KESEHATAN

Menjadi Terapis Profesional Bukan Sekadar Menguasai Teknik, tetapi Menjaga Kompetensi, Etika, dan Amanah

140
×

Menjadi Terapis Profesional Bukan Sekadar Menguasai Teknik, tetapi Menjaga Kompetensi, Etika, dan Amanah

Sebarkan artikel ini

TombakRakyat.com – INDRAMAYU – Menjadi terapis bukan sekadar menguasai teknik dan mengandalkan pengalaman. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan terapi, seorang terapis dituntut terus belajar, meningkatkan keterampilan, menjaga etika, serta memahami batas profesionalisme. Semangat itu menjadi pesan utama dalam kegiatan peningkatan keterampilan terapi yang digelar di Indramayu dan diikuti 15 peserta dari berbagai daerah, bahkan hingga Arab Saudi.

Peserta di antaranya Ibu Loly dari Riau, Sulton dari Arab Saudi, Azzam dari Cirebon, M. Nofianto dan M. Robert dari Riau, sementara peserta lainnya berasal dari wilayah sekitar Indramayu. Kegiatan dibimbing trainer Ratna Andayanti, A.Md.Akup., serta turut dihadiri unsur P-HATRI dan HATTRA, Ichwan Moestofa Luqfi, A.Md., dan Buang Surono sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan kapasitas dan profesionalisme para terapis.

Baca Juga  Tragedi Latsarmil Kopdes: Militerisme Buta yang Menumbalkan Manusia

Kegiatan tersebut diinisiasi owner Rumah Terapi Bumi Dermayu Indah, Iyon Pramulo, S.Or., M.Pd., Gr., AIFO, yang mendorong agar terapis tidak terjebak pada rasa cukup setelah menguasai satu atau beberapa teknik. Sebab, setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda. “Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki hari ini. Setiap pasien adalah pembelajaran, setiap pengalaman adalah proses, dan setiap keberhasilan adalah amanah,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga  P-HATRI Indramayu Perkuat Kompetensi Terapis Tradisional, Reuni Keilmuan di Klinik Al-Bayyan Jadi Ajang Berbagi Pengalaman Menangani Pasien

Pesan itu menegaskan bahwa kompetensi tidak boleh berhenti pada kemampuan teknis. Terapis harus terus berlatih, mengevaluasi pengalaman, memperbarui pengetahuan, dan memahami tanggung jawab pelayanan. Terapis yang berhenti belajar berisiko tertinggal, sementara terapis yang terus berkembang memiliki peluang lebih besar memberikan pelayanan yang aman, bertanggung jawab, dan bermanfaat.

Lebih tajam lagi, profesionalisme harus berjalan bersama integritas dan etika. Kepercayaan pasien adalah amanah, sehingga keterampilan harus dibarengi kejujuran, komunikasi yang baik, keterbukaan terhadap kemampuan dan keterbatasan, serta kesadaran terhadap batas-batas pelayanan. Jangan sampai profesi yang seharusnya menjadi jalan membantu masyarakat justru kehilangan kepercayaan hanya karena ego, merasa paling mampu, atau enggan terus belajar.

Baca Juga  Jangan Hanya Andalkan Keahlian, Terapis Tradisional Indramayu Wajib Lengkapi Legalitas agar Praktik Aman, Profesional, dan Terpercaya

Dari Indramayu, semangat itu dibangun untuk memperkuat budaya belajar di kalangan terapis. Kegiatan di Rumah Terapi Bumi Dermayu Indah diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman, meningkatkan keterampilan, sekaligus memperkuat komitmen terhadap pelayanan yang beretika. Ilmu bukan untuk dipamerkan, tetapi diamalkan; keterampilan bukan untuk dibanggakan, tetapi digunakan untuk membantu; dan profesi bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah untuk memberi manfaat. Sebab terapis profesional bukanlah mereka yang merasa paling hebat, melainkan mereka yang setiap hari sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari.

Hisam