Delegasi Kuba walk out (dok.Reuters)
Jakarta, TombakRakyat.com, – Dinamika berbeda terjadi dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika delegasi Kuba dan Amerika Serikat (AS) melakukan aksi walk out pada momen pidato yang berbeda.
Delegasi Kuba diketahui meninggalkan ruang sidang ketika Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan keras mengenai kondisi Kuba dalam pidatonya.
Dilansir BBC, Selasa (23/9/2026), Trump menyebut Kuba sebagai salah satu negara tetangga AS yang disebutnya sebagai “negara yang benar-benar gagal”. Ia juga memperkirakan pemerintahan Kuba akan mengalami keruntuhan.
“Rezim itu akan runtuh,” kata Trump.
Trump mengatakan pemerintahannya saat ini tengah melakukan negosiasi dengan Kuba dan berupaya mendorong apa yang disebutnya sebagai “perubahan mendasar” di negara tersebut.
Saat Trump melanjutkan pernyataannya mengenai Kuba, delegasi negara itu kemudian meninggalkan ruang sidang.
Dalam setahun terakhir, Trump memang semakin terbuka menyampaikan kritik terhadap pemerintahan komunis Kuba. Ia sebelumnya mengatakan pemerintah Kuba berada dalam “tekanan luar biasa” dan menghadapi kondisi yang disebutnya sebagai “kegagalan yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Meski demikian, pemerintah AS belum menjelaskan secara terperinci bentuk perubahan yang diharapkan terjadi di Kuba.
Pernyataan Trump tersebut mendapat respons keras dari Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez. Melalui platform X, Rodriguez menuduh Trump menyampaikan “kebohongan”.
“Pemerintah AS tidak mampu menerima kenyataan bahwa Kuba berhak menjadi negara yang berdaulat penuh dan merdeka,” tulis Rodriguez.
Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Berpidato
Aksi walk out juga terjadi ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Dilansir CNN, Rabu (23/9/2026), Pezeshkian dalam beberapa menit pertama pidatonya langsung menyinggung pernyataan Trump yang disampaikan sehari sebelumnya.
“Presiden Amerika Serikat menyebut kami sebagai teroris. Padahal, kamilah yang menjadi korban terorisme,” ujar Pezeshkian.
Ia kemudian menyampaikan sejumlah tuduhan terkait serangkaian serangan yang disebutnya terjadi dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran. Pezeshkian menyinggung kematian mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serangan terhadap sebuah sekolah pada hari dimulainya perang yang menurutnya menewaskan 156 orang, serta serangan terhadap sebuah gedung olahraga.
“Amerika Serikat menargetkan gedung olahraga tersebut menggunakan senjata dengan hulu ledak ganda. Mereka membunuh para ilmuwan kami, serta warga kami–baik pria, wanita, maupun anak-anak. Anak-anak tak berdosa yang sesungguhnya tidak melakukan kejahatan ataupun dosa apa pun,” kata Pezeshkian.
Ketika Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut, satu-satunya delegasi AS yang berada di ruang sidang berdiri dari kursinya dan meninggalkan ruangan.
Sebelumnya, dalam pidatonya di forum PBB, Trump juga menyinggung persoalan Iran. Ia mengatakan dirinya menghadapi pilihan besar terkait masa depan hubungan AS dengan Iran, termasuk kemungkinan tercapainya kesepakatan atau tindakan militer terhadap Republik Islam tersebut.
“Akankah kesepakatan dicapai dengan Iran yang memungkinkan mereka bangkit kembali dan membangun negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya-mungkin salah satu yang terhebat di Timur Tengah atau bahkan di dunia?” kata Trump, seperti dilansir CNN, Rabu (23/9).

Trump kemudian melontarkan pilihan lainnya.
“Atau haruskah saya menghancurkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara lagi?” ujarnya.
Dua kejadian tersebut menunjukkan adanya aksi walk out dari delegasi negara yang berbeda dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB, masing-masing sebagai respons terhadap pernyataan yang disampaikan dalam forum tersebut.










