Ketika Negara Disanksi Dunia Bisa Mandiri, Sementara Negara Kaya Sumber Daya Masih Bergantung
TOMBAKOPINI : Emhape
Di sebuah diskusi sederhana di Lembur Pakuan, Iran dibicarakan bukan dari sisi agama. Bukan pula dari propaganda geopolitik Timur Tengah.
KDM bedah Iran dari sudut yang jauh lebih telanjang: kedaulatan negara.
Pertanyaannya sederhana tetapi menampar banyak bangsa berkembang:
bagaimana mungkin sebuah negara yang diembargo puluhan tahun justru mampu berdiri lebih mandiri daripada negara yang tidak pernah diembargo sama sekali?
Iran hidup di bawah sanksi ekonomi internasional selama lebih dari empat dekade. Banknya dibatasi. Teknologinya diisolasi. Perdagangannya diawasi. Bahkan transaksi keuangan global sering kali ditutup.
Tetapi negara itu tidak runtuh.
Justru dari tekanan itu lahir satu mentalitas nasional yang jarang dimiliki banyak negara berkembang: mentalitas bertahan dan mencipta sendiri.
Iran memilih pemimpinnya sendiri, menentukan jalannya sendiri, dan mempertahankan kedaulatannya tanpa harus menunggu persetujuan kekuatan global.
Sementara di banyak negara lain, kata “kedaulatan” sering hanya terdengar gagah di podium, tetapi lunglai di meja negosiasi.
Anggaran Negara Kecil, Ambisi Teknologi Besar
Mari kita bicara angka.
Iran memiliki populasi sekitar 92 juta jiwa dengan APBN sekitar Rp.1.000 triliun.
Bandingkan dengan Indonesia.
Penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, dengan APBN lebih dari Rp3.300 triliun.
Artinya secara sederhana:
Anggaran Indonesia lebih dari tiga kali lipat Iran
Populasi Indonesia juga tiga kali Iran
Tetapi pertanyaannya bukan pada jumlah anggaran.
Pertanyaannya adalah: ke mana anggaran itu benar-benar pergi?
Iran mengalokasikan sekitar Rp132 triliun untuk pertahanan.
Angka ini relatif kecil jika dibandingkan dengan banyak negara lain. Tetapi dari anggaran tersebut Iran mampu:
mengembangkan drone tempur jarak jauh
memproduksi sistem rudal sendiri
membuat hulu ledak dan teknologi militer domestik
memperkuat armada laut dan udara dengan produksi dalam negeri
Sederhananya:
mereka membuat sendiri.
Bukan sekadar membeli.
Di sinilah perbedaan mentalitas negara terlihat jelas.
Negara yang bergantung pada impor teknologi militer akan terus menguras anggaran.
Negara yang mengembangkan teknologi sendiri justru menciptakan ekosistem industri strategis.
Pendidikan: Mesin Kemandirian Negara
Rahasia Iran sebenarnya tidak berada di pangkalan militernya.
Rahasia Iran berada di kampus dan laboratorium.
Dari setiap sepuluh orang yang bersekolah, sembilan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Dan yang dipelajari bukan sekadar ilmu sosial populer, tetapi fondasi teknologi negara:
• matematika
• fisika
• kimia
• biologi
• teknik
• kedokteran
Hasilnya?
Iran menghasilkan ribuan insinyur dan ilmuwan setiap tahun. Mereka mengisi industri teknologi, riset nuklir, farmasi, hingga teknologi militer.
Embargo yang dimaksudkan untuk melemahkan Iran justru memaksa negara itu untuk belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Kesederhanaan Elite dan Budaya Martir
Ada satu elemen lain yang jarang dibahas dalam analisis ekonomi: budaya politik.
Banyak elite politik dan ulama di Iran membangun citra kesederhanaan yang kuat. Dalam narasi nasional mereka, konsep martir bukan sekadar simbol religius, tetapi etika kepemimpinan.
Pemimpin tidak boleh hidup mewah ketika negara berada dalam tekanan.
Heroisme pengorbanan ini kemudian menjadi energi moral bagi publik.
Bandingkan dengan banyak negara berkembang di mana pejabat sering kali justru menjadi kelas sosial paling makmur di tengah rakyat yang berjuang.
Ironi semacam ini adalah racun bagi kedaulatan.
Pelajaran Paling Menyakitkan
Mari jujur.
Indonesia memiliki:
• sumber daya alam raksasa
• populasi besar
• posisi geopolitik strategis
• anggaran negara yang jauh lebih besar
Tetapi kita masih sering menjadi pasar teknologi negara lain.
Kita masih membeli, bukan memproduksi.
Kita masih mengimpor, bukan menciptakan.
Dan yang paling menyakitkan:
sebagian anggaran negara bahkan tidak pernah sampai pada tujuannya karena bocor di berbagai tingkat birokrasi.
Iran menunjukkan satu hal yang brutal tetapi nyata:
sebuah negara bisa bertahan tanpa akses global, tetapi tidak bisa bertahan jika korupsi menjadi budaya.
Kedaulatan Bukan Retorika
Di Lembur Pakuan, diskusi tentang Iran akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun mengganggu.
Kedaulatan negara tidak ditentukan oleh pidato nasionalisme.
Kedaulatan ditentukan oleh tiga hal:
• integritas pengelolaan anggaran
• investasi besar pada ilmu pengetahuan
• elite politik yang bersedia berkorban untuk negara
Tanpa itu semua, nasionalisme hanya menjadi slogan.
Dan negara yang kaya sumber daya sekalipun bisa berubah menjadi sekadar pasar bagi kekuatan global.
Sementara negara yang ditekan dunia justru bisa berdiri tegak.
sumber: KDM @ Lembur Pakuan












