan sebagai target kekuatan.
Jika penangkapan Maduro benar, maka ini bukan keberhasilan demokrasi, melainkan pengakuan kegagalan Amerika selama dua dekade.
Amerika gagal,
Mengendalikan Caracas
Memecah militer Venezuela
Menundukkan ideologi anti-imperial
Maka satu-satunya jalan tersisa adalah kekuatan kasar.
Minyak dan Kebohongan Demokrasi
Mari jujur, Venezuela tidak diserbu karena demokrasi, ia diserbu karena minyak.
Cadangan minyak terbesar dunia tidak pernah netral. Dari Chavez hingga Maduro, Venezuela dihukum karena berani berkata “minyak milik rakyat”.
Demokrasi hanyalah topeng. Hak asasi hanyalah slogan. Ketika kepentingan energi berbicara, hukum internasional dibungkam.
Imperialisme Tidak Pernah Mati
Apa yang terjadi hari ini membuktikan satu hal pahit,
imperialisme tidak mati ia hanya berganti metode.
Hugo Chavez dilawan dengan kesabaran licik.
Nicolas Maduro dihadapi dengan kekerasan terbuka.
Namun sejarah selalu berpihak pada satu kebenaran, bangsa yang dipaksa tunduk tidak pernah benar-benar menyerah.
Venezuela mungkin diserang, presidennya mungkin ditangkap, tetapi perlawanan tidak bisa diborgol.
EDITORIAL NOTE – TOMBAKRAKYAT.com berpandangan bahwa kedaulatan bangsa adalah harga mati. Setiap bentuk intervensi asing, dengan dalih apa pun, merupakan pengkhianatan terhadap prinsip keadilan global.
Venezuela hari ini adalah cermin bagi negara-negara berkembang: bahwa kekayaan alam tanpa kemandirian politik hanya akan mengundang penindasan. Redaksi berdiri pada posisi bahwa masa depan dunia tidak boleh ditentukan oleh kekuatan senjata, melainkan oleh kehendak rakyat.












