KENDAL,TOMBAK RAKYAT.COM – Di tengah dinginnya malam dan sesaknya Gedung BKR, Teater Rinai in Tetes Mula resmi mengukuhkan diri sebagai salah satu komunitas teater di Kabupaten Kendal melalui pementasan naskah “Mengapa Kau Culik Anak Kami” karya Seno Gumira Ajidarma.
Pementasan yang digelar Sabtu, 22 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB ini disaksikan hampir 100 penonton.Mengambil naskah berlatar era 80-90an, Teater Rinai sengaja memilih lakon tersebut dengan pertimbangan keterbatasan sumber daya dan agar pesan dapat dijangkau khalayak umum, tidak hanya komunitas teater.
Dipoles dengan sentuhan semi komedi, pementasan ini mencoba mengangkat kembali pertanyaan yang hingga hari ini masih relevan: tentang kehilangan, ketidakpastian, dan keberanian untuk bertanya.
Pementasan diawali dengan pembacaan puisi karya NH Dini yang berjudul “Sisa Sebuah Nama” oleh Alafan dan Davik dengan sangat harmonis.
“Di tengah lamunan malam yang dingin, telepon berdering… Lambat laun ia menjelma menjadi teror paling sepi: ketidakpastian,” demikian pembuka yang disampaikan sebelum tirai pementasan dibuka.

Apresiasi dan Catatan Kritis dari Komunitas
Usai pementasan, forum diskusi singkat digelar dan dihadiri sejumlah pegiat teater Kendal.
- Faozan Suwage (Teater Gemblong – Tegal / “warga naturalisasi Kendal”) mengapresiasi keberanian Teater Rinai mengangkat naskah Seno Gumira Ajidarma. Ia menyoroti pentingnya riset lebih dalam tidak hanya pada isi naskah, tetapi juga latar belakang penulisnya.
Faozan juga menyinggung aspek teknis seperti penataan panggung dan properti, serta kapasitas ruang BKR yang dirasa pengap dan kurang mendukung sirkulasi udara. - Abdurrahman Marzuqi Karim (Pegiat komunitas film Kendal) menilai keseluruhan pementasan sudah bagus dan menjadi warna baru bagi iklim teater Kendal.Namun ia mencatat beberapa bagian pementasan terlihat qtersengal, bukan hanya karena kelelahan pemain, tetapi juga karena suhu ruangan yang panas.
- Ali Murtadho / Akar Jerami (Lesbumi Patebon Kendal) menekankan pentingnya sutradara lebih jeli dalam meriset naskah secara utuh.
- Abdullah Khanif (Teater Taksu) mengapresiasi kerja Davik sebagai penata suara yang baru belajar selama 3 hari.
- Aftonil Ato (Teater Atmosfer) menyampaikan selamat kepada Teater Rinai dan berharap munculnya komunitas baru ini tidak berhenti pada euforia sesaat.
Komitmen Belajar dan Bertumbuh
Dini Aryani selaku Pimpinan Produksi menyampaikan bahwa pementasan ini adalah upaya menambah warna di ekosistem seni Kendal. “Masih harus banyak belajar. Terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Sutradara Alafan menyatakan siap menerima segala masukan. Ia mengutip pesan Bapak Aslam Kusatyo: “Bahwa belajar itu hingga akhir hayat.”
Harapan untuk Ekosistem Teater Kendal
Pementasan “Mengapa Kau Culik Anak Kami” menjadi titik mula bagi Teater Rinai.Para pegiat sepakat bahwa kehadiran komunitas baru, meski dengan orang yang itu-itu juga, adalah napas baru bagi Kendal.
Namun keberlanjutan proses kreatif ini menuntut dukungan sarana dan prasarana yang memadai agar karya seniman Kendal dapat tumbuh dan mengakar, bukan hanya menjadi kepuasan sesaat.
Dengan ini, Teater Rinai in Tetes Mula membuka diri untuk kolaborasi dan pembelajaran lebih lanjut demi menghidupkan ruang-ruang dialog melalui seni pertunjukan di Kendal.












