TAPANULI SELATAN, TOMBAKRAKYAT.com — Kopi yang enak belum tentu otomatis bisa menembus pasar ekspor. Di balik secangkir kopi dengan aroma dan cita rasa khas, ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan: memastikan produksi tersedia dalam jumlah memadai, kualitas konsisten, kebun terdata, petani terampil, dan koperasi mampu berdiri sebagai kekuatan ekonomi bersama.
Persoalan itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi Program Konsorsium Caritas Wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (27/8/2026), di Batu Kopi, Desa Situmba, Kecamatan Sipirok.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB tersebut dihadiri puluhan masyarakat serta pengurus dan anggota Koperasi Produsen Kopi Luat Sipirok.
Kabid Koperasi UKM Dinas Perdagangan dan Koperasi UKM Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, Ahmad Gojali Harahap, hadir sebagai narasumber. Ia menekankan pentingnya membangun koperasi yang sehat dan benar-benar memberikan manfaat kepada anggotanya.
Koperasi, menurut semangat yang dibangun dalam kegiatan tersebut, tidak boleh berhenti pada status badan hukum, papan nama, atau sekadar memiliki pengurus. Koperasi harus mampu menjadi rumah bersama bagi petani untuk memperkuat posisi ekonomi mereka.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Program Konsorsium Caritas Kabupaten Tapanuli Selatan, Irsan Simanjuntak, memaparkan kegiatan dan rencana kerja program yang akan dilaksanakan di wilayah Situmba-Sialaman.
Salah satu fokus utama adalah peningkatan kualitas kopi melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik budidaya pertanian yang baik.
Penerapan GAP tersebut akan diperkuat melalui pendampingan sekolah lapang kopi di masing-masing koperasi. Program juga mencakup pengumpulan database kepemilikan kebun kopi serta inisiasi sertifikasi GAP.
Dengan cara itu, pengembangan kopi tidak hanya berbicara soal berapa banyak buah kopi yang dipanen. Lebih jauh, setiap kebun perlu memiliki data, proses budidayanya perlu diperbaiki, dan kualitas hasilnya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Penguatan kelembagaan koperasi juga menjadi bagian penting melalui berbagai pelatihan.
Namun, ada satu gagasan yang membuat program tersebut memiliki arah yang lebih besar: kolaborasi antarkoperasi.
Koperasi Produsen Kopi Luat Sipirok tidak diarahkan untuk berjalan sendirian. Koperasi primer dari Jambi, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Karo dan Takengon direncanakan berkolaborasi membentuk koperasi sekunder di Medan.
Koperasi sekunder tersebut bahkan diproyeksikan membangun fasilitas pengolahan atau pabrik di Medan. Dalam rencana pengembangan itu, koperasi primer akan memiliki porsi saham sebesar 20 persen dalam skema usaha.
Konsep tersebut mencoba menjawab persoalan klasik petani kopi: produksi tersebar di banyak kebun, sementara pasar ekspor membutuhkan volume yang cukup dan pasokan yang berkelanjutan.
Di sinilah koperasi memainkan peran strategis.
Jika petani bergerak sendiri-sendiri, produksi dari kebun-kebun kecil akan sulit dikonsolidasikan. Sebaliknya, melalui koperasi, hasil produksi dapat dikumpulkan, kualitas diseragamkan, data kebun dibangun, kapasitas petani ditingkatkan, dan akses pasar diperjuangkan secara bersama.
Sebab, keterbatasan luas lahan tidak harus berarti keterbatasan kekuatan ekonomi.
Lahan boleh terbatas. Kebun boleh tersebar. Tetapi produksi, kualitas, modal, pengetahuan dan akses pasar dapat dikumpulkan melalui koperasi.
Program kolaborasi di Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Karo dan Takengon tersebut mendapat akses dana hibah TFCA-Sumatera (Tropical Forest Conservation Action for Sumatera). Untuk wilayah Sumatera Utara, pelaksanaannya didampingi Konsorsium Caritas.
Bagi Koperasi Produsen Kopi Luat Sipirok, langkah ini pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana menghasilkan biji kopi berkualitas.
Yang lebih penting adalah bagaimana petani memperoleh posisi yang lebih kuat dalam rantai usaha, mulai dari kebun, pengolahan, kelembagaan koperasi hingga pasar.
Sebab, untuk membawa kopi lokal menuju pasar dunia, ternyata aroma dan cita rasa saja belum cukup.
Dibutuhkan petani yang terampil, kualitas yang konsisten, data kebun yang jelas, produksi yang terkonsolidasi, koperasi yang sehat dan keberanian untuk berkolaborasi.
Lahan boleh kecil. Kebun boleh tersebar. Tetapi jika kekuatannya dikumpulkan melalui koperasi, mimpi Kopi Sipirok untuk menembus pasar ekspor tidak harus ikut mengecil.










