TOMBAKOPINI:IAB
Seruput kopinya dulu, Bang. Biar obrolan kita nggak terlalu tegang, walaupun kabarnya lumayan bikin kita berhenti ngunyah gorengan di tengah kunyahan. Jadi begini—katanya, berdasarkan survei global dari Pew Research Center dalam Spring 2025 Global Attitudes Survey, Indonesia masuk daftar negara dengan warga paling bermoral di dunia. Iya, Indonesia. Negara yang kalau lampu merah baru hijau sepersekian detik, klakson di belakang langsung bunyi kayak aba-aba lomba 17-an.
Agak bikin dahi berkerut, ya? Tapi jangan buru-buru protes ke takdir atau menyalahkan tukang gorengan yang kebanyakan micin. Kita pahami dulu: moral itu bukan soal siapa paling suci atau paling rajin upload quotes bijak. Moral itu ibarat kompas—kadang goyang, kadang muter-muter, tapi tetap berusaha nunjukin arah yang benar. Dia hidup dari kebiasaan kecil: bilang “makasih”, ngasih jalan, nolong orang tanpa direkam dulu buat konten.
Nah, menurut survei itu, sekitar 92% orang Indonesia percaya sesama warganya bermoral. Angka yang sama juga dimiliki Kanada. Jadi secara teori, kita setara dengan negara yang terkenal tertib, adem, dan warganya kalau antre nggak sambil nyenggol-nyenggol. Sementara kita? Antre bisa rapi… tapi kalau ada celah sedikit, tiba-tiba muncul “jalur ninja” dari samping.
Menariknya, hasil ini seperti nge-prank logika lama kita: bahwa negara maju pasti lebih “baik”. Ternyata moral itu bukan soal GDP, bukan soal gedung tinggi, bukan juga soal berapa banyak kopi yang diminum tanpa gula. Negara bisa maju secara ekonomi, tapi belum tentu warganya saling percaya soal moral. Lihat saja Amerika Serikat—banyak responden di sana justru merasa sesama warganya kurang bermoral. Suasananya mungkin mirip grup WhatsApp keluarga: semua aktif, semua punya pendapat, tapi kalau disuruh sepakat… ya, doakan saja.
Balik ke Indonesia. Apakah ini berarti kita sudah level “malaikat magang”? Tentu tidak. Kita masih punya PR segunung: dari korupsi, pelanggaran aturan, sampai drama sosial yang kadang lebih plot twist dari sinetron azab. Di jalan masih ada yang nyalip dari kiri, di kantor masih ada yang “nanti saja”, dan di hidup masih ada yang “niatnya baik, eksekusinya… ya begitu.”
Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang masih nyala: rasa. Rasa peduli, rasa kasihan, rasa nggak tega. Kita mungkin ribut di komentar, beda pilihan, beda selera sambal, bahkan beda cara makan nasi Padang (ini sensitif), tapi kalau lihat orang jatuh di jalan, refleks kita tetap sama: nolong dulu, debatnya nanti.
Itu yang mungkin nggak selalu kebaca di angka statistik atau indeks pembangunan. Tapi terasa di kehidupan sehari-hari. Di warung kecil yang masih ngasih utang dengan kepercayaan. Di jalan sempit yang tiba-tiba jadi lebar karena orang-orang saling ngalah. Di kota besar yang katanya individualis, tapi tetap ada yang nengok kalau kita kelihatan kebingungan.
Jadi, moral itu bukan tentang kita selalu benar. Tapi tentang kita masih punya jeda sebelum jadi tidak peduli. Masih ada suara kecil yang bilang, “Eh, bantuin dulu lah.”
Akhirnya, kita balik lagi ke kopi di tangan. Mungkin rasanya pahit, tapi nggak sepahit dunia yang sering kita lihat di berita. Dan kalau Indonesia dibilang negara paling bermoral, mungkin jawabannya bukan karena kita paling hebat—tapi karena kita masih mau merasa.
Dan kalau masih ragu, nggak usah cek survei. Coba saja jatuh di jalan. Itu penelitian paling jujur. Tanpa grafik, tanpa presentasi. Langsung dari manusia… ke manusia.












