TOMBAKOPINI: IAB
Sebenarnya saya tidak ingin menulis soal drama ijazah ini. Hidup di negeri ini sudah cukup ramai dengan berbagai isu. Baru saja satu topik selesai diperdebatkan, eh muncul lagi topik baru yang tidak kalah heboh.
Tapi entah bagaimana, siang tadi beranda media sosial saya seperti sudah janjian. Semua membicarakan hal yang sama. Nama yang muncul juga bukan nama baru: Rismon Hasiholan Sianipar dan ijazah milik Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo.
Awalnya saya hanya membaca sambil mengernyitkan dahi. Lalu membaca lagi. Lalu menggulir layar. Lalu membaca lagi. Sampai akhirnya muncul pertanyaan klasik yang sering muncul di kepala para penonton drama nasional: “Ini sebenarnya cerita ke mana arahnya?”
Daripada hanya menjadi pembaca pasif yang kerjanya menggulir layar seperti atlet jempol nasional, akhirnya saya putuskan menuliskannya saja. Lagi pula, ini bukan pertama kali saya menulis tentang drama ijazah ini.
Dahulu Rismon termasuk orang yang sangat yakin bahwa ijazah Jokowi palsu. Bahkan tingkat keyakinannya bukan main: 99,99 persen. Angka yang kalau muncul di rapor sekolah biasanya membuat orang tua langsung memamerkannya ke grup keluarga besar.
Tetapi dalam dunia penelitian, angka setinggi itu ternyata masih punya satu kemungkinan kecil: berubah.
Dalam kajian terbarunya, ia menemukan beberapa unsur penting pada dokumen tersebut. Ada watermark, ada emboss di bagian tertentu, serta jejak stempel yang terlihat melalui analisis pencahayaan dan lensa kamera. Dari hasil pengamatan itu, ia menyimpulkan bahwa ijazah Joko Widodo memang autentik alias asli.
Yang menarik, Rismon juga secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada publik, serta kepada Jokowi dan keluarganya.
Dalam dunia akademik, sikap seperti itu sebenarnya hal yang wajar. Ilmu pengetahuan memang berjalan dengan cara seperti itu: diuji, dikritik, lalu dikoreksi. Tetapi di ruang publik yang penuh perdebatan, perubahan sikap seperti ini sering terasa seperti adegan kejutan di akhir film.
Sementara itu, Pak Jokowi menyampaikan bahwa ia telah memaafkan Rismon. Namun urusan hukum terkait laporan sebelumnya tetap diserahkan kepada pengacara dan pihak kepolisian.
Drama ini juga memperlihatkan satu hal yang menarik: betapa cepatnya arah diskusi publik bisa berubah. Tokoh yang sebelumnya berada di barisan pengkritik seperti Eggi Sudjana dan Rismon kini sudah menarik pernyataannya, mengakui kekeliruan, dan meminta maaf.
Tinggal beberapa nama yang masih bertahan pada posisi awal, seperti Roy Suryo dan Dokter Tifa.
Namun tentu saja, tidak semua orang langsung sepakat. Dalam dunia perdebatan publik, selalu ada yang tetap berdiri di posisi awal. Itu sudah seperti hukum alam media sosial: kalau ada sepuluh pendapat, biasanya akan muncul sebelas perdebatan.
Begitulah kehidupan diskusi di negeri ini. Kadang terasa seperti pertandingan bulu tangkis yang tidak pernah benar-benar selesai. Shuttlecock terus bolak-balik di udara: kadang dipukul oleh peneliti, kadang oleh politisi, kadang juga oleh warganet yang komentarnya lebih cepat daripada smash pemain profesional.
Bagi kita yang menonton dari pinggir lapangan, mungkin tugasnya sederhana saja: membaca dengan tenang, berpikir jernih, dan sesekali tersenyum melihat betapa dramatisnya perjalanan sebuah isu.
Dan tentu saja… jangan lupa menyeruput kopi.
Karena di negeri ini, perdebatan bisa panjang.
Tapi kopi selalu membantu kita tetap santai.












