OPINI & ANALISIS

Rocky Gerung Masuk Istana: Kursinya Resmi, Kritiknya Jangan Mati

91
×

Rocky Gerung Masuk Istana: Kursinya Resmi, Kritiknya Jangan Mati

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: I.A.B.

 

Bang, seruput dulu kopinya. Pelan-pelan saja. Sebab cerita kali ini agak bikin dahi berkerut. Rocky Gerung yang biasanya berada di luar istana, sekarang resmi menjadi orang istana.

Bukan karena salah masuk pintu. Bukan pula karena mau berteduh dari hujan.

Rocky masuk karena dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres.

Selama ini kita mengenalnya sebagai filsuf, pengamat politik, mantan dosen filsafat UI, sekaligus salah satu suara yang cukup lantang mengkritik pemerintah. Kalimatnya kadang bukan cuma bikin orang berpikir. Bisa membuat otak manusia biasa seperti komputer zaman dulu: baru dinyalakan, kipasnya sudah bunyi, layarnya masih loading.

Rocky dikenal karena kritik-kritiknya. Dari layar televisi, diskusi, seminar, sampai ruang publik, ia sering membedah kebijakan pemerintah dengan bahasa yang kadang membuat pendengar bertanya-tanya: ini sedang mendengar filsafat atau sedang mengikuti ujian?

Kini situasinya berubah.

Dulu Rocky berdiri di luar pagar kekuasaan sambil melihat ke dalam.

Sekarang ia sudah berada di dalam.

Dulu kalau ada kebijakan pemerintah yang dianggap bermasalah, Rocky bisa bicara dari luar istana.

Baca Juga  Bandung Dikhianati? Ketika Tanda Tangan Diplomasi Mengabaikan Konstitusi

Sekarang kalau menemukan masalah, ia punya jalur resmi untuk menyampaikannya langsung kepada Presiden.

Ini sebenarnya menarik.

Sebab Wantimpres bukan klub penggemar presiden. Tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, baik diminta maupun tidak diminta.

Rocky bahkan menegaskan bahwa tugas Wantimpres adalah bersikap kritis terhadap kebijakan.

Nah, kata “kritis” ini penting.

Sebab menjadi orang kritis di luar kekuasaan itu gampang-gampang susah. Kita bebas bicara. Bebas mengomentari. Bebas membuat perbandingan.

Tetapi menjadi kritis ketika sudah duduk di dalam lingkar kekuasaan, ceritanya berbeda.

Di luar kita bisa berkata, “Pak, ini kebijakan keliru!”

Di dalam mungkin harus berkata, “Pak Presiden, izinkan saya menyampaikan pertimbangan. Kalau kebijakan ini diteruskan, ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan.”

Isinya sama-sama kritis.

Cuma tempat duduknya berbeda.

Dan sekarang Rocky punya tempat duduk resmi.

Lebih menarik lagi, Wantimpres punya kewajiban menjaga kerahasiaan isi nasihat dan pertimbangannya.

Nah, ini tantangan tersendiri.

Di zaman WhatsApp, berita belum selesai dibaca sudah masuk tiga grup. Foto belum jelas sudah diberi caption. Informasi baru lima menit sudah punya tujuh versi.

Wantimpres justru harus diam.

Baca Juga  Kisah Pendamping Desa: Antara Pengabdian dan Teka-Teki Putus Kontrak

Jadi kalau nanti Rocky tidak banyak bicara tentang apa yang dibicarakan di ruang presiden, jangan langsung bilang filsufnya kehabisan kata.

Bisa jadi justru sedang menjalankan aturan.

Soal fasilitas juga bukan main-main. Hak keuangan anggota Wantimpres ditetapkan Rp76,5 juta per bulan, dengan fasilitas setingkat menteri.

Kalau teman warung kopi biasanya cukup ditraktir kopi susu dan pisang goreng, teman pertimbangan presiden tentu lain kelas.

Kopinya boleh sama-sama panas.

Tetapi kursinya berbeda.

Namun, jangan sampai perhatian kita berhenti pada gaji dan fasilitas.

Yang lebih menarik adalah paradoksnya.

Rocky Gerung, yang selama ini dikenal sebagai orang yang sering mempertanyakan kekuasaan, sekarang mendapat tugas membantu memberikan pertimbangan kepada pemegang kekuasaan.

Dari luar pagar, masuk ke ruang rapat.

Dari pengkritik kebijakan, menjadi pemberi pertimbangan kebijakan.

Apakah Rocky akan berubah?

Tidak perlu buru-buru menjawab.

Justru kita lihat saja nanti.

Sebab menjadi kritis bukan soal duduk di mana.

Di luar istana bisa kritis.

Di dalam istana juga seharusnya bisa kritis.

Malah kalau kritik bisa langsung sampai ke meja presiden, mungkin manfaatnya lebih terasa.

Tetapi ada satu hal yang menarik untuk kita tunggu.

Baca Juga  Indonesia Adalah Negara Paling Bermoral: Kok Bisa, Ya?

Ketika Rocky dulu mengkritik kekuasaan dari luar, suaranya terdengar ke mana-mana.

Sekarang ketika berada di dalam, suaranya justru harus melewati pintu rahasia.

Mudah-mudahan yang berubah hanya alamatnya.

Bukan keberaniannya.

Dulu Rocky mungkin berkata dari luar, “Coba kebijakan ini dipikirkan lagi.”

Sekarang ia punya kesempatan mengatakan langsung di dalam ruangan, “Pak Presiden, coba kebijakan ini dipikirkan lagi.”

Bedanya cuma satu.

Dulu kita mendengar dari televisi.

Sekarang presiden yang mendengar langsung.

Nah, Bang, ini baru menarik.

Kopi boleh pindah cangkir.

Kursi boleh pindah ruangan.

Orang boleh pindah dari luar pagar ke dalam istana.

Tetapi rasa kritis jangan ikut pindah rumah.

Kalau rasa kritis tetap tinggal, Rocky bukan kehilangan identitas.

Ia justru membawa identitas itu masuk ke dalam ruangan yang selama ini sering ia komentari.

Minum dulu kopinya, Bang.

Kali ini Rocky sudah duduk di istana.

Kita tetap di warung kopi.

Bedanya, beliau sekarang punya akses langsung ke meja presiden.

Kita?

Paling dekat baru meja kasir.

Tapi kalau kopinya kemahalan, tetap boleh kritis.

Asal jangan lupa bayar.