OPINI & ANALISIS

MBG: “Makan Bergizi Gratis” atau “Misteri Belanja Gede-Gedean”?

20
×

MBG: “Makan Bergizi Gratis” atau “Misteri Belanja Gede-Gedean”?

Sebarkan artikel ini

TOMBAKOPINI: IAB

 

Sebelum melanjutkan cerita ini, seruput dulu kopinya, Bang. Kalau perlu tambah gorengan satu piring. Sebab cerita yang datang dari Badan Gizi Nasional (BGN) beberapa hari terakhir benar-benar membuat banyak orang bingung menentukan ekspresi wajah. Mau melongo sudah, mau ternganga juga sudah. Tinggal kurang memasang subtitle: “Sedang memproses informasi: Apakah MBG masih berarti “Makan Bergizi Gratis”, atau diam-diam sudah berubah menjadi “Misteri Belanja Gede-gedean”, bahkan yang lebih seram lagi, “Maling Berkedok Gizi”.

 

Awalnya publik mendengar kabar bahwa Presiden Prabowo dikabarkan marah. Lalu muncullah berita bahwa Dadan Hindayana yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekah dipanggil pulang ke Indonesia.

 

Baru tiba, besoknya langsung dicopot bersama para wakilnya dari Badan Gizi Nasional.

 

Publik belum selesai mencerna kabar itu.

 

Malam harinya, kantor BGN digeledah Kejaksaan Agung.

 

Publik mulai mengucek mata.

 

Besok sorenya lagi, Rabu (3/6), Kejaksaan Agung resmi menahan mantan Kepala BGN, Haji Dadan Hindayana. Dua mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, juga ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2025–2026.

 

Baca Juga  Ikan Cere: Imigran Amerika Utara yang Berkoloni di Got

Kalau mengikuti alurnya, banyak orang mungkin merasa ketinggalan episode. Baru selesai membaca berita pertama, berita berikutnya sudah muncul. Baru selesai berdiskusi, muncul perkembangan baru lagi.

 

Menurut dugaan penyidik, terdapat intervensi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen sehingga Kerangka Acuan Kerja tidak disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

 

Lalu muncullah daftar belanja yang sukses membuat publik berkali-kali mengecek ulang judul berita.

 

Ada sekitar 21 ribu motor listrik senilai Rp1 triliun.

 

Ada 32 ribu pasang sepatu yang diduga tidak sesuai ketentuan.

 

Ada lebih dari 31 ribu tablet yang juga disebut bermasalah.

 

Dan yang paling ramai diperbincangkan adalah pengadaan 5.400 unit televisi ukuran 75 inci.

 

Di Nah, di titik ini rakyat mulai curiga jangan-jangan mereka salah membuka berita.

 

Karena yang sedang dibahas, setahu mereka, adalah Program Makan Bergizi Gratis.

 

Yang terbayang mestinya nasi, telur, ayam, sayur, susu, buah, atau minimal sendok dan piring.

 

Bukan televisi yang ukurannya bisa membuat ruang tamu mendadak terasa seperti bioskop mini.

 

Media sosial pun langsung ramai.

 

Orang-orang yang kemarin menjadi pakar sepak bola, analis politik, dan pengamat cuaca mendadak berubah menjadi ahli pengadaan barang dan jasa. Timeline dipenuhi hitung-hitungan. Grup WhatsApp keluarga berubah menjadi ruang diskusi anggaran negara.

Baca Juga  Demokrasi Tanpa Sertifikat: Ketika Hak Warga Terganjal Alas Hak Tanah

 

Bahkan ada yang bercanda bahwa rakyat Indonesia memiliki bakat luar biasa. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, jutaan orang bisa lulus menjadi auditor kehormatan tanpa pernah mengikuti pelatihan.

 

Namun di balik segala candaan itu, publik sebenarnya sedang geram.

 

Yang sedang dipersoalkan bukan proyek biasa.

 

Yang disentuh adalah program yang berkaitan langsung dengan kebutuhan anak-anak Indonesia.

 

Program yang seharusnya menjadi investasi masa depan bangsa justru tersandung dugaan penyimpangan anggaran.

 

Muncul kesan seolah ada orang-orang yang melihat kotak makan siang anak sekolah bukan sebagai sarana memperbaiki gizi, melainkan sebagai peluang mencari keuntungan.

 

Di situlah letak persoalannya.

 

Rakyat mungkin bisa memaafkan banyak hal. Jalan berlubang bisa ditambal. Gedung rusak bisa diperbaiki. Sistem yang berantakan bisa dibenahi.

 

Tetapi ketika urusan makan anak-anak mulai dikaitkan dengan dugaan permainan anggaran, kesabaran publik biasanya jauh lebih tipis daripada kerupuk yang dicelup terlalu lama ke kuah.

 

Dan tampaknya kali ini kemarahan itu bukan hanya milik rakyat.

Baca Juga  Restorasi Kebijakan Dana Desa: Dispermasdes Kendal Ambil Langkah Strategis di Tengah Pemangkasan Anggaran Pusat

 

Prabowo terlihat sedang memegang sapu besar. Pesannya seolah cukup jelas. Siapa pun yang dianggap mengotori program MBG harus siap menghadapi konsekuensinya. Mau orang dekat, orang lama, pejabat tinggi, atau siapa pun yang merasa aman di balik jabatan, semuanya sedang diingatkan bahwa tidak ada karpet yang cukup besar untuk menyembunyikan sampah ketika sapu sudah mulai bekerja.

 

Pada akhirnya, rakyat sebenarnya tidak meminta sesuatu yang rumit.

 

Mereka hanya ingin uang negara benar-benar berubah menjadi makanan bergizi yang sampai ke tangan anak-anak. Tidak tersesat di tengah jalan. Tidak berubah menjadi pesta pengadaan. Dan tidak berubah menjadi cerita yang membuat orang mengelus dada sambil berkata, “Lho, kok bisa?”

 

Jadi mari lanjutkan menyeruput kopi, Bang.

 

Sebab melihat kecepatan perkembangan ceritanya, bukan tidak mungkin sebelum kopi di cangkir habis, episode berikutnya sudah tayang.

 

Dan rakyat hanya berharap satu hal: semoga MBG tetap berarti Makan Bergizi Gratis, bukan berubah menjadi “Misteri Belanja Gede-gedean”, apalagi “Maling Berkedok Gizi”. Karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar anggaran negara, melainkan masa depan anak-anak Indonesia.

Penulis: Irwan Alimuddin Batubara, S.Sos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *