Tombak Rakyat.com – Klaten –Musibah datang sekejap, persaudaraan hadir menenangkan. PT Wish Makmur Perkasa dan Seduluran Mancing Mania Klaten salurkan bantuan untuk Joko Nugroho Teguh Wibowo. Rumah hangus dalam 15 menit, tak ada korban jiwa, sesama tak membiarkan sendirian.
Ketika musibah datang tiba-tiba, kehadiran sesama menjadi penenang yang paling berharga. Begitulah yang dirasakan Joko Nugroho Teguh Wibowo, warga yang rumahnya ludes terbakar pada Selasa, 22 September 2026. Tiga hari kemudian, Jumat (25/9), perwakilan PT Wish Makmur Perkasa (WMP) bersama Seduluran Mancing Mania Klaten (SMMK) datang langsung ke lokasi bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga menguatkan hati.

Bantuan yang diserahkan merupakan gabungan dana Tanggung Jawab Sosial (CSR) PT WMP dan sumbangan sukarela dari rekan-rekan pemancing di beberapa kolam, antara lain Kolam Pancing Erlangga, Bibis, hingga Kedung Lele Pedan.
Agung, Kepala Operasional PT WMP sekaligus Ketua Umum SMMK, menyampaikan bahwa langkah ini lahir dari kepedulian yang tulus.
“Joko bukan orang asing bagi kami. Beliau dikenal sebagai pribadi yang baik dan suka menolong. Kini giliran kami hadir di sampingnya mengumpulkan bantuan dari perusahaan dan rekan-rekan pemancing, sebagai wujud mempererat persaudaraan,” ujar Agung di lokasi kejadian.

Dalam 15 Menit, Semua yang Dimiliki Hilang
Saat ditemui, Joko menceritakan peristiwa yang masih terasa seperti mimpi. Kejadian berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu ia sedang tidak berada di rumah, begitu pula empat anggota keluarganya kebetulan rumah kosong, sehingga tak ada korban jiwa. Itulah satu hal yang paling disyukuri.
Kebakaran diduga bermula dari korsleting listrik pada tiang PLN yang berdiri tepat di depan rumah. Bangunan itu sekaligus menjadi tempat penampungan barang rongsokan milik kakaknya dan tempat usaha jasa servis elektronik miliknya sendiri.
Rumah itu sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Tiang listrik tersebut pun sudah ada sejak dulu awalnya berupa cagak kayu, baru diganti besi setelah tahun 1980-an. Menurut cerita ayahnya, tiang itu sempat diprotes karena berdiri di atas tanah milik keluarga, namun hingga kini belum ada penyelesaian.
“Hanya dalam waktu 15 menit, semuanya habis dilalap api. Kabel meleleh, panel meledak. Tiga truk pemadam datang, tapi tak ada yang bisa diselamatkan. Tak tersisa apa pun kecuali baju yang saya pakai. Surat-surat penting pun ikut lenyap,” ucap Joko dengan suara pelan.
Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
“Saya belum tahu bagaimana ke depannya, untuk tempat tinggal saya.Saat ini saya hanya bisa pasrah, dari kelurahan kecamatan dan sekolah tempat anak saya Alhamdulillah memberikan support,semoga ada perhatian dari pemerintah lebih lanjut,” ucap Joko.
Saat Sesama Mengulurkan Tangan
Di tengah ketidakpastian yang dirasakan Joko, kehadiran rekan-rekan dari PT WMP dan KMMK menjadi penghibur yang menenangkan. Bantuan yang diserahkan bukan sekadar angka melainkan pengingat bahwa ia tidak sendirian menghadapi semuanya.
Persaudaraan yang terjalin selama ini kini terasa makin bermakna: ketika satu anggota jatuh, yang lain datang mengulurkan tangan.
Rumah yang hangus tentu bisa dibangun kembali. Barang yang hilang pun bisa diusahakan penggantinya. Namun ikatan persaudaraan yang tulus, yang hadir tepat di saat-saat paling sulit itulah yang tak bisa dilalap api apa pun.
Semoga kehadiran sesama ini menjadi kekuatan bagi Joko dan keluarganya, serta menginspirasi lebih banyak orang untuk saling peduli. Semoga mereka segera diberi kekuatan untuk bangkit kembali, pungkas Agung.
DISCLAIMER
Berita ini disusun berdasarkan keterangan langsung dari perwakilan PT WMP dan KMMK, serta narasumber korban pada 25 September 2026. Seluruh kronologi, keterangan kerugian, dan pernyataan mengacu pada penyampaian di lokasi kejadian.












