Bandung, TombakRakyat.com — 9 Februari 2026 — Di tengah duka pascalongsor yang mengguncang Pasirlangu, Cisarua, secercah harapan menyala dari sebuah masjid yang berdiri kokoh di dekat titik bencana. Di tempat itulah Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat (PWA), dibantu oleh PDA KBB dan PCA Cisarua, menggelar Assessment Psikososial bagi para penyintas.
Ketua PCA Cisarua, menegaskan bahwa masjid tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perlindungan dan ruang aman. Qadarullah, meski berada sangat dekat dengan lokasi longsor, masjid tetap utuh. Bahkan warga yang berada di dalamnya sempat mendengar langsung gemuruh tanah bergerak. “Di sinilah para ibu bisa berkumpul, saling menguatkan, dan menenangkan hati,” ujarnya penuh empati.
Ketua PWA Jawa Barat, Dra. Hj. Ia Kurniati, M.P., mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga ujian. Ia menegaskan kehadiran ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk seluruh umat, mendampingi para ibu dan keluarga penyintas agar tetap teguh dalam iman, sabar, dan tawakal. Musibah, katanya, bukan alasan menggoyahkan akidah, melainkan momentum menguatkan keteguhan jiwa.

Pendampingan dilakukan oleh Tim LLHPB PWA Jabar. Selaku ketua divisi, Mumsikah Choyri, M.Sos., menyampaikan pentingnya merawat luka batin sebagaimana luka fisik. Jika tubuh yang sakit perlu diobati, maka jiwa yang terluka pun perlu dipulihkan. Gejala seperti sulit tidur, mudah terkejut, hingga rasa takut saat hujan deras menjadi tanda trauma yang tak boleh diabaikan.
Assessment dilakukan melalui metode Psychological First Aid (PFA) yang didampingi oleh Hilda Khairunnisa M.Psi, Tahapan yang dilakukan di antaranya listen dan link — di mana fasilitator mendengarkan kisah delapan kelompok penyintas serta melakukan pengisian DASS-21 untuk memetakan tingkat stres, kecemasan, dan depresi. Sesi relaksasi pernapasan 4-7-8 dan teknik butterfly hug turut diberikan untuk membantu menenangkan emosi. Para ibu diajak memberi afirmasi positif pada diri sendiri: “Terima kasih sudah berjuang. Terima kasih sudah bertahan.”

Hasil sesi menunjukkan kondisi fisik penyintas relatif sehat, namun mayoritas masih mengalami trauma: takut saat hujan, cemas mendengar gemuruh, sulit tidur, hingga kekhawatiran akan longsor susulan. Banyak yang kehilangan kebun, ternak, dan sumber penghasilan. Anak-anak pun sebagian masih menunjukkan tanda ketakutan.
Meski demikian, semangat bangkit mulai tumbuh. Aktivitas ibadah, mengobrol, berjalan santai, hingga anak-anak yang kembali bersekolah menjadi tanda harapan. Sekretaris LLHPB Jawa Barat, Ibu Ririn Dewi Wulandari, S.E., M.M., memastikan data asesmen akan ditindaklanjuti dengan pendampingan lanjutan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ‘Aisyiyah tidak hanya hadir membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan ketenangan, penguatan iman, dan pemulihan martabat. Dari masjid yang kokoh itu, lahir tekad untuk bangkit lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bersatu.












