KENDAL,TOMBAK RAKYAT.COM — Aktivitas tambang galian C di kawasan Kaliwungu Selatan kian meresahkan masyarakat. Selain merusak kelestarian alam, hilir mudik kendaraan berat bermuatan overkapasitas dari sektor pertambangan ini kini berimbas nyata pada hancurnya infrastruktur publik.
Kondisi terparah saat ini terlihat di Jalan Raya Kaliwungu menuju Boja, tepatnya di Kelurahan Protomulyo, Kabupaten Kendal.(jumat,5/6/2026) Jalur penghubung antarkecamatan tersebut mengalami kerusakan parah berupa amblesan tanah sedalam 2,5 meter sepanjang 50 meter.
Kemacetan Parah Akibat Jalur yang Ambles
Berdasarkan pantauan di lokasi, titik amblesan berada tepat di lajur kiri pada area tikungan, menyebabkan struktur aspal beton terlihat miring dan retak berhamburan. Demi keselamatan, petugas informal atau “Pak Ogah” setempat terpaksa memasang rambu peringatan darurat seadanya dengan tulisan “Hati-Hati Jalan Longsor”.
Akibat penyempitan jalur ini, arus lalu lintas di kawasan tersebut mengalami kemacetan panjang. Kendaraan dari arah Kaliwungu maupun Boja harus mengantre lama dan melintas secara bergantian dengan sistem buka-tutup, terutama pada jam padat berangkat dan pulang kerja.
DPUPR Sebut Overload Muatan Truk Tambang Jadi Penyebab utama
Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Kendal tidak menampik bahwa aktivitas kendaraan tambang menjadi pemicu utama hancurnya jalan tersebut.

Kabid Bina Marga DPUPR Kendal, Sabidin, menjelaskan bahwa awalnya jalur tersebut hanya mengalami retakan kecil pada cor beton yang sempat ditambal dengan aspal.
Namun, beban berlebih yang terus-menerus menekan struktur tanah membuat penanganan tersebut sia-sia.”Faktor tonase truk tetap ada. Yang lewat itu banyak truk muatan sekira 24 kubik. Jadi, ambles tidak bisa dilewati,” ungkap Sabidin.
Senada dengan hal itu, Kepala DPUPR Kabupaten Kendal, Sudaryanto, membenarkan bahwa kerusakan dipicu oleh overload muatan armada truk galian C.
Kondisi ini kian diperparah oleh faktor alam. “Penyebabnya karena overload muatan truk. Gongnya saat musim hujan, langsung ambles,” tambah Sudaryanto. Pihaknya berjanji akan segera melakukan perbaikan, meski belum merinci total kalkulasi anggaran yang dibutuhkan.
Kritik Viral “Kendal Gebal” dan Kekecewaan Masyarakat terhadap Pemda
Hancurnya infrastruktur jalan ini memicu gelombang protes dari warga lokal. Kritik tajam bertajuk “Kendal Gebal” (Kendal Berlumpur/Kotor) yang sempat viral di media sosial nyatanya belum cukup kuat untuk mengetuk ketegasan pemangku kebijakan.
Masyarakat sangat menyayangkan sikap Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kendal yang dinilai menutup mata.
Meski banyak aktivitas tambang galian C di Kaliwungu Selatan disinyalir tidak taat aturan—baik terkait jam operasional, kelayakan jalur, hingga batasan tonase muatan—operasional mereka tetap diperbolehkan berjalan tanpa sanksi yang mengikat.
Warga menuntut adanya tindakan konkret, bukan sekadar perbaikan jalan yang bersifat sementara.
Selama truk-truk raksasa bermuatan melampaui kapasitas jalan tetap dibiarkan melenggang bebas tanpa pengawasan ketat, APBD Kendal akan terus habis hanya untuk memperbaiki jalan yang akan kembali rusak dalam hitungan bulan.












