BERITA

DARURAT Abrasi Kali Kuto: Gotong Royong Warga Tegalrejo Terhenti Hujan, Talud Retak Tinggal 50 cm dari Bibir Sungai

406
×

DARURAT Abrasi Kali Kuto: Gotong Royong Warga Tegalrejo Terhenti Hujan, Talud Retak Tinggal 50 cm dari Bibir Sungai

Sebarkan artikel ini
Sasak dan Pancang Bambu hasil sawadaya masyarakat bersama Kepala Desa, dan pancang bambu yang siap pasang namun terhenti akibat hujan deras
Sasak dan Pancang Bambu hasil sawadaya masyarakat bersama Kepala Desa, dan pancang bambu yang siap pasang namun terhenti akibat hujan deras

KENDAL, TOMBAKRAKYAT.com – Semangat gotong royong warga dusun Tegalrejo, Desa Rowosari, Kabupaten Kendal, yang dikomandoi langsung Kepala Desa Tegalrejo, Luqman Zakaria, S.Sos., S.H., NL.P, terpaksa terhenti akibat hujan deras yang mengguyur lokasi, Kamis pagi (23/1/26). Pekerjaan penanganan abrasi yang sedianya dimulai usai seremonial selametan itu dihentikan demi keselamatan warga.

 

Kondisi abrasi di bibir Kali Kuto saat ini dinilai sangat kritis. Sejak diterjang banjir limpasan Bendung Kedung Asem pada Minggu (18/1), jarak abrasi dilaporkan tinggal 50 sentimeter dari bangunan tanggul, dengan struktur talud yang sudah tampak retak. Intensitas hujan yang masih tinggi memperparah kondisi tersebut dan meningkatkan risiko longsor.

Baca Juga  PERADI Dirgantara Jawa Timur Membuka Pendaftaran Pengangkatan dan Pengambilan Sumpah Advokat di Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Surabaya Periode Juni - Juli 2026.
Dinas PUSDA TARU Propinsi Jawa Tengah survey lokasi di dusun Tegalrejo, Kepala Desa Rowosari, Luqman Zakaria, S.Sos., S.H., NL.P.

Situasi ini mendorong pemerintah desa dan warga bergerak cepat. Dinas PUSDATARU Provinsi Jawa Tengah turun langsung melakukan survei lokasi pada Kamis (22/1), sebagai respons atas surat permohonan Kepala Desa yang diperkuat laporan warga melalui aplikasi JNN.

Baca Juga  Jalan Sehat Berhadiah Umroh, Kemenag Jombang Ajak Masyarakat Ramaikan HAB ke-80

Dalam survei tersebut, PUSDATARU mengapresiasi langkah gotong royong masyarakat yang diinisiasi langsung oleh Kepala Desa. Sebagai bentuk dukungan awal, PUSDATARU menyatakan akan membantu material berupa tanah urug, mengingat warga telah menyiapkan pancang bambu dan sasak bambu untuk penanganan darurat.Namun demikian, penanganan permanen dari PUSDATARU baru dapat diusulkan untuk tahun anggaran 2027.

Kepala Desa Rowosari, Luqman Zakaria, S.Sos., S.H., NL.P, bersama warga dusun Tegalrejo, berteduh saat turun hujan.

Fakta ini memicu kekecewaan di kalangan warga, karena abrasi dinilai sudah menyangkut keselamatan jiwa, bukan sekadar kerusakan fisik atau kerugian materi.

Baca Juga  Perkuat Silaturahmi Ramadan, Karyawan PT Shinto Welding Indonesia Gelar Buka Puasa Bersama

“Kami ini tinggal menunggu banjir besar. Kalau talud jebol, bukan lagi soal sawah atau rumah, tapi nyawa warga dua desa,” keluh Pak Akhir.

 

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Luqman Zakaria menegaskan tidak akan tinggal diam. Selain mengupayakan penanganan darurat bersama warga, pihaknya akan terus memperjuangkan solusi percepatan penanganya.

“Kami akan terus berupaya, termasuk berencana mengajukan Banprov, agar penanganan tidak harus menunggu hingga 2027,” tegas Luqman.

 

Warga berharap abrasi Kali Kuto tidak diperlakukan sebagai persoalan yang bisa ditunda. Mereka menilai kondisi di lapangan sudah masuk kategori darurat dan memerlukan langkah serius sebelum ancaman berubah menjadi bencana yang merenggut korban jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *