Tapanuli Selatan, TOMBAKRAKYAT.com— Selasa, 12 Mei 2026, menjadi hari yang tidak biasa bagi warga Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di tengah dinginnya udara pegunungan dan beratnya medan pedalaman, masyarakat akhirnya menyaksikan sebuah momen yang selama puluhan tahun hanya menjadi cerita dan harapan.
Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, seorang Bupati Tapanuli Selatan benar-benar datang langsung ke Desa Dalihan Natolu, wilayah terpencil di kecamatan Arse, kabupaten Tapanuli Selatan yang selama ini lebih akrab dengan akses jalan yang begitu sulit dilalui.
Desa Dalihan Natolu sendiri merupakan gabungan dari tiga dusun, yakni Tanoponggol, Nangguluon, dan Aek Nabara. Ketiganya berdiri di kawasan pegunungan dengan posisi menyerupai “dalihan na tolu” atau tungku berkaki tiga, filosofi penting dalam budaya Batak. Mayoritas masyarakatnya hidup sebagai petani dan menggantungkan kehidupan dari hasil kebun di tengah akses yang masih sangat terbatas.
Kedatangan Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menjadi perhatian besar warga. Sebelum menuju Desa Dalihan Natolu, ia lebih dahulu mengunjungi Mastuti Daulae (35) di Sipirok, seorang ibu yang beberapa waktu lalu harus ditandu warga keluar desa demi mendapatkan pertolongan medis.
Perjuangan Mastuti menjadi sorotan banyak pihak setelah dirinya harus dibawa melewati bukit terjal sejauh kurang lebih tujuh kilometer selama sekitar enam jam perjalanan menuju fasilitas kesehatan. Dalam kondisi darurat, warga bergantian memikul tandu menyusuri jalan setapak demi menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya. Sang ibu berhasil selamat setelah mendapat penanganan di RSUD Sipirok, namun bayi yang dikandungnya tidak tertolong.
Peristiwa pilu itu menjadi pengingat bahwa di pelosok Tapanuli Selatan masih ada masyarakat yang harus bertaruh tenaga dan waktu hanya untuk memperoleh layanan kesehatan dasar.

Dalam kunjungannya, Gus Irawan mengaku turut merasakan duka dan keprihatinan atas musibah yang dialami Mastuti Daulae dan keluarga. Menurutnya, kondisi seperti itu tidak boleh dianggap sebagai hal biasa.
Usai dari Sipirok, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Aek Nabara. Medan berat yang harus dilalui memperlihatkan secara langsung bagaimana sulitnya akses masyarakat di wilayah tersebut. Jalan berbatu, tanjakan curam, serta jalur berlumpur menjadi gambaran nyata keseharian warga pedalaman Arse.
Sore harinya, Gus Irawan tiba di Kampung Tano Ponggol yang menjadi pusat pemerintahan Desa Dalihan Natolu. Kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Tapanuli Selatan itu disambut hangat masyarakat yang selama ini merasa hidup jauh dari jangkauan pembangunan.
Bagi sebagian warga lanjut usia, kunjungan itu bahkan terasa seperti sejarah. Sebab selama puluhan tahun, mereka belum pernah melihat seorang bupati datang langsung ke kampung mereka.
Kondisi jalan menuju Aek Nabara dan Tano Ponggol memang masih sangat memprihatinkan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan sebenarnya telah mengusulkan pembukaan akses jalan melalui program TMMD dan Karya Bhakti bersama TNI. Namun, proses perizinan kawasan hutan lindung masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan tidak akan tinggal diam. Upaya peningkatan pelayanan kesehatan terus dilakukan, termasuk penambahan pos kesehatan desa di sejumlah wilayah terpencil.
Pemerintah juga menilai bahwa pelayanan kesehatan yang baik tidak cukup hanya dengan tenaga medis dan bangunan fasilitas. Konektivitas dan akses jalan menjadi faktor penentu, sebab dalam situasi darurat keterlambatan akses bisa menjadi persoalan hidup dan mati.
Kunjungan langsung ke Desa Dalihan Natolu disebut sebagai langkah untuk melihat kondisi nyata masyarakat agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Di balik perjalanan panjang menuju desa terpencil itu, tersimpan harapan besar masyarakat. Mereka berharap suatu hari nanti ibu hamil tidak lagi harus ditandu melewati bukit, warga tidak lagi berjalan berjam-jam demi berobat, dan anak-anak pedalaman bisa merasakan pembangunan yang sama seperti daerah lain.
Hari itu, Selasa 12 Mei 2026, bukan sekadar kunjungan seorang bupati. Bagi warga Dalihan Natolu, itu adalah tanda bahwa kampung mereka akhirnya benar-benar terlihat.
(IAB)












