KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com — Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kendal menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi Tahun 2026 Sesi 1, Kamis (15/10/2026).
Bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 2 Gedung Perpusda Kendal, kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdaftar sesuai sesi. Bimtek ini merupakan bagian dari rangkaian 5 sesi Bimtek Literasi Informasi yang dijadwalkan berlangsung sepanjang tahun 2026.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kendal, Andy Nur Karendra, S.STP., M.M. Hadir sebagai narasumber tiga tokoh literasi dari latar belakang berbeda, yakni Kepala Perpustakaan UIN Salatiga Ifonilla Yenianti, S.Pd.I., S.IPI., M.A., pegiat literasi dari Komunitas Emak-emak Suka Menulis (Mak Sulis) Fitri Wijayanti, S.T., M.Pd., dan Direktur Radio Swara Kendal FM Abi Daulah Haque, M.M.
Agen Perubahan Literasi
Dalam sambutannya, Andy menegaskan bahwa Bimtek Literasi Informasi tidak sekadar kegiatan seremonial. Ia menyebut literasi informasi yang baik akan mendukung proses pembelajaran yang baik pula, terutama bagi guru atau pendidik.
Hal tersebut relevan mengingat sebagian besar peserta bimtek adalah guru, pustakawan, pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pengelola perpustakaan desa (perpusdes), anggota komunitas, hingga organisasi masyarakat atau organisasi non-pemerintah.
“Peserta bimtek diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang cakap memahami, mengolah, dan menyampaikan informasi yang didapatnya. Serta mampu bersinergi untuk membangun dan memperkuat ekosistem literasi di Kabupaten Kendal,” ujar Andy.

Belajar Sepanjang Hayat hingga Kembali ke Alam
Pada sesi materi, Fitri Wijayanti menyampaikan bahwa literasi informasi sejatinya adalah proses belajar sepanjang hayat. Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, melainkan menjadi sumber kebijakan.
“Ketika pemahaman, mengolah informasi, bernalar, kemudian mendapatkan kebijaksanaan dan membagikan informasi dengan harapan bermanfaat untuk orang lain, di situlah literasi menjadi bermakna,” jelas Fitri.
Perspektif berbeda disampaikan Ifonilla Yenianti. Di tengah derasnya arus informasi digital, ia justru mengajak peserta untuk memperkenalkan anak kembali dengan alam.
Menurutnya, tidak semua generasi produktif harus bercita-cita menjadi dokter, PNS, atau profesi formal lainnya. Beternak kambing atau memelihara burung murai, misalnya, dapat menjadi pilihan hidup yang produktif dan bernilai ekonomi.
Ifonilla juga menanggapi pertanyaan peserta mengenai apakah perpustakaan boleh dijadikan tempat relaksasi hanya untuk membaca buku fiksi untuk membuang kejenuhan. Ia menjawab dengan pendekatan yang humanis.
Ia mencontohkan di Perpustakaan UIN Salatiga, pihaknya sengaja menyediakan banyak colokan kabel listrik baik di dalam maupun di luar ruangan. Hal itu dilakukan karena menyadari generasi muda saat ini nyaris tidak bisa lepas dari gawai.
“Jika mereka sudah senang dulu, nyaman dulu di perpustakaan, bahkan mungkin belum ikut membaca tidak jadi soal. Karena dengan suasana nyaman tentu ada proses belajar lainnya yang dijalani. Buku apa saja yang kemudian dibaca itu bagian dari proses,” ungkapnya.
Ia menegaskan, “Literasi informasi membuka wawasan, membangun karakter menuju masa depan yang lebih baik.”
Pintu Kolaborasi Podcast Dibuka
Sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah penawaran kolaborasi dari narasumber ketiga, Abi Daulah Haque. Di akhir pemaparan dan dipertegas saat sesi wawancara, Abi menyatakan Radio Swara Kendal FM membuka diri untuk kolaborasi.
“Radio Swara Kendal membuka kolaborasi dengan lembaga atau komunitas serta organisasi masyarakat untuk mengadakan gelar wicara dengan sarana podcast. Silakan untuk dapat menghubungi kami jika ingin berkolaborasi, baik bersurat ataupun melalui narahubung,” pungkas Abi.
Rangkaian Bimtek Sesi 1 ditutup dengan diskusi aktif dan foto bersama.












