TOMBAKOPINI: IAB
Waduh, Lae. Bagi banyak orang Batak, kabar ini tentu membuat hati terasa campur aduk seperti kopi yang diaduk pakai obeng. Bukan soal marga. Bukan soal kampung halaman. Bukan pula soal suku. Sebab yang sedang dibicarakan bukan identitas seseorang, melainkan perbuatannya.
Nah, kabar kali ini memang bisa bikin kepala bergoyang sendiri seperti kipas angin tua yang bautnya mulai longgar. Ceritanya datang dari tubuh BGN, lembaga yang seharusnya sibuk memikirkan gizi anak-anak Indonesia. Namun belakangan, yang sibuk justru publik yang menghitung satu per satu nama yang keluar masuk pemeriksaan Kejaksaan Agung.
Kalau dibuat daftar hadir, jumlahnya sudah lumayan panjang. Satu masuk. Menyusul lagi satu. Lalu datang lagi nama berikutnya. Mirip operasi penangkapan tikus di gudang beras. Baru saja satu tertangkap, eh muncul lagi dari sudut lain.
Kini yang menjadi sorotan adalah tersangka keenam, Glory Harimas Sihombing. Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review itu diamankan pada Kamis malam, 18 Juni 2026. Nama yang sebelumnya terdengar seperti pejuang ketahanan pangan mendadak muncul dalam pusaran perkara yang membuat banyak orang terkejut.
Padahal kalau melihat riwayat hidupnya, orang mungkin langsung mengangguk kagum. Lulusan Biologi ITB angkatan 2010 hingga 2014. Pernah bekerja di berbagai perusahaan dan organisasi yang namanya panjang-panjang dan terdengar mahal. Ada dunia konsultasi bisnis, teknologi keuangan, investasi hijau, hingga proyek keberlanjutan lingkungan.
Melihat CV-nya saja, kita bisa membayangkan sosok profesional yang berbicara tentang masa depan dunia sambil berdiri di depan layar presentasi penuh grafik hijau. Bahasanya campur Inggris dan istilah teknis. Audiens mengangguk-angguk serius, meskipun dalam hati mungkin ada yang bertanya, “Tadi dia ngomong apa sebenarnya?”
Namun menurut dugaan penyidik, cerita di balik layar ternyata tidak seindah tampilan presentasi. Glory disebut memiliki akses terhadap informasi titik-titik SPPG yang menjadi bagian penting dalam program Makan Bergizi Gratis. Titik-titik ini seharusnya melalui proses yang transparan dan sesuai aturan.
Akan tetapi, penyidik menduga justru terjadi praktik jual beli titik dapur kepada pihak tertentu.
Bayangkan saja, Lae. Dapur yang seharusnya menjadi tempat lahirnya telur rebus, sayur sehat, susu, dan harapan masa depan anak-anak bangsa, diduga berubah menjadi barang dagangan bernilai ratusan juta rupiah. Satu titik nilainya besar. Banyak titik nilainya bisa membuat kalkulator panas dan minta pensiun dini.
Ibarat pasar malam, yang dijual bukan kambing, bukan sepeda motor, bukan televisi cicilan dua puluh empat bulan. Yang diperjualbelikan justru akses terhadap program yang uangnya berasal dari rakyat.
Di sinilah cerita yang awalnya terdengar seperti lelucon warung kopi berubah menjadi kisah yang pahit. Sebab setiap rupiah yang bocor bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di ujung sana ada anak-anak yang berharap mendapat makanan bergizi. Ada orang tua yang berharap program ini benar-benar membantu masa depan buah hati mereka.
Karena itu, Lae, habiskan dulu kopimu sebelum dingin. Drama ini tampaknya masih jauh dari episode penutup. Kejaksaan masih bekerja. Pengadilan masih menunggu. Dan rakyat masih berharap semua yang terlibat diproses secara adil sesuai hukum serta asas praduga tak bersalah. Sebab ketika program untuk anak-anak saja diduga dijadikan ladang permainan, yang terluka bukan hanya anggaran negara, tetapi juga rasa keadilan seluruh bangsa.












