OPINI & ANALISISEdukasi

Modus Alibi – Retorika vs Kesadaran Kritis : Mengurai Manisnya Kata Surgawi

224
×

Modus Alibi – Retorika vs Kesadaran Kritis : Mengurai Manisnya Kata Surgawi

Sebarkan artikel ini

TombakOpini

Rohaedi, CPA

“Air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak. setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya” Kutipan Tan Malaka itu hari ini terasa lebih relevan dari sekadar petuah ideologis. Ia menjelma cermin sosial : para oportunis berkumpul dengan oportunis, para pemburu cuan berkedok kemanusiaan saling menguatkan narasi, membangun jejaring, lalu menjual empati sebagai komoditas.

Di panggung publik, kata-kata seperti sosial, kemanusiaan, masyarakat, dan perubahan terdengar seperti doa, sangat lembut aroma surgawi begitu menggetarkan hati, namun dalam praktiknya, tak sedikit yang menjadikannya sebagai modus ilusi, retorika menjadi alibi, solidaritas menjadi panggung, penderitaan menjadi konten iklan.

Retorika yang Menjual Luka

Fenomena ini bukan asumsi emosional. Dalam psikologi sosial, ada konsep moral licensing, ketika seseorang merasa cukup “baik” karena narasinya, sehingga tindakannya tak lagi diperiksa. Dalam sosiologi politik, retorika moral sering menjadi alat legitimasi kekuasaan dan pengaruh ekonomi.

Modusnya rapi :

  • Mengangkat isu kemiskinan, tetapi dana tak transparan.
  • Menggalang solidaritas, tetapi relasi dibangun untuk kepentingan jaringan.
  • Mengatasnamakan rakyat kecil, tetapi keputusan hanya menguntungkan lingkaran dalam.
Baca Juga  Impor 105 Ribu Mobil Niaga India: Program Rakyat atau Dislokasi Industri Nasional?

Mereka berbicara tentang keadilan sosial, namun struktur organisasinya eksklusif. Mereka menyerukan kemanusiaan, tetapi memonetisasi air mata.

Di sinilah otak “cuan” bekerja. Penderitaan dipetakan sebagai peluang pasar. Empati diproduksi sebagai branding. Aktivisme berubah menjadi industri citra.

Resonansi Tanpa Implementasi

Manusia cenderung mencari resonansi : satu nilai dengan nilai, satu watak dengan watak. Di sinilah retorika manis menemukan pasarnya. Mereka tahu persis frekuensi psikologis audiensnya cara apa yang bisa membuat orang tersentuh, marah, atau merasa “berjuang”.

Namun pertanyaan paling tajam selalu sederhana :
Apa yang benar-benar berubah, fakta apa yang sudah terhampar ?

Retorika mudah diproduksi. Implementasi membutuhkan integritas. Retorika menciptakan ilusi gerak. Implementasi menuntut pengorbanan.

Banyak yang fasih bicara perubahan, tetapi alergi pada transparansi. Banyak yang gemar menuntut akuntabilitas pemerintah, tetapi organisasinya sendiri tak pernah diaudit. Ironi ini nyata dan berulang.

Menulis sebagai Perlawanan Sunyi

Di tengah struktur kuasa dan modal, pesan Al-Ghazali terasa revolusioner : “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

Menulis adalah bentuk perlawanan intelektual. Dokumentasi adalah senjata paling sunyi namun mematikan bagi kepalsuan. Fakta yang ditulis rapi akan lebih panjang umurnya daripada pidato yang menggelegar.

Baca Juga  Ketika Superbody Salah Bidang: Bahaya Konseptualisme Tanpa Riset dalam Organisasi

Pengetahuan yang terdokumentasi membongkar modus. Data memukul lebih keras daripada slogan. Tulisan yang jujur membangun resonansi yang tak bisa dibeli.

Uji Moral yang Sederhana

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan standar moral yang lugas : kemanusiaan di atas identitas. Keberpihakan pada yang lemah. Toleransi yang nyata, bukan kosmetik.

Ujinya sederhana :

  1. Siapa yang benar-benar hadir saat kamera mati ?
  2. Siapa yang tetap bekerja ketika sorotan hilang ?
  3. Siapa yang menolong tanpa menjadikannya materi promosi ?
  4. Retorika bisa dirancang. Ketulusan sulit direkayasa.

Gitu saja kok repot,” kata Gus Dur. Justru karena sering direpotkan oleh sandiwara moral, kita perlu menyederhanakan ukuran : lihat kerja nyatanya, bukan kemasan katanya.

Kesadaran Kritis adalah Tameng dan Kompas Berfikir.

Kesadaran kritis bukan sinisme. Ia adalah disiplin berpikir.
Ia menuntut tiga hal :

  • Analisis faktual mencocokkan kata dengan data.
  • Evaluasi aksi langkah membandingkan janji dengan dampak nyata.
  • Baca konteks ekonomi dengan ikuti aliran dana dan kepentingan tersembunyi.
Baca Juga  KOPDES MERAH PUTIH DAN PEMANGKASAN DD HINGGA 80℅: Beban Psikologi Kepala Desa?

Tanpa ini, masyarakat mudah digiring oleh retorika emosional. Dengan ini, publik menjadi dewasa.

Namun kesadaran kritis tak cukup tanpa muhasabah hati. Tanpa kejernihan batin, kritik berubah menjadi kebencian. Tanpa kesadaran diri, perjuangan berubah menjadi ambisi pribadi.

Sadar diri. Sadar posisi. Sadar hati bahwa kita hanyalah hamba. Dari situ lahir integritas.

Fakta Memory Otak Cuan

Ini bukan untuk menyerang individu, tetapi membongkar pola. Ketika kemanusiaan dijadikan komoditas, maka yang dihancurkan bukan hanya kepercayaan publik, tetapi fondasi moral masyarakat.

Jika publik semakin cerdas membaca modus, pasar retorika palsu akan runtuh dengan sendirinya. Oportunisme hidup dari ketidaksadaran kolektif. Ia mati oleh literasi, dokumentasi, dan keberanian bersuara.

Air memang berkumpul dengan air.
Tetapi masyarakat yang sadar bisa memilih menjadi air jernih—bukan minyak licin yang mengapung di atas penderitaan.

Pada akhirnya, pertarungan ini bukan antara kelompok, melainkan antara kejujuran dan kepalsuan. Dan sejarah selalu lebih memihak pada mereka yang bekerja dalam diam, bukan yang bersandiwara dalam terang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *