TombakRakyat.com – CIREBON — Kasus dugaan bullying yang melibatkan siswa kelas 3 SD Santa Maria Cirebon belum juga menemukan titik terang. Di tengah proses pencarian fakta, perhatian kini mengarah pada satu persoalan yang terlihat sederhana, tetapi justru menyimpan banyak pertanyaan: rekaman CCTV pada 24 Juli 2026.
Rekaman yang diharapkan dapat membantu melihat rangkaian kejadian justru disebut tidak tersedia.
Masalahnya, alasan mengenai tidak adanya rekaman tersebut tidak berhenti pada satu penjelasan.
Informasi yang beredar memperlihatkan adanya tiga versi keterangan berbeda.
Kepada orang tua, disebutkan bahwa sistem CCTV memiliki kemampuan penyimpanan hanya selama tujuh hari.
Ketika persoalan itu dikomunikasikan kepada awak media, penjelasan yang muncul berubah. CCTV disebut mengalami error atau kerusakan.
Kemudian dalam sebuah pertemuan yang turut menghadirkan teknisi, muncul penjelasan teknis lain. Persoalan dikaitkan dengan koneksi Wi-Fi, IP address serta baterai yang disebut tidak berfungsi.
Di sinilah persoalan menjadi lebih pelik.
Bukan karena salah satu versi tersebut otomatis salah, tetapi karena tiga penjelasan dengan titik persoalan berbeda muncul untuk menerangkan hilangnya rekaman pada momentum yang sama.
Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan tindakan yang disengaja.
Namun, perbedaan penjelasan itu jelas membutuhkan klarifikasi yang tidak sekadar normatif.
KAPAN DAN MENGAPA REKAMAN 24 JULI TIDAK BISA DIAKSES?
Pertanyaan ini seharusnya dapat dijawab melalui pemeriksaan teknis.
Jika penyebabnya kapasitas penyimpanan, berapa kapasitas perangkat dan berapa lama sistem secara nyata menyimpan data sebelum melakukan overwrite?
Jika perangkat mengalami gangguan, kapan kerusakan mulai terjadi? Apakah ada laporan, tiket perbaikan, dokumentasi teknisi atau riwayat pemeliharaan?
Jika masalah berada pada jaringan, IP address atau sumber daya baterai, apakah gangguan tersebut menyebabkan kamera berhenti merekam, hanya kehilangan akses, atau membuat data tidak tersimpan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena “rekaman tidak ada” dan “rekaman tidak dapat diakses” merupakan dua persoalan teknis yang berbeda.
Karena itu, jawaban yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan bahwa CCTV bermasalah.
Yang harus diketahui adalah jenis gangguannya, waktunya, dampaknya terhadap data, serta bukti teknis yang mendukung penjelasan tersebut.
JANGAN BIARKAN PERSOALAN CCTV BERUBAH MENJADI PERANG NARASI
Kasus yang menyangkut anak tidak semestinya diselesaikan melalui adu pernyataan.
Sekolah memiliki hak untuk memberikan penjelasan.
Orang tua memiliki hak meminta kejelasan.
Teknisi memiliki tanggung jawab menjelaskan aspek teknis berdasarkan pemeriksaan.
Awak media memiliki kepentingan untuk memperoleh informasi yang konsisten dan dapat diverifikasi.
Namun seluruh keterangan tersebut tetap harus diuji terhadap fakta.
Jika memang terdapat log sistem, catatan pemeliharaan, dokumentasi kerusakan, konfigurasi penyimpanan, atau data teknis lain, bukti-bukti tersebut jauh lebih penting daripada sekadar saling mempertentangkan pernyataan.
Satu perangkat dapat diperiksa. Satu sistem dapat diaudit. Satu kronologi dapat diuji.
Karena itu, misteri CCTV sebenarnya bukan sesuatu yang harus dibiarkan menjadi teka-teki berkepanjangan.
POLEMIK VISUM DAN KONDISI PSIKOLOGIS ANAK
Persoalan lain yang ikut mengemuka adalah mengenai pemeriksaan visum.
Pembahasan mengenai dugaan bullying tidak semestinya hanya berputar pada pertanyaan apakah terdapat luka fisik atau tidak.
Kondisi anak setelah suatu peristiwa juga perlu diperhatikan, terutama apabila terdapat laporan mengenai perubahan perilaku, ketakutan, tekanan atau dugaan trauma.
Tetapi penting pula menjaga objektivitas.
Kondisi psikologis harus dinilai oleh pihak yang kompeten melalui asesmen yang tepat, bukan ditentukan hanya berdasarkan asumsi.
Demikian pula hasil visum perlu ditempatkan sesuai fungsi medisnya.
Tidak adanya luka fisik tidak otomatis menutup seluruh kemungkinan terjadinya perundungan.
Sebaliknya, adanya keluhan psikologis juga tidak boleh langsung dijadikan bukti tunggal bahwa suatu dugaan telah terbukti.
Seluruh informasi harus dibaca sebagai satu rangkaian.
YANG DIPERLUKAN ADALAH PEMERIKSAAN, BUKAN SEKADAR PENJELASAN
Ada beberapa hal yang seharusnya dapat dijawab secara terang:
Pertama, bagaimana konfigurasi penyimpanan CCTV di sekolah tersebut?
Kedua, berapa lama rekaman secara faktual tersimpan?
Ketiga, apakah sistem melakukan penghapusan atau overwrite otomatis?
Keempat, kapan perangkat atau jaringan terakhir diketahui bekerja normal?
Kelima, apakah terdapat catatan gangguan pada periode sekitar 24 Juli 2026?
Keenam, apa hasil pemeriksaan teknisi terhadap perangkat?
Ketujuh, apakah persoalan yang terjadi memengaruhi proses perekaman atau hanya akses terhadap rekaman?
Pertanyaan tersebut bukan bentuk tuduhan.
Justru sebaliknya, jawaban teknis yang transparan dapat mengakhiri spekulasi yang berkembang.
Sebab semakin lama penjelasan berbeda dibiarkan tanpa rekonsiliasi, semakin besar ruang bagi publik untuk mempertanyakan konsistensi informasi.
TIGA VERSI TIDAK BOLEH BERHENTI SEBAGAI TIGA CERITA
Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang paling keras berbicara.
Bukan pula siapa yang paling cepat membantah.
Yang diperlukan adalah satu rangkaian fakta yang dapat diperiksa bersama.
Perangkat CCTV perlu diperiksa.
Konfigurasi penyimpanan perlu diverifikasi.
Riwayat gangguan perlu ditelusuri.
Keterangan teknisi perlu diuji dengan kondisi perangkat.
Kronologi kejadian perlu disandingkan dengan seluruh informasi yang tersedia.
Dan bila ada bukti lain, bukti tersebut harus ditempatkan dalam pemeriksaan yang utuh.
Sebab sebuah sistem CCTV tidak seharusnya menghasilkan tiga cerita berbeda ketika publik hanya membutuhkan satu hal: penjelasan faktual tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Di atas semua polemik tersebut, kepentingan anak harus tetap menjadi pusat perhatian.
Jangan sampai perdebatan mengenai perangkat, visum, pernyataan dan bantahan justru membuat persoalan utama bergeser: memastikan seorang anak mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta proses pemeriksaan yang adil dan objektif.
Dugaan bullying dan persoalan tidak tersedianya rekaman CCTV tanggal 24 Juli 2026 masih memerlukan verifikasi serta klarifikasi dari pihak-pihak terkait. Perbedaan keterangan mengenai sistem CCTV tidak dengan sendirinya membuktikan adanya kesengajaan maupun pelanggaran.
Hisam












